23 Agustus 2011

Analisis Teori dan Konsep Ketahanan Pangan dan Keterkaitannya terhadap Krisis Pangan Global dalam Ilmu Hubungan Internasional

Posted in Uncategorized tagged , , , , , at 14:57 oleh petikdua

Ketahanan pangan seringkali diidentikkan dengan suatu keadaan dimana pangan tersedia bagia setiap individu setiap saat dimana saja baik secara fisik, maupun ekonomi. Ada tiga aspek yang menjadi indikator ketahanan pangan suatu wilayah, yaitu sektor ketersediaan pangan, stabilitas ekonomi (harga) pangan, dan akses fisik maupun ekonomi bagi setiap individu untuk mendapatkan pangan .
Definisi mengenai ketahanan pangan (food security) memiliki perbedaan dalam tiap konteks waktu dan tempat. Istilah ketahanan pangan sebagai sebuah kebijakan ini pertama kali dikenal pada saat World Food Summit tahun 1974 . Setelah itu, ada banyak sekali perkembangan definisi konseptual maupun teoritis dari ketahanan pangan dan hal-hal yang terkait dengan ketahanan pangan. Diantaranya, Maxwell , mencoba menelusuri perubahan-perubahan definisi tentang ketahanan pangan sejak World Food Summit tahun 1974 hingga pertengahan dekade 1990-an. Menurutnya, perubahan yang terjadi yang menjelaskan mengenai konsep ketahanan pangan, dapat terjadi pada level global, nasional, skala rumah tangga, dan bahkan individu. Perkembangannya terlihat dari perspektif pangan sebagai kebutuhan dasar (food first perspective) hingga pada perspektif penghidupan (livelihood perspective) dan dari indikator-indikator objektif ke persepsi yang lebih subjektif .
Maxwell dan Slatter pun turut menganalisis diskursus mengenai definisi ketahanan pangan tersebut. Mereka menemukan bahwa ketahanan pangan berubah sedemikian cepatnya dari fokus terhadap ketersediaan-penyediaan (supply and availability) keperspektif hak dan akses (entitlements). Sejak tahun 1980-an, diskursus global ketahanan pangan didominasi oleh hak atas pangan (food entitlements), resiko dan kerentanan (vulnerability).
Secara formal, setidaknya ada lima organisasi internasional yang memberikan definisi mengenai ketahanan pangan. Definisi tersebut dianggap saling melengkapi satu sama lain, diantaranya :
a. First World Food Conference 1974, United Nations, 1975
“Ketahanan pangan adalah ketersediaan pangan dunia yang cukup dalam segala waktu… untuk menjaga keberlanjutan konsumsi pangan…, dan menyeimbangkan fluktuasi produksi dan harga.”

b. FAO (Food and Agricultural Organization), 1992
“Ketahanan pangan adalah situasi dimana semua orang dalam segala waktu memiliki kecukupan jumlah atas pangan yang aman dan bergizi demi kehidupan yang sehat dan aktif.”
c. Bank Dunia (World Bank), 1996
“Ketahanan pangan adalah akses oleh semua orang pada segala waktu atas pangan yang cukup untuk kehidupan yang sehat dan aktif.”
d. OXFAM, 2001
“Ketahanan pangan adalah kondisi ketika setiap orang dalam segala waktu memiliki akses dan kontrol atas jumlah pangan yang cukup dan kualitas yang baik demi hidup yang sehat dan aktif. Ada dua kandungan makna yang tercantum disini, yakni ketersediaan dalam artian kualitas dan kuantitas, dan akses dalam artian hak atas pangan melalui pembelian, pertukaran, maupun klaim.”

e. FIVIMS (Food Insecurity and Vulnerability Information and Mapping Systems), 2005
“Ketahanan pangan adalah kondisi ketika semua orang pada segala waktu secara fisik, sosial, dan ekonomi, memiliki akses atas pangan yang cukup, aman, dan bergizi, untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi (dietary needs) dan pilihan pangan (food preferences) demi kehidupan yang aktif dan sehat.”

Akhirnya, dari beberapa rumusan mengenai definisi ketahanan pangan menurut berbagai lembaga pangan diatas, dapat disimpulkan bahwa ketahanan pangan adalah suatu kondisi yang menjamin ketersediaan produksi pangan, lancarnya distribusi pangan, dan mampunya masyarakat memperoleh dan memilih pangan yang sehat untuk kehidupannya.
2. Keterkaitan Ketahanan Pangan dengan Krisis Pangan
Ketahanan pangan harus dilihat sebagai suatu sistem. Dari segi ekonomi, ketahanan pangan terdiri dari tiga subsistem yang saling terkait. Tiga subsistem tersebut, yaitu pasokan, distribusi, dan konsumsi. Dari segi kelembagaan, ketahanan pangan tercapai melalui sinergi antara subsistem individu atau keluarga, subsistem masyarakat, dan subsistem pemerintah. Mekanisme subsistem ini dihubungkan dengan berbagai aspek pembangunan lain seperti pertanian, transportasi, teknologi, sumberdaya alam dan lingkungan, perdagangan, kesehatan, dan pendidikan. Oleh karena itu, ketahanan pangan bukan hanya sekedar pemenuhan produksi makanan, tetapi merupakan persoalan yang lebih kompleks, yang memiliki perspektif pembangunan dan ekonomi politik .
Maxwel pun mengemukakan bahwa setidaknya terdapat empat elemen ketahanan pangan berkelanjutan (sustainable food security) di level keluarga, yaitu:
a. Kecukupan pangan yang didefinisikan sebagai jumlah kalori yang dibutuhkan unutk kehidupan yang aktif dan sehat,
b. Akses atas pangan, yang didefinisikan sebagai hak (entitlements) untuk berproduksi, membeli atau menukarkan (exchange) pangan ataupun menerima sebagai pemberian (transfer),
c. Ketahanan yang didefinisikan sebagai keseimbangan antara kerentanan, resiko, dan jaminan pengaman sosial,
d. Fungsi waktu manakala ketahanan pangan dapat bersifat kronis/kritis, transisi, dan/atau siklus.
Pencapaian ketahanan pangan pun bisa diukur dengan menggunakan dua indikator yang dirumuskan oleh Maxwell dan Frankenberger , yaitu:
a. Indikator proses, terbagi:
i) Indikator ketersediaan, yaitu indikator yang berkaitan dengan produksi pertanian, iklim, akses terhadap sumberdaya alam, praktik pengelolaan lahan, pengembangan institusi, pasar, konflik regional, dan kerusuhan sosial.
ii) Indikator akses pangan, yaitu indikator yang meliputi sumber pendapatan, akses terhadap kredit modal, dan strategi rumah tangga unutk memenuhi kebutuhan pangan.
b. Indikator dampak, terbagi:
i) Indikator langsung, yaitu konsumsi dan frekuensi pangan.
ii) Indikator tidak langsung, yaitu penyimpangan pangan dan status gizi.
Ketahanan pangan adalah pilihan politrik di tingkat global dan nasional, tetapi merupakan persoalan hidup atau mati di tingkat lokal dan keluarga. Hal ini terutama terjadi di negara yang kaya akan sumberdaya hayati, bahan pangan, serta pengetahuan yang beragam dan sistem budaya . Dalam hal ini, ketahanan pangan tidak hanya segala hal yang berkaitan dengan sumberdaya alam, sumberdaya manusia, ketersediaan air, iklim, dan segala hal yang sifatnya alami.
Ketahanan pangan sesungguhnya sangat erat kaitannya dan berpengaruh besar terhadap sektor produksi suatu negara, yang kemudian berpengaruh pada devisa suatu negara, yang akan dimanfaatkan dalam sektor ekspornya, dan akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi suatu negara. Selain itu, ketahanan pangan pun sangat erat kaitannya dengan kebijakan-kebijakan politik suatu negara, tentang persetujuan kerja sama antar aktor dalam sektor pangan, kebijakan-kebijakan pembangunan, dan pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan dalam suatu sistem. Berangkat dari pemahaman tersebut, sehingga ketahanan pangan menjadi salah satu wacana yang cukup berpengaruh dalam bidang ekonomi politik.
Dalam bidang ekonomi politik, konsep ketahanan pangan diharapkan menjadi suatu solusi kemiskinan. Kemiskinan kini telah menjadi perhatian utama dunia internasional, bisa dibuktikan dari dijadikannya semangat “pemberantasan kemiskinan” sebagai target utama Millenium Development Goals (MDGs). Kelaparan adalah salah satu fenomena yang menggambarkan kemiskinan suatu wilayah atau komunitas.
Tidak semua kelaparan bisa dikenali. Ada kelaparan yang tersembunyi (hidden hunger) yang dampaknya tidak langsung muncul seperti kelaparan yang kelihatan (hunger) . Kelompok yang terakhir akan mudah dideteksi, misalnya pada saat musim kemarau, paceklik, bencana alam, atau perang. Namun, ternyata kelaparan kentara akibat hal tersebut jumlahnya kecil. Sedangkan kelaparan tersembunyi adalah kelompok jenis kelaparan yang susah dideteksi. Selain tidak mengenal waktu, jenis ini bisa muncul kapan dan dimana saja, tidak peduli kaya atau miskin. Untuk jenis kelaparan tidak terlihat, dibedakan lagi menjadi empat macam, yaitu kurang energi dan protein (gizi buruk), kekurangan zat besi, kekurangan zat iodium, dan kekurangan vitamin A.
Dalam fenomena kemiskinan, hampir mustahil kebutuhan gizi bisa dipenuhi. Lebih mustahil lagi untuk mewujudkan keamanan pangan bagi masyarakat. Hal ini dikarenakan keamanan dan ketahanan pangan merupakan mata rantai yang panjang, sejak lahan pertanian, berlanjut disejumlah pengolahan, hingga distribusinya, baru ke konsumen. Tidak semua mata rantai bisa dikontrol oleh orang miskin. Hal ini lah yang kemudian dikenal dengan fenomena krisis pangan. Michael H. Glantz mengidentikkan ketahanan pangan dengan krisis pangan. Dengan tercapainya krisis pangan, maka fenomena krisis pangan secara tidak langsung pun teratasi.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

huruf kecil

saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus.

ishaksalim

Just another WordPress.com site

jembatan merah

sejarah-budaya-pembangunan

kata.cerita.kita

karena tulisan itu selalu bersuara dengan tintanya, meski kita sudah tiada

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: