23 Agustus 2011

Analisis Teori dan Konsep Organisasi Internasional dan Pengelompokan serta Peranannya dalam Ilmu Hubungan Internasional

Ditulis dalam Uncategorized tagged , , pada 15:04 oleh petikdua

Jika ditinjau dari segi historis, gagasan pemikiran organisasi internasional sebenarnya sudah ada sejak zaman Yunani Kuno, dimana pada saat itu tengah berkembang sistem negara-kota di Yunani Kuno (Ancient Greece) . Hal ini bisa dibuktikan dari tulisan Thuycides yang menulis tentang Perang Peloponesia (431-404 SM) antara Sparta dan Athena. Dalam tulisannya ini, digambarkan hal-hal seperti perundingan, perjanjian, aliansi, dan pola kerja sama, serta adanya ketergantungan pertahanan-keamanan regional, yang kesemuanya tersebut bisa dikatakan sebagai bentuk sederhana dari kerja sama internasional yang selalu dibutuhkan dalam organisasi internasional.
Pada era Yunani Kuno, sempat ada perkumpulan yang disebut Liga Amphictyonic (Amphictyonic League) yang merupakan negara kota di Yunani pada saat itu. Karena merupakan perkumpulan aktor-aktor yang terdapat pada masa itu, dan memiliki tujuan yang sama, dapat dikatakan bahwa Liga Amphictyionic merupakan model pertama dari bentuk organisasi internasional . Walaupun, tujuan dari perkumpulan tersebut agak berbeda dengan beberapa perkumpulan dan organisasi internasional dewasa ini, yaitu bersifat keagamaan dengan tetap berusaha untuk mempertahankan tempat yang dianggap oleh ke-12 negara-kota dan wilayah kesukuan tersebut sebagai tempat yang suci.
Banyak anggapan bahwa organisasi internasional dan kerjasama internasional mulai tumbuh setelah perjanjian perdamaian Westphalia pada 1648. Perjanjian ini cukup dikenal sebagai tahap awal diakuinya sistem negara bangsa dan perimbangan kekuatan yang hingga kini masih diterapkan dan cukup dominan dalam interaksi hubungan internasional.
Kerja sama diakui sebagai sebuah ikatan antar dua atau lebih pihak atau aktor dengan tujuan yang sama. Proses kerja sama yang lebih spesifik dalam Ilmu Hubungan Internasional seringkali dikenal dengan istilah Administrasi Internasional. Sedangkan wadah yang menjadi tempat bekerja sama melaksanakan administrasi internasional, dikenal Organisasi Internasional.
Pada tahun 1919, disepakati sebuah perjanjian yang dikenal Perjanjian Versailles. Perjanjian ini kemudian diejawantahkan dalam sebuah Liga Bangsa-Bangsa (LBB). Perjanjian ini dilatarbelakangi oleh suasana dan keadaan dunia internasional pada saat itu yang sangat menegangkan. Konflik dalam bentuk perang menghiasi hampir setiap interaksi aktor internasional. Konflik ini dikenal dengan istilah Perang Dunia I (PD I). Oleh karena itu, negara-negara yang sadar kemudian berkumpul membicarakan tujuan bersama untuk mewujudkan perdamaian dalam interaksi internasional. Tujuan tersebut, dalam prosesnya jelas membutuhkan wadah, maka dibuatlah sebuah Liga, salah satu bentuk atau jenis organisasi, yang dikenal Liga Bangsa-Bangsa (LBB).
Namun, dalam prosesnya, ternyata kepentingan aktor-aktor yang terlibat dalam interaksi internasional pasca dibentuknya LBB cukup dominan dan berpengaruh negatif pada interaksi antar-mereka. Keinginan untuk menjadi lebih hebat dan lebih berkuasa dari aktor lain kemudian memicu konfik pada saat itu. Konflik ini yang kemudian disebut Perang Dunia II (PD II).
Adanya LBB ternyata tidak cukup menjawab tujuan beberapa negara yang tergabung sebagai anggota untuk mewujudkan perdamaian internasional. Hal ini terjadi karena masih lemahnya LBB secara struktural dan peranan negara yang masih cukup besar dan dominan dalam interaksi internasional. LBB hanya dijadikan sebagai perkumpulan negara-negara yang bertujuan menjaga perdamaian saja. Namun, dalam praktiknya, masih banyak negara yang belum bisa mengendalikan kepentingan nasionalnya untuk menjadi lebih dari negara lain atau bahkan menguasai sistem internasional yang beranggotakan negara-negara lain.
Perang Dunia II pun dianggap berakhir seiring dengan konferensi di San Fransisco pada tahun 1945. Konferensi ini kemudian menghasilkan Perjanjian San Fransisco pada tahun 1945 yang intinya memutuskan untuk didirikannya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) . PBB pada dasarnya merupakan sebuah organisasi yang bertujuan sama dengan LBB. Namun, secara struktur organisasi, PBB bersifat lebih mengikat dan lebih memiliki peranan dalam dunia internasional sebagai sebuah organisasi atau lembaga internasional. Hal ini dipelajari dari kelemahan LBB sebelumnya.
Seiring dengan struktur organisasi yang jelas dan bersifat lebih mengikat terhadap negara-negara anggotanya, PBB dianggap sudah memiliki peran tersendiri dalam dunia internasional. Ini kemudian menjadi latar belakang sehingga organisasi internasional cukup terlihat dalam interaksi-interaksi internasional. Selain itu, organisasi internasional pun cukup memiliki peranan internasional. Sehingga, aktor internasional yang sebelumnya sangat didominasi oleh sistem negara mulai sedikit bergeser dengan menerima beberapa aktor lain dalam sebuah interaksi internasional seperti organisasi internasional, organisasi pemerintah dan atau non-pemerintah yang melintasi batas negara, perusahaan-perusahaan internasional, dan individu.
Dalam Ilmu Hubungan Internasional, Ada beberapa definisi yang menjelaskan tentang organisasi internasional, diantaranya,
a. Daniel S. Cheever dan H. Field Haviland Jr ,
“Any cooperative arrangement instituted among states, usually by a basic agreement, to perform some mutually advantageous functions implemented through periodic meetings and staff activities.”
(Pengaturan bentuk kerja sama internasional yang melembaga antara negara-negara, umumnya berlandaskan suatu persetujuan dasar, unutk melaksanakan fungsi-fungsi yang memberi manfaat timbal-balik yang diejawantahkan melalui pertemuan-pertemuan dan kegiatan-kegiatan staf secara berkala.)

b. May Rudy ,
“Pola kerja sama yang melintasi batas-batas negara, dengan didasari struktur organisasi yang jelas dan lengkap serta diharapkan atau diproyeksikan untuk berlangsung serta melaksanakan fungsinya secara berkesinambungan dan melembaga guna mengusahakan tercapainya tujuan-tujuan yang diperlukan serta disepakati bersama, baik antara pemerintah dan pemerintah, maupun antara sesama kelompok non-pemerintah dari negara-negara yang berbeda.”

c. Pareira Mandalangi ,
“Organisasi internasional memiliki arti ganda, yakni dalam arti luas dan sempit. Organisasi dalam arti luas maksudnya adalah organisasi yang melintasi batas negara (internasional) baik bersifat publik maupun privat, sedangkan organisasi dlam arti sempit adalah organisasi internasional yang hanya bersifat publik.”

d. T. Sugeng Istanto ,
“Yang dimaksud dengan organisasi internasional dalam artian luas adalah bentuk kerja sama antar pihak yang bersifat internasional dan untuk tujuan yang bersifat internasional. Pihak-pihak yang bersifat internasional itu dapat berupa orang perorangan, badan-badan bukan negara dari berbagai negara, atau pemerintah negara. Adapun yang menyangkut tujuan internasional adalah tujuan bersama yang menyangkut kepentingan berbagai negara.”

Secara sederhana, dari beberapa bantuan definisi di atas, dapat dirumuskan bahwa organisasi internasional merupakan suatu organisasi yang baik gerak, maupun pelakunya melintasi batas sebuah negara, berangkat dari kesepakatan masing-masing anggota untuk bekerja sama, memiliki regulasi yang mengikat anggota, dan untuk mewujudkan tujuan internasional tanpa meleburkan tujuan nasional dari masing-masing anggota dari organisasi internasional yang bersangkutan.
2. Jenis-jenis dan Pengelompokan Organisasi Internasional
Secara lebih spesifik, organisasi internasional memiliki jenis dan pengelompokan yang beragam tergantung dengan pendekatan apa kita melihatnya. Clive Archer, seorang ahli Ilmu Hubungan Internasional, mengspesifikkan organisasi internasional dalam tiga spesifik besar, yaitu berdasarkan keanggotaan, tujuan dan aktivitas organisasi, dan berdasarkan struktur organisasi .
Pengspesifikasian Organisasi Internasional menurut Clive Archer berdasarkan keanggotaan maksudnya bahwa organisasi internasional dewasa ini tidak hanya didominasi oleh aktor negara saja. Seiring dengan kompleksitas global, dimana kebutuhan untuk bekerja sama satu sama lain menjadi semakin besar, dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendukung, mendorong aktor-aktor non-negara, termasuk individu, untuk menjalin konektivitas satu sama lain untuk bekerja sama termasuk dalam sebuah organisasi internasional.
Organisasi Internasional yang berdasarkan keanggotaan terbagi lagi menjadi dua spesifik besar, yaitu Intergovernmental Organizations (IGOs) dan Transnational Organizations (TNOs). IGOs adalah kelompok organisasi internasional yang keanggotaannya berasalh dari negara-negara yang berdaulat, atau bisa juga beranggotakan negara bagian dari sebuah federasi tapi dengan syarat mendapatkan izin dari negara induknya. Sedangkan, TNOs kemudian terbagi lagi menjadi beberapa kelompok kecil, diantaranya:
a. Genuine NGOs (Genuine Non-Governmental Organizations); kelompok TNOs yang anggotanya hanya terdiri dari aktor non-negara.
b. Hybrid NGOs (Hybrid Non-Governmental Organizations); kelompok TNOs yang anggotanya terdiri dari aktor negara dan non-negara.
c. TGOs (The Transgovernmental Organizations); adalah kelompok TNOs yang anggotanya terdiri dari pemerintah-pemerintah tetapi tidak diatur oleh kebijakan-kebijakan politik luar negeri negara asal dari masing-masing pemerintah tersebut.
d. BINGOs (Bussiness International Non-Governmental Organizations); adalah kelompok TNOs yang lebih dikenal dengan istilah MNCs (Multi National Corporations), merupakan badan usaha raksasa yang cabangnya tersebar di negara-negara di dunia, sehingga kadang regulasi perusahaannya lebih kuat dari regulasi dasar negara tempatnya berusaha, atau bahkan mempengaruhi perumusan regulasi di sebuah negara.
Selain berdasarkan keanggotaan, ada lagi spesifikasi lain yang dibuat oleh Clive Archer, yaitu berdasarkan tujuan dan aktivitas bersama, serta berdasarkan struktur organisasi internasional. Berdasarkan logika organisasi, jika beberapa aktor atau pihak memutuskan untuk bekerja sama, terlebih bersama untuk bergabung dalam suatu organisasi internasional, pasti memiliki tujuan yang sama untuk diwujudkan bersama. Permasalahan kemudian, dalam proses aktivitas organisasi, ada beberapa kemungkinan yang muncul, diantaranya:
a. Kemungkinan untuk terbentuknya hubungan kerja sama antar aktor,
b. Kemungkinan untuk meminimalisir konflik dari hubungan kerja sama yang terbentuk,
c. Kemungkinan untuk terjadinya hubungan konfrontasi, yang sering menjadi akhir dari sebuah organisasi internasional jika dimanfaatkan oleh pihak tertentu yang berharap lebih.
Pengspesifikasian terakhir dari Clive Archer, yakni berdasarkan struktur organisasi internasional. Pasca abad ke-20, struktur global semakin kompleks, yang kemudian diikuti oleh berbagai aktor global, termasuk organisasi internasional. Pengspesifikasian berdasarkan struktur ini, lebih didasarkan pada bagaimana power setiap anggota dan bagaimana pengaruh power tersebut terhadap struktur organisasi internasional. Power dalam sebuah organisasi internasional seringkali dikaitkan dengan proses pengambilan kebijakan. Hal ini terkait dengan sistem hak suara. Ada berbagai sistem hak suara yang sering diapakai dalam sebuah organisasi internasional, misalnya konsep one man one vote (majority voting), hak veto, unanimity voting, dan ada pula konsep ‘siapa yang berkontribusi banyak, besar pula hak suaranya’ (weighted voting).
Ada lagi pengelompokkan organisasi internasional yang didasarkan oleh berbagai macam hal lain menurut Teuku May Rudy . Dalam bukunya, “Administrasi dan Organisasi Internasional,” May Rudy mengumpulkan berbagai macam pengelompokan organisasi internasional berdasarkan,
a. Kegiatan Administrasi,
i) Organisasi Internasional Antar Pemerintah (Inter-Governmental Organization) atau sering disingkat IGO. Contohnya: PBB, ASEAN, SAARC, OAU (Organization of African Unity), NAM (Non Aligned Movement), dan lain-lain.
ii) Organisasi Internasional Non-Pemerintah (Non-Governmental Organization) atau sering disingkat NGO. Contohnya: IBF (International Badminton Federation), ICC (International Chambers of Commerce), Dewan Masjid Sedunia, Dewan Gereja Sedunia, Perhimpunan Donor Darah Sedunia, dan lain-lain.
b. Ruang Lingkup (Wilayah) Kegiatan dan Keanggotaan,
i) Organisasi Internasional Global. Contohnya: PBB, OKI, GNB.
ii) Organisasi Internasional Regional. Contohnya: ASEAN, OAU, GCC (Gulf Cooperation Council), EU (European Union), SAARC (South Asian Association for Regional Cooperation).
c. Bidang Kegiatan (Operasional) Organisasi,
i) Bidang Ekonomi. Contohnya: KADIN Internasional (International Chamber of Commerce), IMF, Bank Dunia.
ii) Bidang Lingkungan Hidup. Contohnya: UNEP (United Nation Environmental Program).
iii) Bidang Kesehatan. Contohnya: WHO, IDF (International Dental Federation).
iv) Bidang Pertambangan. Contohnya: ITO (International Timber Organization).
v) Bidang Komoditi (Pertanian dan Industri). Contohnya: IWTO (International Wool Textile Organization), ICO (International Coffee Organization).
vi) Bidang Bea-Cukai dan perdagangan Internasional. Contohnya: GATT (General Agreement on Tariffs and Trades), WTO, dan lain-lain.
d. Tujuan dan Luas-Bidang Kegiatan Organisasi
i) Organisasi Internasional Umum. Contohnya: PBB.
ii) Organisasi Internasional Khusus. Contohnya: OPEC (Organization for Petroleum Exporting Countries), UNESCO (United Nation Educational, Science, and Cultural Organiazation), UNICEF (United Nation International Children’s Emergency Fund), ITU (International Telecommunication Union), UPU, (Universal Postal Union), dan lain-lain.
e. Ruang Lingkup (Wilayah) dan Bidang Kegiatan
i) Organisasi Internasional; Global-Umum. Contohnya: PBB.
ii) Organisasi Internasional; Global-Khusus. Contohnya: OPEC, ICAO (International Civil Aviation Organization), IMCO (International Mistral Class Organization), ITU, UPU, UNESCO, WHO, FAO, dan juga Palang Merah Internasional (ICRC).
iii) Organisasi Internasional; Regional-Umum. Contohnya: ASEAN, EU, OAS (Organization of American States), OAU, SAARC, GCC, Liga Arab.
iv) Organisasi Internasional; Regional-Khusus. Contohnya: AIPO (ASEAN Inter-Parliamentary Organization), OAPEC (Organization of Arab Petroleum Exporting Countries), PATA (Pacific Area Tourism and Travel Association).
f. Taraf Kewenangan (Kekuasaan)
i) Organisasi Supra-Nasional. Maksudnya, kewenangan organisasi internasional berada diatas kewenangan sebuah negara Bentuk organisasi seperti ini belum pernah terealisasikan dalam sejarah dunia modern. Hal ini dikarenakan sistem dunia sekarang menganut sistem ‘banyak negara’ (multi-state system) dimana masing-masing negara berdaulat dan sederajat satu sama lain.
ii) Organisasi Kerja Sama (Co-Operative Organization). Kedudukan dan kewenangan dalam bentuk organisasi ini sederajat. Ada banyak sekali contohnya, seperti PBB, ASEAN, OKI, OPEC, dan lain-lain.
g. Bentuk dan Pola Kerja Sama
i) Kerja Sama Pertahanan Keamanan (Collective Security). Contohnya: NATO (North Atlantic Treaty Organization).
ii) Kerja Sama Fungsional. Bentuk kerja sama ini hampir sama dengan pengelompokan yang berdasar kerja sama. Karena setiap anggota akan memutuskan untuk bekerja sama jika mereka mendapat keuntungan bagi mereka satu sama lain. Contohnya sangat banyak, misalnya PBB, ASEAN, OKI, OPEC, SAARC, OAU, GCC, dan lain-lain.
h. Fungsi Organisasi
i) Organisasi Politikal (Political Organization). Contohnya: PBB, ASEAN, SAARC, NATO, ANZUS (Australia, New Zealand, and United States), OAU, Liga Arab, dan lain-lain.
ii) Organisasi Administratif (Administrative Organization). Contohnya: UPU, ITU, OPEC, ICAO, ICRC.
iii) Organisasi Peradilan (Judicial Organization). Contohnya: Mahkamah Internasional (International Court of Justice) dan ICC (International Criminal Court).

3. Fungsi dan Peranan Organisasi Internasional dalam Hubungan Internasional
Setiap organisasi internasional tentu memiliki peranan dan fungsinya masing-masing. Berikut beberapa peran dan fungsi internasional menurut para ahli.
Le Roy Bannet dalam bukunya “International Organization” mengemukakan bahwa,
“As adjuncts of the state system, international organizations can and do play a number of significant roles. Their chief function is to provide the mean of cooperation among states in areas in which cooperation provides advantages for all or a large number of nations. In many cases they furnish not only a place where decisions to cooperate can be reached but also the administrative machinery for translating the decisions into action. Another function is to provide multiple channels of communication among governments so that areas of accommodation may be explored and easy access will be available when problem arise.”

Dari penjelasan Lee Roy Bennet di atas, fungsi organisasi internasional dapat disimpulkan:
a. Sebagai sarana kerja sama antar-negara dalam bidang-bidang dimana kerja sama tersebut dapat memberi manfaat atau keuntungan bagi sejumlah negara.
b. Sebagai tempat atau wadah untuk menghasilkan keputusan bersama.
c. Sebagai sarana atau mekanisme administratif dalam mengejawantahkan keputusan bersama menjadi tindakan nyata.
d. Menyediakan berbagai saluran komunikasi antar-pemerintah sehingga penyelarasan lebih mudah tercapai.
Pakar lainnya, Clive Archer, secara tegas membedakan antara peran dan fungsi organisasi internasional. Peran organisasi internasional menurutnya adalah,
a. Instrumen (alat/sarana), yaitu untuk mencapai kesepakatan, menekan intensitas konflik, dan menyelaraskan tindakan.
b. Arena (forum/wadah), yaitu untuk berhimpun berkonsultasi dan memprakarsai pembuatan keputusan secara bersama-sama atau perumusan perjanjian-perjanjian internasional (convention, treaty, protocol, agreement, dan lain-lain).
c. Pelaku (aktor), bahwa organisasi internasional juga bisa merupakan aktor yang autonomous dan bertindak dalam kapasitasnya sendiri sebagai organisasi internasional dan bukan lagi sekedar pelaksanaan kepentingan anggota-anggotanya.
Selanjutnya, fungsi internasional menurut Archer, yaitu sebagai berikut:
a. Artikulasi dan agregasi kepentingan nasional negara-negara anggota,
b. Menghasilkan norma-norma (rejim),
c. Rekrutmen,
d. Sosialisasi,
e. Pembuatan keputusan (role making),
f. Penerapan keputusan (role application),
g. Penilaian/penyelarasan keputusan (rule adjunction),
h. Tempat memperoleh informasi,
i. Operasionalisasi, misalnya pelayanan teknis, penyediaan bantuan, dan lain-lain.
Sepak terjang organisasi internasional dalam interaksi hubungan internasional telah mengantarnya menjadi salah satu aktor yang cukup berpengaruh dalam dialektika interaksi antar-aktor Hubungan Internasional. Lain hal nya dengan aktor negara yang pasti memiliki politik luar negeri yang kemudian menjadi kepentingan nasional sebuah negara untuk selalu dipegang dalam setiap proses interaksi internasional, organisasi internasional tidak memiliki politik luar negeri. Namun, organisasi internasional bisa menjadi instrumen bagi pelaksanaan kebijakan luar negeri negara-negara anggotanya. Adapun peranan organisasi internasional dalam politik dunia menurut Pentland (dalam Little and Smith, 1991 : 242-243), yaitu:
a. Sebagai instrumen dari kebijakan luar negeri negara-negara anggota,
b. Untuk mengatur perilaku dan tindakan negara-negara anggota,
c. Bertindak berdasar keputusannya sebagai aktor/lembaga yang mandiri (otonom).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

huruf kecil

saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus.

ishaksalim

Just another WordPress.com site

jembatan merah

sejarah-budaya-pembangunan

kata.cerita.kita

karena tulisan itu selalu bersuara dengan tintanya, meski kita sudah tiada

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: