18 April 2010

Aliran Klasik Adam Smith

Ditulis dalam Uncategorized tagged , , , , pada 15:12 oleh petikdua

Deskripsi Pemikiran Adam Smith

Aliran yang dikembangkan oleh Adam Smith kemudian disebut aliran klasik dikarenakan sebetulnya gagasan-gagasan yang dia tulis dan rampungkan sebetulnya telah dibahas sejak lama, sejak masa Yunani Kuno. Misalnya saja soal paham individualism yang dikeluarkan Smith tidak jauh berbeda dengan paham hedonism yang sempat dipopulerkan oleh Epicurus. Begitu pula pendapatnya agar pemerintah memiliki campur tangan yang seminimal mungkin dalam perekonomian (laissez faire-laissez passer), yang dicikal-bakali oleh pemikiran Francis Quesnay sebelumnya. Ada hal yang unik, pada beberapa sumber, konon pemberian nama aliran yang dibawa Smit yakni aliran klasik sebenarnya diberikan oleh Karl Marx sendiri, sebagai sebutan istimewanya untuk musuh bebuyutannya Adam Smith, karena pemikiran-pemikirannya banyak yang sudah klasik.
Dari beberapa pemikir ekonomi terdahulu ada yang sangat besar pengaruhnya bagi diri Smith. Dua diantaranya adalah gurunya sewaktu menuntut ilmu di Universitas Glasgow, yaitu Francis Hutcheson dan teman kuliahnya David Hume. Dari Glasgow ini lah kemudian Smith menerima beasiswa sehingga dapat melanjutkan pendidikan ke Oxford University hingga tahun 1746. Dari tahun 1748 hingga 1751, ia mengajar di Edinburg University, dan pada tahun 1751 hingga tahun 1763, ia melanjutkan mengajar di Glasgow, kampusnya dulu. Selaku dosen di Glasgow, Smith memberikan serangkaian kelas tambahan dalam bidang ilmu social dan kemanusiaan. Bidang yang paling digemari oleh Adam Smith adalah falsafah moral. Tidak mengherankan, bukunya yang pertama : The theory of Moral Sentiments (ditulis tahun 1759), banyak menghubungkan masalah ekonomi dan masalah moral. Buku ini, serta bahan-bahan kuliah yang terdapat di universitas Glasgow kemudian menjadi refrensi penting yang membantu Smith kemudian untuk merampungkan buku berikutnya yang kemudian menjadi sangat terkenal, yakni An Inquiry Into the Nature and Causes of The Wealth of Nation, atau lebih terkenal dnegan sebutan The Wealth of Nation. Buku yang ditulis oleh Smith pada tahun 1776 tersebut dianggap sebagai pancangan pertama tonggak sejarah perkembangan ilmu ekonomi. Oleh sebab itu lah, ia juga diberi gelar “Bapak Ilmu Ekonomi”.
Beri manusia kebebasan dan biarkan mereka melakukan yang terbaik bagi dirinya masing-masing. Pemerintah tidak perlu campur tangan dan alam lah yang akan mengatur hingga semua pihak senang dan bahagia. Hal ini lah yang dipahami oleh Smith yang kemudian menjadi cikal bakal konsep leissez faire-leissez passer dan juga konsep invisible hands yang dipopulerkan Adam Smith.
Perbedaan yang paling dominan antara pola pikir Adam Smith dan kaum fisiokrat terletak pada fktor yang paling dominan yang mempengaruhi perekonomian. Kaum fisiokrat percaya bahwa factor yang paling dominan yang berpengaruh pada perkembangan ekonomi adalah alam, sedangkan Smith meyakini bahwa manusia lah yang memiliki peranan lebih. Logika seperti ini, alam (dalam hal ini tanah) tidak akan berguna apa-apa jika tidak ada manusia yang mengolahnya untuk menghasilkan sesuatu sebagai penyambung kehidupan. Jadi, bias dikatakan alam juga bergantung pada manusia, sehingga manusia lah yang memiliki peranan lebih.
Selain itu, Adam Smith juga sering kali mengkritik kebijakan para kaum merkantilis dalam menetapkan pajak dalam perdagangan luar negeri sehingga untuk bias memasarkan barang Negara A ke Negara B harus membayar pajak yang ditentukan oleh negara. Adam Smith menganggap ini adalah sebuah kerugian bagi para pelaku perdagangan. Smith menawarkan logika seperti ini, jika barang yang dijual negara A jauh lebih murah dan bias dibeli oleh seluruh kalangan, kenapa negara B harus repot-repot untuk menciptakan barang yang sama dengan barang negara A dengan biaya produksi yang lebih mahal. Bukannya justru akan menghemat uang dan tenaga jika membeli langsung pada negara A? Hal ini lah yang kemudian memberikan gambaran pada pihak-pihak yang sepaham dengan Smith untuk kemudian sepakan meminimalisir campur tangan pemerintah, bahkan tidak mengadakan campur tangan pemerintah dalam system perekonomian. Seperti yang dikutip dalam buku The Wealth of Nation,
“it is maxim of every prudent master of a family never to attempt to make at home what it will cost him more to make them than to buy. The tailor doesn’t attempt to make his own shoes, but buys them of the shoemaker. The shoemaker doesn’t attempt to make his own clothes, but employs a tailor … What is prudence of a conduct of every private family, can scarce be folly in that of a great kingdom. If a foreign country can supply us with a commodity cheaper than we ourselves can make it, better buy it of them …”
Individualis yang dikembangkan oleh paham liberal dalam perekonomian klasik bersumber dari paham egoistis yang dimiliki oleh setiap umat dan telah menjadi bahan kegelisahan pemikir-pemikir masa Yunani Kuno. Sikap egoistis yang selalu mementingkan diri sendiri ditakutkan akan memberikan dampak social-ekonomi negative bagi masyarakat, menurut Mandeville. Namun, menurut Smith, egoistis manusia ini justru memberi dampak baik bagi social-ekonomi masyarakat sepanjang ada persaingan bebas. Kembali dalam The Wealth of Nation, Smith menjelaskan,
“If a pin manufacturer tried to charge more than his competitors, they would take away his trade; If a workman asked for more than the going wage, he would not be able to find work; If a landlord sought to exact a rent steeper than another with land of the same quality, he would get no tenants”
Jadi, jika seorang penjual peniti mencoba untuk menetapkan harga yang lebih tinggi dari harga yang ditetapkan pesaingnya (didorong oleh sikap egoisnya untuk kemudian mendapatkan keuntungan yang lebih dari yang lain), bisnisnya pasti akan hancur. Karena pembeli tidak akan membeli pin padanya karena ada penjual yang menjual dengan harga yang lebih murah. Hal-hal seperti ini lah yang kemudian dianggap Smith sebagai pengontrol harga, sehingga harga tersebut akan stabil dengan sendirinya dan terjadinya kesetimbangan dalam pasar karena bantuan invisible hands.
Muncul kemudian pertanyaan, bagaimana mungkin pasar yang berjalan dengan bebas tersebut dengan kepentingan masing-masing individu pelakunya dapat membawa perekonomian pada suatu keseimbangan yang efisien? Untuk pertanyaan ini, Smith selalu menjawab, seperti yang terkutip dalam bukunya, kurang lebih memiliki arti, “Walaupun setiap orang mengerjakan sesuatu didasarkan kepada kepentingan pribadi, ttapi hasilnya bias selaras dengan tujuan masyarakat. Dampak aktivitas setiap individu dalam mengejar kepentingannya masing-masing terhadap kemajuan masyarakat, justru lebih baik dibandingkan dengan tiap orang berusaha memajukan masyarakat.”
Pandangan-pandangan Smith kemudian telah menandai suatu perubahan yang sangat revolusioner dalam pemikiran ekonomi. Di masa sebelumnya, yaitu masa merkantilis, negara ditempatkan di atas individu-individu. Sebaliknya, menurut ajaran klasik dan fisiokrat ini, kepentingan individulah yang mesti diutamakan. Bahkan, tugas negara lah untuk menjamin terciptanya kondisi bagi setiap orang untuk bebas bertindak melakukan yang terbaik bagi diri mereka masing-masing. Bagi penyokong pasar bebas, tak ada jasa yang bias diperbuat oleh seorang umat manusia, kecuali yang dapat membuat dirinya lebih maju.

Telaah Kritis Pemikiran Klasik Adam Smith
Pemikiran Klasik Adam Smith memang lebih banyak berbicara pada segi ekonomi. Namun, saya mengambil pemikirannya untuk coba saya analisis lebih lanjut karena menurut saya, pemikiran ini adalah bibit dari system perekonomian dunia. Selain sebagai bibit system perekonomian dunia, pemikiran ini pun tak pernah berubah, memang sempat ditentang oleh kaum sosialis komunis khususnya Marx dan Engel, tapi system ini tetap menang, bukannya dihapus tapi diperbaiki oleh para pakar ekonomi politik internasional. Seakan pemikiran ini tak pernah mau dilepas, selalu dipercantik wajahnya, baik oleh Malthus, Ricardo, Say, dan paling berpengaruh dalam hal perubahan adalah J. M. Keynes.
Pemikiran klasik Adam Smith, yang sangat terkenal dengan leissez faire-leissez passer dan invisible hands sangat sederhana dan pada tahap awal implementasinya dalam perekonomian masa itu memang sangat efektif. Terlihat dengan jelas bahwa pemikiran yang dikembangkan Adam Smith kala itu berhasil mengangkat perekonomian negara dan kesejahteraan masyarakat kala itu. Seperti yang kita tahu, sebelum pemikiran ekonomi klasik ini diterima dalam masyarakat, dunia berada pada masa merkantilis dimana negara memiliki peranan yang sangat besar dalam penentuan kebijakan ekonominya, perdagangan luar negeri hanya boleh dilakukan oleh pihak negara, sehingga terjadi kesenjangan yang sangat besar dimana saudagar yang pada umumnya juga adalah para negarawan semakin semena-mena dalam hal penguasaan modal.
Hal ini lah yang dibawa oleh Smith dan kaum fisiokratis, bahwa semestinya bukan negara yang mengatur. Setiap individu diyakini memiliki hak masing-masing untuk merasakan kenikmatan. Karena itu, perekonomian adalah bidang yang semestinya harus dibedakan dengan bidang yang lain dalam kehidupan, karena ini bersentuhan langsung pada kehidupan manusia. Perekonomian harus dilepaskan dari intervensi pihak manapun, biarkan semuanya berjalan seperti apa adanya.
Individualis, setiap orang akan memperjuangkan kepentingannya sendiri. Jika ini berjalan dengan maksimal dan sempurna, maka tanpa disadari dan tanpa diminta-minta, akan tercipta suatu keadaan kesetimbangan baik ekonomi dan politik dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini lah yang dipahami Smith, tapi ada hal yang terlupakan dalam pembahasannya yang kemudian disadari oleh Malthus, yakni tingkat pertumbuhan populasi manusia.
Smith tidak memperhitungkan pertumbuhan populasi manusia. Hal tersebut yang saya gambarkan di atas memang memiliki kemungkinan untuk terjadi, namun bagaimana jika pertumbuhan populasi terus meningkat? Dimana penghuni-penghuni baru bumi tersebut akan memperjuangkan hak dan kepentingannya untuk hidup jika sudah tak ada lagi tanah. Mengingat tingkat pertumbuhan tanah tetap dan populasi manusia terus meningkat setiap tahunnya.
Jika korelasi antara tanah dan populasi manusia ini tidak mendapat perhatian, maka Malthus meramalkan bahwa suatu saat nanti akan ada masa dimana individu-individu untuk memperjuangkan hidupnya baik ekonomi maupun politik akan saling memperebutkan tanah, sehingga memicu terjadinya konflik, dan bias saja memicu terjadinya perang.
Selain itu, walaupun sifat egois menurut Smith adalah hal yang positif dalam system mekanisme pasar yang dikembangkannya, tapi saya masih tetap menaruh keraguan akan hal itu. Dalam proses perdagangan, kita tentu melakukan sebuah kegiatan dagang untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Keuntungan ini kemudian akan kita kumpul untuk diinvestasikan dalam bentuk lain. Penginvestasian dalam bentuk lain ini lah yang kemudian bertentangan dengan paham yang disebarkan Smith. Pemikiran Smith tak bisa membendung hasrat setiap orang untuk melakukan yang terbaik bagi dirinya, termasuk untuk menginvestasikan kapitalnya dalam berbagai bentuk, walau itu mengambil ruang lingkup kerja individu lain. Sesungguhnya itu lah yang terjadi pada masa sekarang sehingga orang-orang kaya akan semakin kaya dengan menginvestasikan kapitalnya dalam berbagai bentuk dan orang miskin akan tetap miskin begitu saja atau malah semakin miskin karena tergantung dengan lapangan pekerjaan yang dibentuk oleh orang kaya tadi.
Karena orang miskin tadi tergantung pada lapangan pekerjaan yang dibentuk oleh orang kaya tadi, mengingat orang miskin memang membutuhkan pekerjaan, maka orang kaya yang memiliki modal capital tadi bias saja mengontrol upah yang diberikan pada pekerjanya. Bahkan pada beberapa kasus, para pemodal juga mengambil laba dari upah yang diberikan pada pekerjanya. Dan para pekerja hanya bias diam saja karena mereka berpikiran lebih baik diupah sedikit daripada dipecat dan menganggur.
Deskripsi tadi sebenarnya bukan pembantahan atas pemikiran Smith yang mengatakan bahwa dengan mekanisme pasar, maka pengangguran akan berkurang karena banyak dimanfaatkan sebagai tenaga kerja dalam pasar, melainkan penjelasan bahwa apa yang diramalkan Smith memang benar, tapi terdapat unsure ketidak adilan dan pemaksaan bahkan penindasan dan eksploitasi oleh pihak yang bermodal dan tidak bermodal di sini.
Walaupun setiap orang bergerak dengan kepentingan dirinya masing-masing, tapi tidak ada yang menjamin bahwa proses pemenuhan kebutuhan individu tadi baik dalam bidang politik dan ekonomi tidak merugikan atau memanfaatkan pihak lain. Keluhuran dalam bersikap dan selalu ada maksud lain dalam setiap kegiatan, itulah yang menjadi penyakit para pelaku ekonomi politik internasional saat ini. Sehingga, semangat yang sebenarnya luhur yang dibawa Smith semakin bergeser dari porosnya.
Pemikiran ini mati karena keserakahan yang tidak terbendung. Hal ini terbukti dengan The Great Depresion pada tahun 1930-an. Pada masa itu diyakini sebagai masa kegagalan implementasi pemikiran Smith. Pasar terlalu bebas untuk dilepas dengan orang-orang yang serakah sehingga barang diproduksi terlalu banyak, konsumsi kredit pun sangat tinggi, yang memicu terjadinya inflasi yang besar.
Muncullah kemudian Keyness dengan pemikirannya yang lagi-lagi mempercantik wajah ekonomi klasik yang dikembangkan Smith, menurutnya, untuk mengontrol laju perekonomian, dibutuhkan campur tangan negara sebagai pengontrol dan pengawas, agar semuanya terkendali dan tetap pada jalurnya. Walaupun teori ini terbantahkan pada tahun 1970-an karena lagi-lagi terjadi depresi saat itu, tapi pemikiran ini cukup membantu pada proses penyelamatan pemikiran Smith dari The Great Deppresion 1930.
Sebenarnya, jika kita analisis dengan lebih seksama pemikiran klasik Adam Smith ini, untuk masa sekarang, sudah tidak relevan lagi untuk digunakan karena sudah terlalu banyak pembantahan-pembantahan yang terungkap dari kegagalannya. Namun, entah mengapa para pemikir ekonomi politik dunia tetap saja melanjutkan semangat perdagangan bebas dan liberalisasi walaupun dalam wajah yang lain dan terus saja mempercantik pemikiran Smith ini. Bahkan, tak jarang dari berbagai organisasi internasional yang ada di dunia, negara-negara berkembang dipaksa untuk mengikuti pola piker liberalisasi ekonomi. Dapat dilihat dari bagaimana negara-negara berkembang didoktrin sedemikian rupa untuk mengembangkan pembangunan wilayahnya walaupun belum siap sehingga mesti meminjam uang pada badan moneter internasional.
Negara-negara berkembang seakan tak punya pilihan lain selain mengikuti pola yang memang telah dibentuk sejak berabad lalu sehingga bagaimana agar pola komando itu tetap dipegang oleh mereka yang berada di belahan barat bumi yang dianggap sebagai kelompok negara maju. Sempat ada penentangan dari kaum sosialis komunis dengan pemikiran Marx dan tokoh-tokoh yang menjadi pengikutnya, tapi pemikiran ini tidak mendapat perhatian lebih oleh para pihak yang memegang kendali.
Pemikiran Marx dan Engels dengan teori sosialis komunis nya semestinya memiliki peluang untuk diyakini secara lebih luas kala system mekanisme pasar mengalami kegagalan terbesarnya pada Great Depresion tahun 1930-an, tetapi ternyata tidak demikian. Sistem yang berkembang dari pemikiran Smith yang sudah jelas gagal bukannya ditinggalkan melainkan dipercantik oleh pakar-pakar ekonomi lain untuk menyelamatkan system liberalisasi itu sendiri. Bahkan sekarang, negara-negara yang tadinya memiliki paham sosialis komunis yang sangat bertentangan dengan paham liberal lambat laun berubah wajah juga menjadi liberal. Hal seperti ini yang dialami Rusia dan Cina. Dan sayangnya, realita seperti ini semakin meyakinkan dunia bahwa untuk berkembang dalam bidang ekonomi, kita harus mengikuti tatanan perekonomian global yang telah dikonsep sedemikian rupa, seakan tak ada pilihan lain.
Wajah ekonomi politik klasik yang dikembangkan Adam Smith dengan Liberalisasi seakan tak pernah padam, hanya berubah wajah yang membuatnya tak lekang oleh waktu.

3 Komentar »

  1. puspa berkata,

    arti fisiokrat apa ya?

    • petikdua berkata,

      sependek yang saya tahu,mba puspa, fisiokrat itu adalah aliran pemikiran yang menjadi salah satu inspirasi Smith untuk mengembangkan aliran klasiknya..
      aliran ini pun mengembangkan kebebasan ekonomi sebagai sebuah konsep yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi, tapi bedanya dengan pemikiran klasik Smith, kaum fisiokrat menganggap bahwa alam memiliki pengaruh yang cukup besar dan merupakan potensi ekonomi yang sangat berpengaruh..

  2. ikha berkata,

    apakah ada tokoh lain yang mengembangkan pemikiran dari adam smith? kalaupun ada, siapakah mereka itu?
    terimakasih…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

huruf kecil

saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus.

ishaksalim

Just another WordPress.com site

jembatan merah

sejarah-budaya-pembangunan

kata.cerita.kita

karena tulisan itu selalu bersuara dengan tintanya, meski kita sudah tiada

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: