29 September 2013

Tinjauan Kritis atas Sketsa Tradisi Pemikiran Realisme dalam Ilmu Hubungan Internasional Menurut Jakson dan Sorensen

Ditulis dalam Uncategorized tagged , , , , , pada 22:04 oleh petikdua

Sumber:

Robert Jackson and Georg Sorensen. (2007). Introduction to International Relation: Theories and Approaches. New York: Oxford University Press

Chapter III : “Realism”, page: 59-96

 

Artikel ini adalah critical review penulis tentang bagaimana Robert Jackson[1] dan George Sorensen[2] menjelaskan Realisme dalam Ilmu Hubungan Internasional. Tulisan yang ditinjau terdapat pada BAB III dalam buku berjudul Introduction to International Relation: Theories and Approaches yang disusun bersama oleh Jackson dan Sorensen pada tahun 2007. Buku ini merupakan pengantar yang komprehensif tentang teori, konsep, dan perdebatan yang paling penting dalam Ilmu Hubungan Internasional. Sebagai salah satu pemikiran yang cukup lama bertahan dalam dialog akademik Ilmu Hubungan Internasional, Realisme menjadi sudut pandang yang penting dan berpengaruh dalam menguji, menjelaskan, dan memprediksikan interaksi antar aktor internasional dalam situasi dunia yang terus berkembang. Oleh karena itu, critical review ini pun menjadi penting, untuk tetap menjaga perkembangan pemikiran dalam Ilmu Hubungan Internasional, khususnya pemikiran Realisme. Dalam artikel ini, ada dua fokus peninjauan kritis yang akan ditekankan oleh penulis, yaitu (1) penjelasan Jackson dan Sorensen tentang pemikiran Realisme, dan (2) dasar spesifikasi tradisi pemikiran yang dirumuskan Jackson dan Sorensen dalam menganalisa asumsi dasar Realisme dalam Ilmu Hubungan Internasional.

Sketsa Tradisi Pemikiran Realisme oleh Jackson dan Sorensen

Realisme diyakini sebagai salah satu pemikiran dasar dalam Ilmu Hubungan Internasional, selain Liberalisme. Ada beberapa tahapan dialektika pemikiran dalam Ilmu Hubungan Internasional, dan dari beberapa sumber (Hadi, 2008; Steans and Pettiford, 2009; Jackson and Sorensen, 2007; Jurnal Global Vol.9 No.2, Desember 2007-Mei 2008), bahwa pemikiran Realisme seringkali menempati posisi khusus dan jelas dalam dialektika tersebut.

Sebagai sebuah pemikiran dasar dan sudah bertahan lama, ada beberapa perkembangan dalam teori dan konsep yang juga digunakan untuk perkembangan interaksi internasional yang belum memiliki fomula pasti. Jackson dan Sorensen merumuskan tradisi pemikiran Realisme Ilmu Hubungan Internasional dalam dua kelompok besar; Klasik dan Kontemporer. Menurutnya, pemikiran realisme klasik menekankan analisisnya bahwa aspek normatif dalam Ilmu Hubungan Internasional juga terdapat dengan jelas pada aspek empiris dalam interaksi antar-aktor internasional.

Untuk pemikiran Realisme Klasik, Jackson dan Soren masih memberi pengelompokan antara Pemikiran Realisme Klasik dan Neoklasik. Thucidydes (1972) dengan cerita “Peloponnesian War” dan konsep dunia anarki[3], Machiavelli (1984) “power (the lion) and deception (the fox)” dengan konsep tentang aspek normatif dalam aplikasi kepentingan nasional sebuah negara[4], dan Hobbes (1946) yang mengajak kita mengenal konsep security dilemma[5] dikelompokkan dalam pemikiran Realisme Klasik.

Karakter dasar dari pemikiran Realisme Klasik menurut Jackson dan Sorensen[6], yaitu: (1) Kondisi manusia adalah kondisi yang tidak aman dan berkonflik yang harus diperhatikan dan dihadapi; (2) terdapat kumpulan pengetahuan politik, atau kebijaksanaan, untuk menghadapi masalah keamanan, dan masing-masing pemikir realis klasik ini mencoba untuk mengidentifikasi elemen pokoknya. Sederhananya, karakter tersebut menggambarkan kondisi permanen kehidupan manusia. Sehingga, bagi Jackson dan Sorensen, tidak ada jalan keluar bagi permasalahan politik, termasuk politik internasional.

Pemikiran pesimistik ini kemudian menjadi pemicu Morgenthau (1965) dalam pemikiran Realisme Neoklasiknya. Ada banyak konsep yang bermunculan dalam dinamika pemikiran ini, diantaranya “Politic is a struggle for power[7]”, dan etika politik[8] yang dijabarkan dalam enam prinsip realisme politik hasil kembangan Baca entri selengkapnya »

30 Juni 2013

Cinta Cerita Cita

Ditulis dalam Uncategorized tagged , pada 23:26 oleh petikdua

Rintik hujan petang itu seperti tahu saja kalau akan ada diskusi indah malam ini. Di salah satu sudut Kabupaten Gowa, rumahku, saat masjid kompleks sudah berlagu indah dengan doa-doa menuju waktu Maghrib, hujan berhenti. Pesan singkat bertema mengajak dari kawanku Winda yang merupakan salah satu penulis buku yang akan dibedah malam ini di Warkop Al-Dina mendorong semangatku. Saya dan beberapa kawan pejuang cinta akan membedah buku Mozaik Cinta karya A. Zulkarnain dan Winda Junita Ilyas di salah satu titik Jalan Perintis Kemerdekaan. Jarak 15 km lebih dari rumah tidak memberatkan langkah beranjak. Isu BBM yang baru saja naik harga jadi Rp 6.500,- saya alihkan sejenak, pagar rumah kututup, kendaraanku melaju.

***

Mozaik Cinta

Bedah buku yang direncanakan mulai pukul 19.00 WITA molor, tapi saya lebih molor lagi. Saat tiba, parkiran sudah penuh. Hanya ada sekitar 3 mobil, sisanya motor-motor berjejer tidak beraturan sebagai sebuah parkiran. Selain tidak ada tukang parkir, semangat untuk tidak ketinggalan semenit pun bedah buku Mozaik Cinta juga jadi penyebab, kata seorang kawan yang saya tanya tentang motornya yang diparkir begitu saja di area pendakian yang tidak rata menuju pintu Warkop Al-Dina.

Pukul 19.30 WITA acara ini dimulai. Saya tiba sekitar pukul 20.08 WITA. Prolog diskusi sudah kulewatkan. Saya tiba saat Bapak Drs. Edi Sutarto, M. Pd. (selanjutnya saya tulis Pak Edi) tengah memaparkan opini indahnya. Pak Edi menyumbangkan nasihat pernikahan untuk Winda dan Zul dalam sebuah tulisan berjudul “Perjalanan Menuju Pelangi” yang dimuat dalam BAB IV Buku Mozaik Cinta. Direktur Sekolah Islam Athirah ini ternyata juga memiliki jiwa sastra yang indah. Ini tergambar dari diksi indah dan bermakna yang dirangkainya baik dalam tulisan, maupun lisan.

“…saat diminta menulis nasihat pernikahan, aku masuk melalui wilayah metafor.Hal ini tidak sekedar agar berbeda dengan nasihat dari yang lainnya, tapi aku lebih berusaha menghargai kecerdasan keduanya. Wilayah metafor adalah wilayah yang memiliki lapis makna. Jadi, semakin cerdas seseorang, maka akan mendapat makna dari lapis terdalam bila membacanya.”[1]

Saat beropini di depan peserta, Pak Edi sangat semangat. Ada beberapa mahasiswa yang berkelakar, “saat muda, Pak Edi ini kalau bukan aktivis teaterikal, dia pasti orator!”. Kawan-kawan lain yang mendengarnya sontak ketawa kecil. Topik pembicaraan, Cinta, yang seringkali membawa suasana mellow, malam ini punya nuansa lain. Indahnya Cinta tidak hanya diselimuti oleh kelembutan, romantisme, atau kemanjaan semata. Dalam bedah buku Mozaik Cinta kali ini, kita berdiskusi tentang Revolusi Sosial yang berangkat dari Cinta. Baca entri selengkapnya »

1 Maret 2013

Adaptasi Warga Pesisir Pulau Kei Kecil Menghadapi Perubahan Iklim Global

Ditulis dalam Uncategorized tagged , , , pada 22:31 oleh petikdua

Seluruh bumi akan merasakan dampak perubahan iklim. Uni Eropa dan Amerika Serikat termasuk lima penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca. Baik dari segi industri, maupun gaya hidup konsumerisme masyarakat di kota besar itu.

Di Inggris, salah satu negara di Eropa, sebuah band menunjukkan langkah nyata mereka dalam menjaga nilai musik dan kepekaan lingkungan; Radiohead. Radiohead menyewa konsultan lingkungan; Best Foot Forward Ltd, untuk membuat laporan tentang jumlah karbon yang dihasilkan sepanjang tur mereka di Amerika Utara sejak 2003 hingga 2006. Di saat beberapa aktor global yang malu dan selalu mencari cara sembunyi dari kenyataan besarnya sumbangsih karbon mereka, Radiohead hadir dengan keberaniannya mempublikasikan hal tersebut sebagai sentilan kecil. Setiap kegiatan jelas berpotensi untuk menyumbang karbon pada dunia, tinggal bagaimana kita sebagai konsumen bisa tetap kritis dalam menjaga iklim global yang masih dibutuhkan oleh generasi berikutnya.

Pada Juli 2007, perusahaan tersebut menerbitkan  “The Ecological Footprint and Carbón Audit of Radiohead North American Tours, 2003 dan 2006”. Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa total dampak dari kedua turnya mencapai 11.368 ton CO2 dengan area penelitian ekologi seluas 4.557 ha. Sejak itu, Radiohead mengusahakan bermusik dengan meminimalisir karbon yang dihasilkan dengan cara penerangan hemat energi, penggunaan barang-barang daur ulang untuk gelas minum, kertas poster, foto, dan lirik lagu, juga meminimalisir penggunaan barang-barang plastik. Gerakan Radiohead ini hanya sebagian kecil dari upaya mitigasi di Eropa yang masih saja menjadi lima penyumbang terbesar emisi CO2. Sedangkan, beberapa negara berkembang seperti Indonesia tergolong paling rentan terkena dampak bencana dari perubahan iklim, terutama kepulauan kecil di Indonesia bagian timur.

Sebuah lembaga yang didirikan pada tahun 1942 di Oxford, Inggris, telah memiliki jaringan luas di banyak negara. Oxfam adalah  konfederasi International dari tujuh belas organisasi yang bekerja di 92 negara bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan. Di Indonesia, Oxfam bekerja sejak tahun 1957 untuk mendorong pengentasan kemiskinan melalui kegiatan pengembangan kehidupan berkelanjutan. Di wilayah Indonesia Timur, Oxfam banyak bekerja di area rawan bencana dan desa pesisir untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam adaptasi pengelolaan sumberdaya pesisir dan perubahan iklim.

***

Di Kepulauan Kei, wilayah Kabupaten Maluku Tenggara, masyarakat di pesisir barat pulau ini menyaksikan perubahan garis pantai di kampung mereka yang kian tergerus. Pada tahun 1960an, di Desa Wab Ngufar dan Watngil masih terdapat bentangan pasir sekira 30 meter ke arah laut yang ditumbuhi tanaman tandan dan semak belukar. Pada tahun 1970an, garis pantai mencapai barisan pertama permukiman lama, sehingga satu persatu rumah gantung tersebut  mulai berpindah puluhan meter dari pantai dan membentuk permukiman baru. Sekarang, tersisa 4 rumah di permukiman lama tersebut.

Pada suatu pagi di Bulan Oktober, yang merupakan puncak musim kemarau, dan bertepatan saat meti kei, yaitu saat di mana air laut surut di titik terendah setiap tahunnya, seorang nelayan sedang duduk di atas batu karang datar yang berpasir, tepat di batas air surut. Ia mengamati jaring yang telah dipasangnya sambil menunggu air laut di depannya kian surut. Saya mendatanginya. Walaupun rintik hujan mengguyur kepala, kami tetap asyik berbicara. Ia menjelaskan bahwa cara menangkap ikan seperti yang dilakukannya dinamakan tutup meti. Ikan jarang di depan Tanjung Karang Wab, tetapi banyak di Pulau Tarwa, pulau yang ditempuh selama 15 menit dari Tanjung Karang Wab dengan menggunakan katinting (sampan kayu yang bermesin), jelasnya.

Ketika musim barat tiba dan gelombang air laut tinggi, para nelayan tetap akan menangkap ikan. Musim kemarau di Pulau Kei Kecil semakin panjang dan musim hujannya tinggal 3 atau 2 bulan. Perubahan itu terjadi sejak 15 tahun terakhir, menurut pengamatan nelayan tadi.

***

Image

                              Petani Desa Wab sedang menjemur rumput laut

Image

Rumput Laut tetap dijemur meski intrusi air laut masuk dalam pemukiman

Tahun 2007, Yayasan Nen Mas Il memberi bantuan kepada 15 kelompok petani rumput laut. Setahun setelah pembudidayaan berlangsung, harga beli rumput laut mencapai Rp 13.000,-/kg. Harga sempat mencapai Rp 17.000,-/kg, namun hanya bertahan dua minggu, lalu turun menjadi Rp 8.000,-/kg. Pada bulan November 2011, harga rumput laut turun sebesar Rp 6.500,-/kg. Walaupun harga yang fluktuatif, mereka tetap menggantungkan hidupnya pada rumput laut.

Sehingga pada bulan Mei-Juni tahun 2011, harga enbal – panganan dari ubi beracun yang difermentasi menjadi tepung enbal, yang semula seharga Rp. 20.000/bungkus naik menjadi Rp. 50.000/bungkus selama hampir dua bulan. Pangan lokal utama tersebut menjadi langka.

Hujan yang tidak menentu, menimbulkan penyakit pada rumput laut. Seorang petani rumput laut, Pak Abe Jamlean, mengutarakan, “Pada bulan Oktober-November seharusnya musim kemarau,  tapi sekarang cuaca tidak menentu, hujan-panas saling bergantian. Rumput laut di muka kampung diserang penyakit  ice-ice (penyakit dimana batang rumput laut berlendir dan mudah patah), sehingga panen dilakukan lebih cepat saat berumur 20-30 hari. Cuaca yang tidak menentu juga menyulitkan para nelayan tradisional untuk menentukan waktu melautnya.”

Saat musim barat mulai tiba, jumlah orang yang menanam di meti (laut dangkal) berkurang. Hanya petani di ‘laut biru’ (laut dalam) yang bertahan. Itupun hanya untuk penanaman  bibit. Gelombang dan angin yang membuat tali long line putus menjadi alasan bagi warga untuk menggantung batu sebagai pemberat agar rumput laut tenggelam dan bola pelampung sedikit ke dalam untuk menghindari pecahan ombak. Setelah musim barat berlalu, wilayah meti kembali menjadi ramai ditanami rumput laut.

***

Pada musim timur tahun 2011, petani memakai hitungan ‘orang tua-tua’ untuk menanam kacang hijau, akan tetapi hitungannnya meleset. Pada bulan Maret-April, Meki membantu ayahnya menanam kacang hijau seluas satu hektare. Saat menunggu panen pada bulan Mei-Juni yang seharusnya musim panas, malah musim hujan yang datang. Cuaca tidak menentu ini menyebabkan gagal panen. Di Jawa kekeringan, Maluku Tenggara malah turun hujan.

Penduduk Kei menandai datangnya musim barat dengan istilah musim laur, yaitu saat dimana laur (cacing laut) bermunculan pada saat bulan bundar (purnama) pada Bulan Februari. Warga di beberapa desa pesisir barat Pulau Kei Kecil sudah mempersiapkan diri pada kegiatan Timba Laur yang dilaksanakan setiap tahun. Dalam kegiatan ini, warga ditemani cahaya lampu gas berkelompok menimba laur yang muncul di permukaan air laut dengan jaring atau sarung.

Warga Desa Wab sudah menyeberang ke Pulau Tarwa yang berada di depan kampung sejak sore hari. Sebelum ke Pulau Tarwa, speed yang saya tumpangi menuju ke Pulau Warbal, sekitar lima menit dari Pulau Tarwa. Sebelum mendekati Pulau Warbal, air laut terlihat sudah menggenangi pemukiman di pesisir pantai. Beberapa warga pun menggayung sampan di sekitar permukiman. Karena intrusi, beberapa sumur air tawar warga akhirnya tercampur dengan air laut. Menurut bidan yang bertugas di pulau ini, penyakit yang paling banyak diderita oleh penduduk adalah penyakit ISPA.

Pada tengah malam, hujan  deras disertai angin kencang melanda pulau ini. Para nelayan kembali ke daratan. Tidak ada satu pun yang berani melaut. Sampai dini hari, mereka hanya menambat perahu mesin, sembari mengontrolnya sesekali agar tidak hanyut terbawa arus. Cuaca dimana hujan dan angin semakin kencang disebut mereka dengan istilah musim barat nenek moyang, yaitu musim barat yang sangat ekstrem. Pada pagi hari, semua sampan bermesin terbalik. Hanya speed (perahu modern) besar yang mampu bertahan. Beberapa alat tangkap ikan, penggayung, dan ikan hasil tangkapan hanyut. Bahkan beberapa katinting terpaksa diangkut ke darat untuk diservis.  Matahari mulai bersinar, mereka pun merapikan tenda dan barang bawaan untuk kembali ke kampung Wab.

***

Umumnya, masyarakat di Kepulauan Kei memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan. Mereka masih memiliki kapasitas berupa praktik tata guna lahan darat dan laut yang digunakan secara turun-temurun. Misalnya untuk menjaga mata air di Desa Wab, kawasan hutan dikeramatkan agar tetap terjaga. Namun berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), kawasan tersebut dimasukkan ke Areal Penggunaan Lain (APL), yakni kawasan yang tidak dikategorikan jelas tergolong dalam hutan primer atau sekunder. Sehingga, diperlukan upaya sinkronisasi praktik lokal dengan kebijakan kehutanan kabupaten serta RTRW yang belum disahkan.

Mereka juga mempunyai kapasitas untuk bertani di lahan yang miskin unsur hara dengan mengem­bangkan pangan alternatif yang masih tersedia seperti umbi-umbian. Di Kepulauan Kei juga terdapat hutan sagu (meon) dan beberapa hasil hutan yang dimanfaatkan untuk sayur dan obat-obatan alternatif. Untuk energi alternatif, warga khususnya Ibu rumah tangga memanfaatkan kayu bakar yang masih banyak tersedia di bekas lahan dan hutan.

Penduduk Desa Wab memiliki beragam pekerjaan. Selain bekerja di desa sebagai petani rumput laut, petani darat, dan nelayan, mereka juga bekerja mengerjakan proyek pemerintah atau men­jadi tukang bangunan di kota.

Selain itu, ada beberapa program pemerintah yang berjalan di Desa Wab. Diantaranya, Program Penanaman Pohon Bintanggur dan Ketapang untuk memulihkan garis pantai. Pemerintah dan Angkatan Muda Gereja Wab bekerja sama dalam pelaksanaan ini. Yayasan Nen Mas Il juga bekerja sama dengan warga untuk menanam bakau di sepanjang pantai di sekitar pemukiman. Yang tak kalah pentingnya adalah ikatan sosial adat serta budaya maren (gotong royong) yang masih kuat. Misalnya, saat rumah warga di kampung Wab terkena angin puting beliung, mereka beramai-ramai saling membantu.

***

Image

pemukiman warga pesisir Pulau Warbal, Kepulauan Kei

Image

Warga Pesisir Pulau Kei Kecil

Fenomena Perubahan Iklim sama sekali tidak mengenal batas wilayah. Sebab yang mungkin saja hanya berasal dari satu wilayah sempit dapat berdampak global hingga ke belahan dunia lain. Beberapa aktor penyumbang emisi terbesar seperti tidak punya atau tidak mau keluar dari zona nyaman yang sebenarnya menyesakkan Bumi untuk mempertahankan kenyamanannya bagi masyarakat dunia. Adaptasi warga Penduduk Kei Kecil untuk menghadapi perubahan iklim yang mulai dirasakan dampaknya secara ekonomi, sosial, dan budaya patut menjadi tauladan dunia.  Mereka semangat dalam praktik dan menjaga pengetahuan lokalnya sebagai warga pesisir.

28 Januari 2013

Semangat Maulid dari Pasar Terong

Ditulis dalam Uncategorized tagged , , , , , pada 07:08 oleh petikdua

Tidak afdhol rasanya kalau ke Pasar Terong tanpa ketemu Daeng Nur. Bundanya Pasar Terong. Itu sapaan akrab sekelompok aktivis yang tengah melakukan penelitian dan advokasi di Pasar Terong sejak tahun 2009 dan pedagang-pedagang, khususnya pedagang sektor selatan. Pertama kali saya bertemu dan berkenalan dengannya di sebuah pasar malam pada tahun 2010 di daerah Borong. Tepat di zona jalan tusuk sate antara wilayah Toddopuli dan Borong Raya, ada sebuah area kosong yang cukup lapang untuk pengadaan pasar sementara. Pasar ini kerap kali dipadukan dengan beberapa permainan hebat, seperti odong-odong, bianglala mini, motor-motoran, dan beberapa permainan sulap konvensional.

Hampir semua permainan itu mirip dengan permainan-permainan yang disediakan oleh salah satu tempat liburan andalan anak-anak di Ibukota; Dufan.

Waktu itu ada beberapa anak yang bermain sembunyi-sembunyi (biasa disebut petak umpet) di antara pagar aman bianglala mini. Kebetulan posisi saya berdiri tidak jauh dari situ. Berniat untuk ikut dalam keseruan mereka, saya pun membuka pembicaraan dengan salah satu dari mereka, “Kayak Dufan di’, dek.” Dengan bingung, dia bertanya, “Apa itu, kak?”

Tidak masalah mereka tahu atau tidak, tapi seperti ada perasaan bersalah menanyakan hal itu. Hampir saja saya membuka ruang baginya untuk melihat kesenangan itu dengan imej dan brand tertentu, menurut saya. Mereka hebat.

“Cucuku itu, Nak!” Tegur Bunda padaku.

Kios Bunda sekitar 3 meter dari bianglala mini di pasar malam itu. Di sana lah kami pertama kali bertemu. Saya dan Bunda dikenalkan oleh dua orang teman, Kak Agung dan Kak Randy, yang cukup aktif dalam kegiatan Advokasi Pedagang Pasar Terong yang disebut SADAR (Persaudaraan Pedagang Pasar Terong).

Image

Dg. Nur dan Dg. Gassing, What a Great Couple.. :)

“Bunda itu pejuangnya Pasar Terong!” jelas Kak Agung.

Dengan bangga, Bunda mengiyakannya. “Kalau bukan kita, siapa lagi?” tambahnya.

***

DUA PULUH tahun lebih tinggal di Makassar, sebagian besar orang tua di Kota Makassar memang tidak pernah merekomedasikan anak-anaknya untuk mengunjungi Pasar Terong. Padat, kotor, banyak preman, dan macet adalah deskripsi awal yang diterima beberapa remaja Kota Makassar. Saya salah satunya. Mungkin itu salah satu sebab kenapa saya baru tahu dan melihat keadaan di dalam pasar ini.

Salah satunya, daerah yang diapit oleh sisi selatan Gedung Pasar dan jajaran ruko tingkat dua menyerupai huruf “L” (selanjutnya ditulis: ‘Letter L’). Kini, daerah ini kosong melompong. Pedagang sayur dan buah yang dulu menempati daerah ini dipindahkan sementara ke bagian depan gedung Pasar Terong, di pinggir Jalan Terong.

Jenis pedagang bermodal besar seperti pedagang baju, pakaian dalam, tas dan sepatu menempati gedung di dalam pasar. Di antara kios-kios ini, ada satu lapakan tanpa dinding yang penuh dengan dekorasi khas Maulid. Ada bakul ember, tangkai telur, dan rangka rak warna-warni dengan model unik menghiasi lapak kecil ini. Ternyata itu mililk Dg Nur (selanjutnya ditulis: Bunda). Lapakannya terletak di area luar gedung, mengambil tempat di pinggir jalan masuk pintu selatan gedung pasar, sekitar 5 meter dari ujung tangga pintu selatan Pasar Terong.

Bunda memang sosok yang sangat unik dan penuh percaya diri. Dengan setelan kemeja kotak-kotak ala Jokowi dan celana jins pendek selutut, dipadankan dengan syal rajut merah dan sepatu boot hitam yang biasa dipakai petugas kebersihan kota, dia menyambutku.

Saya datang dengan seorang kawan yang juga aktif di kegiatan advokasi pasar terong ini, Kak Wandy. Kak Wandy langsung menyalami dan mencium tangan Bunda. Cukup lama. Kemudian menanyakan kabarnya. Sama seperti saya, mereka juga sudah cukup lama tidak bertemu.

Kesan pertama melihat Bunda dengan setelan uniknya, langsung terlintas pikiran tentang Pemilihan Gubernur (selanjutnya ditulis Pilgub) Sulawesi Selatan pada 22 Januari 2013 lalu. Kemeja kotak-kotak yang dikenakannya memang ciri khas Jokowi, tapi dalam Pilgub Sulsel 2013 ini, ada salah satu calon yang juga mengenakan kemeja itu sebagai salah satu ciri khasnya; GarudaNa.

“Lewat mi pilgub, Bun!” tegurku sambil menggoda.

“Biar tommi. Nda ada ji hubungannya dengan Pilgub. Kan baju ku ji,” respon Bunda dengan suara lantang andalannya.

Saat kami berkunjung, dia tengah melayani seorang pembeli. Sepertinya pesanan dengan jumlah banyak, karena Bunda sampai pinjam kertas dan pulpen untuk mencatat hal-hal apa yang dibutuhkannya. Ketika orang itu pergi, Bunda pun pamit sebentar. Tanpa ragu dia meninggalkan lapak warna-warninya. Saya sempat mengingatkan, tapi katanya tidak masalah. Semua pedagang lain tahu kalau lapak itu milik Bunda.

Beberapa menit kemudian, dia datang dengan 1 dos penuh ember kecil. Jumlah embernya sekitar 30an. Seperti dugaanku sebelumnya, pembeli tadi ternyata memang memesan bakul Maulid dalam jumlah banyak, tepatnya 50 bakul. Karena jumlah ember yang disediakan Bunda kurang, makanya dia pergi membeli sisanya. Kata Bunda, total pesanan pembeli tadi hampir Rp 1,5 juta dengan harga Rp 30.000 per bakulnya.

Kreativitas Bunda sangat jelas terbukti dari karya-karya dekorasi keperluan Maulid yang dijualnya. Semua barang jualannya dibuat sendiri. Yang dibelinya hanya ember, rotan, lem, dan beberapa kertas hias, seperti kertas minyak, kertas krep, dan kawat-kawat lunak.

Wilayah ‘Letter L’ sektor selatan sedang sepi pedagang. Ada beberapa tukang yang masih bekerja menyelesaikan rangka atapnya. Ada juga beberapa pedagang yang menata barang jualannya dengan memakai terpal plastik sebagai alas. Mereka masih menyebut dirinya pedagang sementara karena memang masih memanfaatkan meja permanen yang dibuat dari susunan batu bata setinggi 50 cm, lebar 50 cm dan panjang sekitar 3 meter.

Sebelulm meja-meja permanen ini dibangun dua bulan lalu, sepanjang sektor selatan gedung pasar ini ramai oleh pedagang buah dan sayur dengan menggunakan meja kayu atau bambu yang mereka siapkan masing-masing. Dua hingga tiga pedagang yang masih tinggal di tempat ini merasa sepi dari pembeli. Tetangga jualan Bunda yang menjual celengan dan beberapa tungku dari tanah liat, misalnya, sudah sangat syukur jika memperoleh Rp.100.000 dalam sehari. Bagi Bunda, kasus seperti ini di Pasar Terong adalah hal biasa. Yang terpenting, sebagai pedagang pasar tidak boleh lengah dan terbuai janji pihak-pihak yang mengaku akan menata. Hal ini lah yang memicu semangat Bunda dan beberapa pedagang tetangga jualannya untuk tetap tinggal dan menjaga tempatnya, meski sepi dan belum layak pakai.

Penataan ruang Pasar Terong, khususnya ‘Letter L’ sektor selatan ini sudah dirombak sejak tahun 2005. Hingga kini, tahun 2013, tempat ini belum juga selesai dan layak pakai. Pengerjaan bangunan yang bertahap selalu menjadi alasan kenapa penataan ini belum selesai. Di sepanjang koridor samping sektor selatan ini terdapat jejeran meja permanen yang saling berhadapan dan masih berlapis semen.

Jejeran meja permanen itu berdampingan dengan jejeran ruko (rumah-toko) Pasar Terong di wilayah selatan. Bangunannya masih bentuk bangunan ruko lama dengan pintu yang tersusun dari beberapa papan yang masing-masing papannya dihubungkan dengan engsel-engsel besi. Pintu-pintu kayu itu terlihat cukup lapuk. Permukaan ruko-ruko itu juga terlihat lebih rendah dari jalanan di depannya yang masih berbentuk timbunan tanah. Sangat rawan untuk musim hujan dan angin kencang akhir-akhir ini. Dibandingkan jejeran meja permanen yang permukaannya cukup kering karena sudah berlantaikan paving blok, daerah ruko ini sangat becek dan banyak sampah yang berserakan.

Bunda bekerja. Serius yang bahagia. :)

Seperti yang sebelumnya sudah diceritakan, Bunda bukan pedagang biasa. Bunda pedagang yang tetap berjuang tidak hanya untuk uang, tapi juga untuk keadilan dan bahagia. Di tengah lapak warna-warninya, dia tampak sangat semangat menghias ember-ember kecil yang baru saja di belinya. Dengan berbekal lem dan beberapa kertas minyak yang sudah digunting memanjang dengan bentuk seperti daun kelapa, Bunda mengubah ember-ember plastik itu menjadi bakul maulid warna-warni yang sangat menarik perhatian. Sisa ditambah beberapa batang rotan yang juga dihias sebagai tempat telur, bakul itu kini bisa dijual dengan harga sekitar Rp 40.000 – Rp 50.000.

Duduk-duduk selama 15 menit bersama Bunda, saya hanya berhasil menyelesaikan 3 bakul, sedangkan dia sudah menyelesaikan sekitar 8 bakul. Di antara beberapa jualannya yang dipajang, ada beberapa rak Maulid yang berbentuk perahu Phinisi’. Rak ini bersusun tiga dengan hiasan yang sangat detail di setiap susunnya. Untuk mengetahui bahan dasar bagian itu apakah terbuat dari rotan atau kawat lunak, kita perlu memperhatikannya dengan lebih teliti.

Rak Maulid model Phinisi’ karya Bunda, Rp 150.000,-

stik rotan maulid model Phinisi’

Ada juga rak-rak Maulid yang dibuat dengan model masjid lengkap dengan kubah-kubah mewahnya. Di antara beberapa rak itu, ada yang terbesar disebutnya Rak Maulid Al Markaz. Setelah saya perhatikan beberapa kali, saya baru sadar, kalau ternyata kubah-kubah itu dibuat dari corong plastik yang biasa digunakan untuk memindahkan minyak tanah atau minyak kelapa. Itu artinya, ketika rak maulid ini telah selesai digunakan, maka bahan-bahan dasarnya seperti ember dan corong minyak itu bisa difungsikan kembali oleh si pembelinya. Betul-betul ide yang sangat bermanfaat dan cukup menguntungkan si pembeli.

Rak Maulid model Masjid Al Markaz karya Bunda, dijual Rp 300.000,-

Dari semua dekorasi perlengkapan Maulid karya Bunda, ada satu yang sangat menarik perhatian dan kekagumanku. Bunda membuat sebuah bakul songkolo’ yang juga digunakan ketika Maulid. Namun, kali ini dengan ember yang berukuran lebih besar dari ember-ember kecil sebelumnya. Ember ini lengkap dengan tutup. Bunda menghiasi seluruh bagian, mulai dari badan, alas, hingga tutupnya. Di bagian tutup, ada bentuk unik seperti kubah masjid bersusun tiga. Saya butuh waktu yang lumayan lama untuk bisa menerka bahan dasar pembuatan menara susun tiga karya Bunda ini. Ternyata, itu dibuat dari botol minuman plastik bekas yang sampahnya banyak berserakan di sekitar Pasar Terong. Ada yang dibuat dari botol bekas minuman teh, jeruk peras, dan minuman soda. Setelah jadi, kita bisa melihat ember plastik yang berubah tampakan jadi masjid megah bermenara tingkat tiga.

Bakul model Masjid 3 Menara karya Bunda. Menaranya dibuat dari bekas botol-botol minuman plastik yang dicuci dan direkatkan di tutup ember. So creative! dijual Rp 125.000,-

Ketika tengah asyik bercerita tentang karya-karya dan cara pembuatan setiap perlengkapan Maulid karya Bunda itu, ada seorang perempuan yang juga pedagang Pasar Terong menanyakan harga rak Maulid jualan Bunda. Bunda menjual salah satu rak nya dengan harga Rp 125.000. Menurut saya, harga itu cukup murah untuk rak cantik bersusun tiga itu. Tapi bunda merelakannya, karena yang bertanya juga sesama pedagang Pasar. Tanpa membayar terlebih dulu, rak itu diambilnya kemudian di bawa ke bagian depan Pasar Terong. Tidak lama, ada lagi pedagang yang datang dan menanyakan Rak Maulid berbentuk Phinisi’ dan Masjid Al Markaz karya Bunda. Bunda menjual Rak Maulid Phinisi’nya dengan harga Rp 150.000, sedang untuk model Masjid Al Markaz, Bunda menjualnya seharga Rp 300.000. Dan seperti pedagang sebelumnya, kedua rak itu langsung di bawa ke bagian depan Pasar Terong. “Kutanyaki dulu pembeliku nah, Bunda,” kata pedagang itu. Bunda hanya mengangguk dan tetap fokus melanjutkan kerjanya menghias bakul-bakul Maulid pesanan.

“Itu mi penjual-penjual ka sekarang. Menjualji saja na tau. Bagaimana mau ko mandiri kalo bergantung ko terus. Toh?” ceritanya memecah keseriusan kami menghias bakul. Mendengarnya, saya hanya tersenyum. Selama menghias, Bunda banyak bercerita tentang pekerjaan. Menjadi pedagang Pasar Terong adalah pilihan hidupnya. Dan apa pun itu, selama memberi kebahagiaan dalam diri dan hati kita, pasti akan berberkah. Tidak usah menjual jika hanya kejar untung saja. Itu salah satu pesan Bunda.

Kalau pedagang-pedagang pasar punya tingkat akademik tersendiri, mungkin Bunda sudah layak memegang gelar Profesor. Dia punya filosofi sendiri tentang berdagang dan dunia pasar, khususnya Pasar Terong. Katanya, Pedagang itu tidak hanya butuh kalkulator. Pedagang juga harus berpikir kritis, apalagi pedagang Pasar Terong. Ada banyak permainan politik yang tidak disadari berlalu-lalang di sekitar pedagang pasar. Hal yang paling dekat dan sangat berpeluang memicu konflik misalnya adalah pembagian tempat. Menjadi pedagang juga melatih keteguhan hati. Kata Bunda, salah satu hal yang dipelajarinya di Pasar adalah bagaimana untuk tetap pada prinsip hidup dan tidak munafik.

Sembari asyik bercerita, 2 pedagang perempuan yang sebelumnya datang mengambil rak-rak Maulid karya Bunda datang membawa uang.

Lakui, Bunda!” katanya dengan senyum yang merekah.

Bah, lain kali belajar ko juga! Sini ku ajarko,” kata bunda dengan nada suara yang menyinggung dan lucu.

Mereka hanya tertawa kecil, kemudian pergi.

Petang hampir berakhir. Susah untuk menyadari waktu tanpa melihat jam karena mendung yang terus menyelimuti langit di Pasar Terong. Kami, saya dan Kak Wandy, pun pamit pada Bunda. Sebelum meninggalkan koridor sektor selatan tempat lapakan Bunda, saya meminta untuk foto bersamanya dikelilingi lapakan warna-warninya. Ketika melihat hasil fotonya dikamera digitalku, dia tersenyum syukur dan kagum, “Ramenya tokoku, di’!”

Dg. Nur, Bundanya Pasar Terong, dengan karya-karya warna-warni gemerlapnya di lapak sederhana yang terletak di dekat tangga pintu selatan gedung Pasar Terong

Dalam perjalanan pulang meninggalkan Pasar Terong Makassar, langit sudah cukup gelap. Doa-doa dari masjid sebagai pengingat bahwa maghrib tinggal beberapa menit lagi sudah terdengar. Meski demikian, kilau warna-warni hiasan perlengkapan Maulid masih menarik pandanganku. Warnanya beragam dan ada di beberapa pelataran ruko dan lapakan yang cukup besar di sepanjang Jalan Terong. Namun, ketika saya perhatikan baik-baik, sepertinya bentuk-bentuk hiasannya hampir sama dengan yang terpajang dan tengah dibuat Bunda di lapakannya di sektor selatan Pasar Terong.

Tidak sengaja, saya melihat salah satu pedagang yang sebelumnya saya lihat membawakan bunda uang hasil jualan rak Maulidnya. Ternyata dia punya kios yang cukup besar tepat di pinggir Jalan Terong yang merupakan pusat lalu lintas di Pasar Terong. Tidak jauh dari situ, saya melihat seorang ibu naik bentor (sebutan salah satu angkutan umum; becak dan motor) dengan membawa rak Maulid tiga tingkat berbentuk Masjid Al Markaz. Saya yakin yang dibelinya itu pasti karya Bunda yang dijual oleh kawan pedagang lain di kiosnya di pinggiran jalan.

Keren ala Dg. Nur, Bundanya Pasar Terong.

Keren ala Dg. Nur, Bundanya Pasar Terong.

Melihatnya, saya tertawa kecil dan langsung mengucap syukur dalam hati. Rezeki memang rahasia Allah SWT. Yang tidak boleh hilang itu semangat untuk belajar, berusaha, dan bersyukur. Ketiga hal ini harus lahir setiap hari. Peringatan Maulidnya harus setiap hari dalam diri dan hati kita masing-masing.[]

4 April 2012

Wajah baru Tassese

Ditulis dalam Uncategorized tagged , , , , pada 00:29 oleh petikdua

Hampir dua tahun saya absen dari desa ini. Banyak hal yang perlu diselesaikan di tempat lain. Ada tanggung jawab yang lebih prioritas untuk ditunaikan terlebih dulu. Yang kemudian membuat rindu untuk menapak jalan ke Tassese semakin menumpuk.
Beberapa kali, saya hanya mendengar cerita dari teman-teman yang sudah berkali-kali pulang-pergi Tassese-Makassar. Sampai ada kalanya saat untuk jauh dan pergi sebentar ketika mereka sedang asyik cerita tentang air terjun Tassimbung dengan pelanginya. Atau tentang nikahan salah satu mantan siswa yang saya lewatkan.
Pertama kali ke sini lagi, sejak hampir dua tahun lalu, saya sedikit asing dengan Desa Tassese. Desa yang dulu jadi tujuan utama kami, para volunteer PILAR, ketika galau atau butuh sedikit tenang jadi asing. Masih di sekitar lereng bukit, daerah ini semakin gersang. Meski akhir-akhir ini saya sering lupa banyak hal, tapi hijau di Tassese tidak pernah hilang dari memori. Dan sekarang, semoga hijau itu tidak menjadi sesuatu yang langka di Tassese.
Ketika menapak jalan di sekitar Bendungan Bili-Bili’, kak Randy, salah satu kawan volunteer PILAR, cerita banyak tentang wajah Tassese sekarang. “Banyak sekarang warga membangun, tham. Hampir semua renovasi rumah jadi rumah batu.” Awalnya, saya pikir itu hanya candaan baru kawan-kawan PILAR, ternyata..
Masuk Desa Mannuju, desa yang terletak sebelum Desa Tassese, saya ditunjukkan sebuah rumah batu kokoh yang megah. Modelnya klasik-tradisional dengan halaman yang luas. Seperti melihat rumah dinas gubernur Sulawesi Selatan, hanya saja dengan bentuk rumah panggung. Namun, tetap terbuat dari bata dan beberapa beton kokoh. Ternyata itu rumah Kepala Desa Tassese.
Jalan beberapa km lagi, batas Desa Tassese sudah menyambut. Ada yang baru, jembatan yang tadinya tersusun dari beberapa batang pohon kelapa sudah berubah rupa jadi jembatan beton. Maaf. Butuh beberapa tahun untuk menyebutnya kokoh. Berhubung, di banyak desa lain, kasus jembatan yang dibangun dengan mengejar hasil fisik dari sebuah proyek biasanya rentan, meskipun sudah tampak kokoh.
Saat masuk ke pusat beberapa dusun di Tassese, saya jadi ingat topik yang menjadi bahan cerita kami sepanjang perjalanan. Ternyata memang benar. Jari tangan saya sudah tidak cukup untuk menghitung jumlah rumah yang sudah berubah bentuk. Ada cukup banyak rumah yang direnovasi. Perubahannya pun tidak setengah-setengah. Jadi rumah batu dengan warna-warna mencolok dan model yang cukup keren. Bahkan lebih wah dari beberapa model rumah di Kota Makassar. Yang paling mencolok, saya lihat sebuah rumah yang tengah dalam pengerjaan. Rumah ini juga sedang direnovasi. Bedanya, dinding rumah ini dihiasi oleh relief-relief berbentuk pepohonan, batang-batangan, dan beberapa kembang yang dibuat dari ukiran semen.
Jika ditinjau lebih jauh, dari bahan baku batu bata, semen, pekerja-pekerja bangunan, dan jarak tempuh yang mesti dilalui truk-truk pengangkut untuk pengerjaan rumah di puncak bukit dekat Bawakaraeng (Desa Tassese) , ini bukan hal yang murah. Dan faktanya, tidak sedikit kepala keluarga yang melakukan perubahan seperti ini. Entah dari hasil panen, warisan, atau tunjangan yang berlebih, tapi perubahan ini sudah cukup menggambarkan kalau beberapa keluarga di Desa Tassese sepertinya sudah sejahtera.
Itu hanya beberapa. Justru karena perubahan yang cukup mencolok di beberapa rumah. Kesenjangan itu semakin nampak. Ada sebuah rumah batu baru yang bersebelahan dengan rumah panggung dengan susunan kayu yang hampir lapuk. Pilar penopangnya pun sudah hampir lari dari pijakannya. Apalagi ketika setiap rumah itu sudah dilengkapi pagar tinggi untuk mengatasi sapi-sapi warga yang masih banyak berkeliaran bebas mencari rerumputan. Untuk membayangkan saja saya tidak tega.
Kesenjangan fisik itu tentu akan berdampak langsung pada kesenjangan sosial. Desa ini kaya akan anak-anak hebat. Entah bagaimana kalau anak-anak ini tumbuh dengan kesenjangan yang tidak disadarinya. Perbedaan kemampuan antara satu hal dengan yang lainnya menjadi pemandangannya sehari-hari. Untungnya, mereka masih tumbuh di desa. Surga alam yang tumbuh dan tengah bertahan. Setidaknya masih ada bantuan untuk meredam bagi mereka yang tengah mengenal diri dan asal.
Secara fisik, Tassese memang mengalami kemajuan pembangunan di beberapa sudut. Kemajuan yang seringkali menjadi kebanggaan desa dan individu yang mengalaminya. Namun, entah kenapa. Hampir dua tahun, dengan semangat, saya dan beberapa teman berjalan ke SATAP Tassese. Sekolah dimana semangat PILAR tumbuh.
Wajah Baru Tassese, dengan rumah-rumah batu yang indah dan kokoh, tapi kenapa siswa tetap saja menghabiskan waktu bercengkrama dan bermain bola saat jam pelajaran?
Tassese memang sedikit berubah, tapi tidak dengan pendidikannya. Semangat mengajar para guru dan informasi penerimaan tenaga honorer di sekolah yang sangat membutuhkan guru ini masih kalah oleh “alam” dan “sistem”.

23 Agustus 2011

Analisis Teori dan Konsep Organisasi Internasional dan Pengelompokan serta Peranannya dalam Ilmu Hubungan Internasional

Ditulis dalam Uncategorized tagged , , pada 15:04 oleh petikdua

Jika ditinjau dari segi historis, gagasan pemikiran organisasi internasional sebenarnya sudah ada sejak zaman Yunani Kuno, dimana pada saat itu tengah berkembang sistem negara-kota di Yunani Kuno (Ancient Greece) . Hal ini bisa dibuktikan dari tulisan Thuycides yang menulis tentang Perang Peloponesia (431-404 SM) antara Sparta dan Athena. Dalam tulisannya ini, digambarkan hal-hal seperti perundingan, perjanjian, aliansi, dan pola kerja sama, serta adanya ketergantungan pertahanan-keamanan regional, yang kesemuanya tersebut bisa dikatakan sebagai bentuk sederhana dari kerja sama internasional yang selalu dibutuhkan dalam organisasi internasional.
Pada era Yunani Kuno, sempat ada perkumpulan yang disebut Liga Amphictyonic (Amphictyonic League) yang merupakan negara kota di Yunani pada saat itu. Karena merupakan perkumpulan aktor-aktor yang terdapat pada masa itu, dan memiliki tujuan yang sama, dapat dikatakan bahwa Liga Amphictyionic merupakan model pertama dari bentuk organisasi internasional . Walaupun, tujuan dari perkumpulan tersebut agak berbeda dengan beberapa perkumpulan dan organisasi internasional dewasa ini, yaitu bersifat keagamaan dengan tetap berusaha untuk mempertahankan tempat yang dianggap oleh ke-12 negara-kota dan wilayah kesukuan tersebut sebagai tempat yang suci.
Banyak anggapan bahwa organisasi internasional dan kerjasama internasional mulai tumbuh setelah perjanjian perdamaian Westphalia pada 1648. Perjanjian ini cukup dikenal sebagai tahap awal diakuinya sistem negara bangsa dan perimbangan kekuatan yang hingga kini masih diterapkan dan cukup dominan dalam interaksi hubungan internasional.
Kerja sama diakui sebagai sebuah ikatan antar dua atau lebih pihak atau aktor dengan tujuan yang sama. Proses kerja sama yang lebih spesifik dalam Ilmu Hubungan Internasional seringkali dikenal dengan istilah Administrasi Internasional. Sedangkan wadah yang menjadi tempat bekerja sama melaksanakan administrasi internasional, dikenal Organisasi Internasional.
Pada tahun 1919, disepakati sebuah perjanjian yang dikenal Perjanjian Versailles. Perjanjian ini kemudian diejawantahkan dalam sebuah Liga Bangsa-Bangsa (LBB). Perjanjian ini dilatarbelakangi oleh suasana dan keadaan dunia internasional pada saat itu yang sangat menegangkan. Konflik dalam bentuk perang menghiasi hampir setiap interaksi aktor internasional. Konflik ini dikenal dengan istilah Perang Dunia I (PD I). Oleh karena itu, negara-negara yang sadar kemudian berkumpul membicarakan tujuan bersama untuk mewujudkan perdamaian dalam interaksi internasional. Tujuan tersebut, dalam prosesnya jelas membutuhkan wadah, maka dibuatlah sebuah Liga, salah satu bentuk atau jenis organisasi, yang dikenal Liga Bangsa-Bangsa (LBB).
Namun, dalam prosesnya, ternyata kepentingan aktor-aktor yang terlibat dalam interaksi internasional pasca dibentuknya LBB cukup dominan dan berpengaruh negatif pada interaksi antar-mereka. Keinginan untuk menjadi lebih hebat dan lebih berkuasa dari aktor lain kemudian memicu konfik pada saat itu. Konflik ini yang kemudian disebut Perang Dunia II (PD II).
Adanya LBB ternyata tidak cukup menjawab tujuan beberapa negara yang tergabung sebagai anggota untuk mewujudkan perdamaian internasional. Hal ini terjadi karena masih lemahnya LBB secara struktural dan peranan negara yang masih cukup besar dan dominan dalam interaksi internasional. LBB hanya dijadikan sebagai perkumpulan negara-negara yang bertujuan menjaga perdamaian saja. Namun, dalam praktiknya, masih banyak negara yang belum bisa mengendalikan kepentingan nasionalnya untuk menjadi lebih dari negara lain atau bahkan menguasai sistem internasional yang beranggotakan negara-negara lain.
Perang Dunia II pun dianggap berakhir seiring dengan konferensi di San Fransisco pada tahun 1945. Konferensi ini kemudian menghasilkan Perjanjian San Fransisco pada tahun 1945 yang intinya memutuskan untuk didirikannya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) . PBB pada dasarnya merupakan sebuah organisasi yang bertujuan sama dengan LBB. Namun, secara struktur organisasi, PBB bersifat lebih mengikat dan lebih memiliki peranan dalam dunia internasional sebagai sebuah organisasi atau lembaga internasional. Hal ini dipelajari dari kelemahan LBB sebelumnya.
Seiring dengan struktur organisasi yang jelas dan bersifat lebih mengikat terhadap negara-negara anggotanya, PBB dianggap sudah memiliki peran tersendiri dalam dunia internasional. Ini kemudian menjadi latar belakang sehingga organisasi internasional cukup terlihat dalam interaksi-interaksi internasional. Selain itu, organisasi internasional pun cukup memiliki peranan internasional. Sehingga, aktor internasional yang sebelumnya sangat didominasi oleh sistem negara mulai sedikit bergeser dengan menerima beberapa aktor lain dalam sebuah interaksi internasional seperti organisasi internasional, organisasi pemerintah dan atau non-pemerintah yang melintasi batas negara, perusahaan-perusahaan internasional, dan individu.
Dalam Ilmu Hubungan Internasional, Ada beberapa definisi yang menjelaskan tentang organisasi internasional, diantaranya,
a. Daniel S. Cheever dan H. Field Haviland Jr ,
“Any cooperative arrangement instituted among states, usually by a basic agreement, to perform some mutually advantageous functions implemented through periodic meetings and staff activities.”
(Pengaturan bentuk kerja sama internasional yang melembaga antara negara-negara, umumnya berlandaskan suatu persetujuan dasar, unutk melaksanakan fungsi-fungsi yang memberi manfaat timbal-balik yang diejawantahkan melalui pertemuan-pertemuan dan kegiatan-kegiatan staf secara berkala.)

b. May Rudy ,
“Pola kerja sama yang melintasi batas-batas negara, dengan didasari struktur organisasi yang jelas dan lengkap serta diharapkan atau diproyeksikan untuk berlangsung serta melaksanakan fungsinya secara berkesinambungan dan melembaga guna mengusahakan tercapainya tujuan-tujuan yang diperlukan serta disepakati bersama, baik antara pemerintah dan pemerintah, maupun antara sesama kelompok non-pemerintah dari negara-negara yang berbeda.”

c. Pareira Mandalangi ,
“Organisasi internasional memiliki arti ganda, yakni dalam arti luas dan sempit. Organisasi dalam arti luas maksudnya adalah organisasi yang melintasi batas negara (internasional) baik bersifat publik maupun privat, sedangkan organisasi dlam arti sempit adalah organisasi internasional yang hanya bersifat publik.”

d. T. Sugeng Istanto ,
“Yang dimaksud dengan organisasi internasional dalam artian luas adalah bentuk kerja sama antar pihak yang bersifat internasional dan untuk tujuan yang bersifat internasional. Pihak-pihak yang bersifat internasional itu dapat berupa orang perorangan, badan-badan bukan negara dari berbagai negara, atau pemerintah negara. Adapun yang menyangkut tujuan internasional adalah tujuan bersama yang menyangkut kepentingan berbagai negara.”

Secara sederhana, dari beberapa bantuan definisi di atas, dapat dirumuskan bahwa organisasi internasional merupakan suatu organisasi yang baik gerak, maupun pelakunya melintasi batas sebuah negara, berangkat dari kesepakatan masing-masing anggota untuk bekerja sama, memiliki regulasi yang mengikat anggota, dan untuk mewujudkan tujuan internasional tanpa meleburkan tujuan nasional dari masing-masing anggota dari organisasi internasional yang bersangkutan.
2. Jenis-jenis dan Pengelompokan Organisasi Internasional
Secara lebih spesifik, organisasi internasional memiliki jenis dan pengelompokan yang beragam tergantung dengan pendekatan apa kita melihatnya. Clive Archer, seorang ahli Ilmu Hubungan Internasional, mengspesifikkan organisasi internasional dalam tiga spesifik besar, yaitu berdasarkan keanggotaan, tujuan dan aktivitas organisasi, dan berdasarkan struktur organisasi .
Pengspesifikasian Organisasi Internasional menurut Clive Archer berdasarkan keanggotaan maksudnya bahwa organisasi internasional dewasa ini tidak hanya didominasi oleh aktor negara saja. Seiring dengan kompleksitas global, dimana kebutuhan untuk bekerja sama satu sama lain menjadi semakin besar, dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendukung, mendorong aktor-aktor non-negara, termasuk individu, untuk menjalin konektivitas satu sama lain untuk bekerja sama termasuk dalam sebuah organisasi internasional.
Organisasi Internasional yang berdasarkan keanggotaan terbagi lagi menjadi dua spesifik besar, yaitu Intergovernmental Organizations (IGOs) dan Transnational Organizations (TNOs). IGOs adalah kelompok organisasi internasional yang keanggotaannya berasalh dari negara-negara yang berdaulat, atau bisa juga beranggotakan negara bagian dari sebuah federasi tapi dengan syarat mendapatkan izin dari negara induknya. Sedangkan, TNOs kemudian terbagi lagi menjadi beberapa kelompok kecil, diantaranya:
a. Genuine NGOs (Genuine Non-Governmental Organizations); kelompok TNOs yang anggotanya hanya terdiri dari aktor non-negara.
b. Hybrid NGOs (Hybrid Non-Governmental Organizations); kelompok TNOs yang anggotanya terdiri dari aktor negara dan non-negara.
c. TGOs (The Transgovernmental Organizations); adalah kelompok TNOs yang anggotanya terdiri dari pemerintah-pemerintah tetapi tidak diatur oleh kebijakan-kebijakan politik luar negeri negara asal dari masing-masing pemerintah tersebut.
d. BINGOs (Bussiness International Non-Governmental Organizations); adalah kelompok TNOs yang lebih dikenal dengan istilah MNCs (Multi National Corporations), merupakan badan usaha raksasa yang cabangnya tersebar di negara-negara di dunia, sehingga kadang regulasi perusahaannya lebih kuat dari regulasi dasar negara tempatnya berusaha, atau bahkan mempengaruhi perumusan regulasi di sebuah negara.
Selain berdasarkan keanggotaan, ada lagi spesifikasi lain yang dibuat oleh Clive Archer, yaitu berdasarkan tujuan dan aktivitas bersama, serta berdasarkan struktur organisasi internasional. Berdasarkan logika organisasi, jika beberapa aktor atau pihak memutuskan untuk bekerja sama, terlebih bersama untuk bergabung dalam suatu organisasi internasional, pasti memiliki tujuan yang sama untuk diwujudkan bersama. Permasalahan kemudian, dalam proses aktivitas organisasi, ada beberapa kemungkinan yang muncul, diantaranya:
a. Kemungkinan untuk terbentuknya hubungan kerja sama antar aktor,
b. Kemungkinan untuk meminimalisir konflik dari hubungan kerja sama yang terbentuk,
c. Kemungkinan untuk terjadinya hubungan konfrontasi, yang sering menjadi akhir dari sebuah organisasi internasional jika dimanfaatkan oleh pihak tertentu yang berharap lebih.
Pengspesifikasian terakhir dari Clive Archer, yakni berdasarkan struktur organisasi internasional. Pasca abad ke-20, struktur global semakin kompleks, yang kemudian diikuti oleh berbagai aktor global, termasuk organisasi internasional. Pengspesifikasian berdasarkan struktur ini, lebih didasarkan pada bagaimana power setiap anggota dan bagaimana pengaruh power tersebut terhadap struktur organisasi internasional. Power dalam sebuah organisasi internasional seringkali dikaitkan dengan proses pengambilan kebijakan. Hal ini terkait dengan sistem hak suara. Ada berbagai sistem hak suara yang sering diapakai dalam sebuah organisasi internasional, misalnya konsep one man one vote (majority voting), hak veto, unanimity voting, dan ada pula konsep ‘siapa yang berkontribusi banyak, besar pula hak suaranya’ (weighted voting).
Ada lagi pengelompokkan organisasi internasional yang didasarkan oleh berbagai macam hal lain menurut Teuku May Rudy . Dalam bukunya, “Administrasi dan Organisasi Internasional,” May Rudy mengumpulkan berbagai macam pengelompokan organisasi internasional berdasarkan,
a. Kegiatan Administrasi,
i) Organisasi Internasional Antar Pemerintah (Inter-Governmental Organization) atau sering disingkat IGO. Contohnya: PBB, ASEAN, SAARC, OAU (Organization of African Unity), NAM (Non Aligned Movement), dan lain-lain.
ii) Organisasi Internasional Non-Pemerintah (Non-Governmental Organization) atau sering disingkat NGO. Contohnya: IBF (International Badminton Federation), ICC (International Chambers of Commerce), Dewan Masjid Sedunia, Dewan Gereja Sedunia, Perhimpunan Donor Darah Sedunia, dan lain-lain.
b. Ruang Lingkup (Wilayah) Kegiatan dan Keanggotaan,
i) Organisasi Internasional Global. Contohnya: PBB, OKI, GNB.
ii) Organisasi Internasional Regional. Contohnya: ASEAN, OAU, GCC (Gulf Cooperation Council), EU (European Union), SAARC (South Asian Association for Regional Cooperation).
c. Bidang Kegiatan (Operasional) Organisasi,
i) Bidang Ekonomi. Contohnya: KADIN Internasional (International Chamber of Commerce), IMF, Bank Dunia.
ii) Bidang Lingkungan Hidup. Contohnya: UNEP (United Nation Environmental Program).
iii) Bidang Kesehatan. Contohnya: WHO, IDF (International Dental Federation).
iv) Bidang Pertambangan. Contohnya: ITO (International Timber Organization).
v) Bidang Komoditi (Pertanian dan Industri). Contohnya: IWTO (International Wool Textile Organization), ICO (International Coffee Organization).
vi) Bidang Bea-Cukai dan perdagangan Internasional. Contohnya: GATT (General Agreement on Tariffs and Trades), WTO, dan lain-lain.
d. Tujuan dan Luas-Bidang Kegiatan Organisasi
i) Organisasi Internasional Umum. Contohnya: PBB.
ii) Organisasi Internasional Khusus. Contohnya: OPEC (Organization for Petroleum Exporting Countries), UNESCO (United Nation Educational, Science, and Cultural Organiazation), UNICEF (United Nation International Children’s Emergency Fund), ITU (International Telecommunication Union), UPU, (Universal Postal Union), dan lain-lain.
e. Ruang Lingkup (Wilayah) dan Bidang Kegiatan
i) Organisasi Internasional; Global-Umum. Contohnya: PBB.
ii) Organisasi Internasional; Global-Khusus. Contohnya: OPEC, ICAO (International Civil Aviation Organization), IMCO (International Mistral Class Organization), ITU, UPU, UNESCO, WHO, FAO, dan juga Palang Merah Internasional (ICRC).
iii) Organisasi Internasional; Regional-Umum. Contohnya: ASEAN, EU, OAS (Organization of American States), OAU, SAARC, GCC, Liga Arab.
iv) Organisasi Internasional; Regional-Khusus. Contohnya: AIPO (ASEAN Inter-Parliamentary Organization), OAPEC (Organization of Arab Petroleum Exporting Countries), PATA (Pacific Area Tourism and Travel Association).
f. Taraf Kewenangan (Kekuasaan)
i) Organisasi Supra-Nasional. Maksudnya, kewenangan organisasi internasional berada diatas kewenangan sebuah negara Bentuk organisasi seperti ini belum pernah terealisasikan dalam sejarah dunia modern. Hal ini dikarenakan sistem dunia sekarang menganut sistem ‘banyak negara’ (multi-state system) dimana masing-masing negara berdaulat dan sederajat satu sama lain.
ii) Organisasi Kerja Sama (Co-Operative Organization). Kedudukan dan kewenangan dalam bentuk organisasi ini sederajat. Ada banyak sekali contohnya, seperti PBB, ASEAN, OKI, OPEC, dan lain-lain.
g. Bentuk dan Pola Kerja Sama
i) Kerja Sama Pertahanan Keamanan (Collective Security). Contohnya: NATO (North Atlantic Treaty Organization).
ii) Kerja Sama Fungsional. Bentuk kerja sama ini hampir sama dengan pengelompokan yang berdasar kerja sama. Karena setiap anggota akan memutuskan untuk bekerja sama jika mereka mendapat keuntungan bagi mereka satu sama lain. Contohnya sangat banyak, misalnya PBB, ASEAN, OKI, OPEC, SAARC, OAU, GCC, dan lain-lain.
h. Fungsi Organisasi
i) Organisasi Politikal (Political Organization). Contohnya: PBB, ASEAN, SAARC, NATO, ANZUS (Australia, New Zealand, and United States), OAU, Liga Arab, dan lain-lain.
ii) Organisasi Administratif (Administrative Organization). Contohnya: UPU, ITU, OPEC, ICAO, ICRC.
iii) Organisasi Peradilan (Judicial Organization). Contohnya: Mahkamah Internasional (International Court of Justice) dan ICC (International Criminal Court).

3. Fungsi dan Peranan Organisasi Internasional dalam Hubungan Internasional
Setiap organisasi internasional tentu memiliki peranan dan fungsinya masing-masing. Berikut beberapa peran dan fungsi internasional menurut para ahli.
Le Roy Bannet dalam bukunya “International Organization” mengemukakan bahwa,
“As adjuncts of the state system, international organizations can and do play a number of significant roles. Their chief function is to provide the mean of cooperation among states in areas in which cooperation provides advantages for all or a large number of nations. In many cases they furnish not only a place where decisions to cooperate can be reached but also the administrative machinery for translating the decisions into action. Another function is to provide multiple channels of communication among governments so that areas of accommodation may be explored and easy access will be available when problem arise.”

Dari penjelasan Lee Roy Bennet di atas, fungsi organisasi internasional dapat disimpulkan:
a. Sebagai sarana kerja sama antar-negara dalam bidang-bidang dimana kerja sama tersebut dapat memberi manfaat atau keuntungan bagi sejumlah negara.
b. Sebagai tempat atau wadah untuk menghasilkan keputusan bersama.
c. Sebagai sarana atau mekanisme administratif dalam mengejawantahkan keputusan bersama menjadi tindakan nyata.
d. Menyediakan berbagai saluran komunikasi antar-pemerintah sehingga penyelarasan lebih mudah tercapai.
Pakar lainnya, Clive Archer, secara tegas membedakan antara peran dan fungsi organisasi internasional. Peran organisasi internasional menurutnya adalah,
a. Instrumen (alat/sarana), yaitu untuk mencapai kesepakatan, menekan intensitas konflik, dan menyelaraskan tindakan.
b. Arena (forum/wadah), yaitu untuk berhimpun berkonsultasi dan memprakarsai pembuatan keputusan secara bersama-sama atau perumusan perjanjian-perjanjian internasional (convention, treaty, protocol, agreement, dan lain-lain).
c. Pelaku (aktor), bahwa organisasi internasional juga bisa merupakan aktor yang autonomous dan bertindak dalam kapasitasnya sendiri sebagai organisasi internasional dan bukan lagi sekedar pelaksanaan kepentingan anggota-anggotanya.
Selanjutnya, fungsi internasional menurut Archer, yaitu sebagai berikut:
a. Artikulasi dan agregasi kepentingan nasional negara-negara anggota,
b. Menghasilkan norma-norma (rejim),
c. Rekrutmen,
d. Sosialisasi,
e. Pembuatan keputusan (role making),
f. Penerapan keputusan (role application),
g. Penilaian/penyelarasan keputusan (rule adjunction),
h. Tempat memperoleh informasi,
i. Operasionalisasi, misalnya pelayanan teknis, penyediaan bantuan, dan lain-lain.
Sepak terjang organisasi internasional dalam interaksi hubungan internasional telah mengantarnya menjadi salah satu aktor yang cukup berpengaruh dalam dialektika interaksi antar-aktor Hubungan Internasional. Lain hal nya dengan aktor negara yang pasti memiliki politik luar negeri yang kemudian menjadi kepentingan nasional sebuah negara untuk selalu dipegang dalam setiap proses interaksi internasional, organisasi internasional tidak memiliki politik luar negeri. Namun, organisasi internasional bisa menjadi instrumen bagi pelaksanaan kebijakan luar negeri negara-negara anggotanya. Adapun peranan organisasi internasional dalam politik dunia menurut Pentland (dalam Little and Smith, 1991 : 242-243), yaitu:
a. Sebagai instrumen dari kebijakan luar negeri negara-negara anggota,
b. Untuk mengatur perilaku dan tindakan negara-negara anggota,
c. Bertindak berdasar keputusannya sebagai aktor/lembaga yang mandiri (otonom).

Analisis Teori dan Konsep Ketahanan Pangan dan Keterkaitannya terhadap Krisis Pangan Global dalam Ilmu Hubungan Internasional

Ditulis dalam Uncategorized tagged , , , , , pada 14:57 oleh petikdua

Ketahanan pangan seringkali diidentikkan dengan suatu keadaan dimana pangan tersedia bagia setiap individu setiap saat dimana saja baik secara fisik, maupun ekonomi. Ada tiga aspek yang menjadi indikator ketahanan pangan suatu wilayah, yaitu sektor ketersediaan pangan, stabilitas ekonomi (harga) pangan, dan akses fisik maupun ekonomi bagi setiap individu untuk mendapatkan pangan .
Definisi mengenai ketahanan pangan (food security) memiliki perbedaan dalam tiap konteks waktu dan tempat. Istilah ketahanan pangan sebagai sebuah kebijakan ini pertama kali dikenal pada saat World Food Summit tahun 1974 . Setelah itu, ada banyak sekali perkembangan definisi konseptual maupun teoritis dari ketahanan pangan dan hal-hal yang terkait dengan ketahanan pangan. Diantaranya, Maxwell , mencoba menelusuri perubahan-perubahan definisi tentang ketahanan pangan sejak World Food Summit tahun 1974 hingga pertengahan dekade 1990-an. Menurutnya, perubahan yang terjadi yang menjelaskan mengenai konsep ketahanan pangan, dapat terjadi pada level global, nasional, skala rumah tangga, dan bahkan individu. Perkembangannya terlihat dari perspektif pangan sebagai kebutuhan dasar (food first perspective) hingga pada perspektif penghidupan (livelihood perspective) dan dari indikator-indikator objektif ke persepsi yang lebih subjektif .
Maxwell dan Slatter pun turut menganalisis diskursus mengenai definisi ketahanan pangan tersebut. Mereka menemukan bahwa ketahanan pangan berubah sedemikian cepatnya dari fokus terhadap ketersediaan-penyediaan (supply and availability) keperspektif hak dan akses (entitlements). Sejak tahun 1980-an, diskursus global ketahanan pangan didominasi oleh hak atas pangan (food entitlements), resiko dan kerentanan (vulnerability).
Secara formal, setidaknya ada lima organisasi internasional yang memberikan definisi mengenai ketahanan pangan. Definisi tersebut dianggap saling melengkapi satu sama lain, diantaranya :
a. First World Food Conference 1974, United Nations, 1975
“Ketahanan pangan adalah ketersediaan pangan dunia yang cukup dalam segala waktu… untuk menjaga keberlanjutan konsumsi pangan…, dan menyeimbangkan fluktuasi produksi dan harga.”

b. FAO (Food and Agricultural Organization), 1992
“Ketahanan pangan adalah situasi dimana semua orang dalam segala waktu memiliki kecukupan jumlah atas pangan yang aman dan bergizi demi kehidupan yang sehat dan aktif.”
c. Bank Dunia (World Bank), 1996
“Ketahanan pangan adalah akses oleh semua orang pada segala waktu atas pangan yang cukup untuk kehidupan yang sehat dan aktif.”
d. OXFAM, 2001
“Ketahanan pangan adalah kondisi ketika setiap orang dalam segala waktu memiliki akses dan kontrol atas jumlah pangan yang cukup dan kualitas yang baik demi hidup yang sehat dan aktif. Ada dua kandungan makna yang tercantum disini, yakni ketersediaan dalam artian kualitas dan kuantitas, dan akses dalam artian hak atas pangan melalui pembelian, pertukaran, maupun klaim.”

e. FIVIMS (Food Insecurity and Vulnerability Information and Mapping Systems), 2005
“Ketahanan pangan adalah kondisi ketika semua orang pada segala waktu secara fisik, sosial, dan ekonomi, memiliki akses atas pangan yang cukup, aman, dan bergizi, untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi (dietary needs) dan pilihan pangan (food preferences) demi kehidupan yang aktif dan sehat.”

Akhirnya, dari beberapa rumusan mengenai definisi ketahanan pangan menurut berbagai lembaga pangan diatas, dapat disimpulkan bahwa ketahanan pangan adalah suatu kondisi yang menjamin ketersediaan produksi pangan, lancarnya distribusi pangan, dan mampunya masyarakat memperoleh dan memilih pangan yang sehat untuk kehidupannya.
2. Keterkaitan Ketahanan Pangan dengan Krisis Pangan
Ketahanan pangan harus dilihat sebagai suatu sistem. Dari segi ekonomi, ketahanan pangan terdiri dari tiga subsistem yang saling terkait. Tiga subsistem tersebut, yaitu pasokan, distribusi, dan konsumsi. Dari segi kelembagaan, ketahanan pangan tercapai melalui sinergi antara subsistem individu atau keluarga, subsistem masyarakat, dan subsistem pemerintah. Mekanisme subsistem ini dihubungkan dengan berbagai aspek pembangunan lain seperti pertanian, transportasi, teknologi, sumberdaya alam dan lingkungan, perdagangan, kesehatan, dan pendidikan. Oleh karena itu, ketahanan pangan bukan hanya sekedar pemenuhan produksi makanan, tetapi merupakan persoalan yang lebih kompleks, yang memiliki perspektif pembangunan dan ekonomi politik .
Maxwel pun mengemukakan bahwa setidaknya terdapat empat elemen ketahanan pangan berkelanjutan (sustainable food security) di level keluarga, yaitu:
a. Kecukupan pangan yang didefinisikan sebagai jumlah kalori yang dibutuhkan unutk kehidupan yang aktif dan sehat,
b. Akses atas pangan, yang didefinisikan sebagai hak (entitlements) untuk berproduksi, membeli atau menukarkan (exchange) pangan ataupun menerima sebagai pemberian (transfer),
c. Ketahanan yang didefinisikan sebagai keseimbangan antara kerentanan, resiko, dan jaminan pengaman sosial,
d. Fungsi waktu manakala ketahanan pangan dapat bersifat kronis/kritis, transisi, dan/atau siklus.
Pencapaian ketahanan pangan pun bisa diukur dengan menggunakan dua indikator yang dirumuskan oleh Maxwell dan Frankenberger , yaitu:
a. Indikator proses, terbagi:
i) Indikator ketersediaan, yaitu indikator yang berkaitan dengan produksi pertanian, iklim, akses terhadap sumberdaya alam, praktik pengelolaan lahan, pengembangan institusi, pasar, konflik regional, dan kerusuhan sosial.
ii) Indikator akses pangan, yaitu indikator yang meliputi sumber pendapatan, akses terhadap kredit modal, dan strategi rumah tangga unutk memenuhi kebutuhan pangan.
b. Indikator dampak, terbagi:
i) Indikator langsung, yaitu konsumsi dan frekuensi pangan.
ii) Indikator tidak langsung, yaitu penyimpangan pangan dan status gizi.
Ketahanan pangan adalah pilihan politrik di tingkat global dan nasional, tetapi merupakan persoalan hidup atau mati di tingkat lokal dan keluarga. Hal ini terutama terjadi di negara yang kaya akan sumberdaya hayati, bahan pangan, serta pengetahuan yang beragam dan sistem budaya . Dalam hal ini, ketahanan pangan tidak hanya segala hal yang berkaitan dengan sumberdaya alam, sumberdaya manusia, ketersediaan air, iklim, dan segala hal yang sifatnya alami.
Ketahanan pangan sesungguhnya sangat erat kaitannya dan berpengaruh besar terhadap sektor produksi suatu negara, yang kemudian berpengaruh pada devisa suatu negara, yang akan dimanfaatkan dalam sektor ekspornya, dan akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi suatu negara. Selain itu, ketahanan pangan pun sangat erat kaitannya dengan kebijakan-kebijakan politik suatu negara, tentang persetujuan kerja sama antar aktor dalam sektor pangan, kebijakan-kebijakan pembangunan, dan pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan dalam suatu sistem. Berangkat dari pemahaman tersebut, sehingga ketahanan pangan menjadi salah satu wacana yang cukup berpengaruh dalam bidang ekonomi politik.
Dalam bidang ekonomi politik, konsep ketahanan pangan diharapkan menjadi suatu solusi kemiskinan. Kemiskinan kini telah menjadi perhatian utama dunia internasional, bisa dibuktikan dari dijadikannya semangat “pemberantasan kemiskinan” sebagai target utama Millenium Development Goals (MDGs). Kelaparan adalah salah satu fenomena yang menggambarkan kemiskinan suatu wilayah atau komunitas.
Tidak semua kelaparan bisa dikenali. Ada kelaparan yang tersembunyi (hidden hunger) yang dampaknya tidak langsung muncul seperti kelaparan yang kelihatan (hunger) . Kelompok yang terakhir akan mudah dideteksi, misalnya pada saat musim kemarau, paceklik, bencana alam, atau perang. Namun, ternyata kelaparan kentara akibat hal tersebut jumlahnya kecil. Sedangkan kelaparan tersembunyi adalah kelompok jenis kelaparan yang susah dideteksi. Selain tidak mengenal waktu, jenis ini bisa muncul kapan dan dimana saja, tidak peduli kaya atau miskin. Untuk jenis kelaparan tidak terlihat, dibedakan lagi menjadi empat macam, yaitu kurang energi dan protein (gizi buruk), kekurangan zat besi, kekurangan zat iodium, dan kekurangan vitamin A.
Dalam fenomena kemiskinan, hampir mustahil kebutuhan gizi bisa dipenuhi. Lebih mustahil lagi untuk mewujudkan keamanan pangan bagi masyarakat. Hal ini dikarenakan keamanan dan ketahanan pangan merupakan mata rantai yang panjang, sejak lahan pertanian, berlanjut disejumlah pengolahan, hingga distribusinya, baru ke konsumen. Tidak semua mata rantai bisa dikontrol oleh orang miskin. Hal ini lah yang kemudian dikenal dengan fenomena krisis pangan. Michael H. Glantz mengidentikkan ketahanan pangan dengan krisis pangan. Dengan tercapainya krisis pangan, maka fenomena krisis pangan secara tidak langsung pun teratasi.

30 Juli 2011

Analisis Efektivitas Global Agriculture and Food Security Program (GAFSP) sebagai Solusi Penanganan Krisis Pangan Negara Berkembang (Bangladesh dan Ethiopia)

Ditulis dalam Uncategorized tagged , , , , , pada 11:38 oleh petikdua

Global Agriculture and Food Security Program (GAFSP) adalah sebuah program bantuan pendanaan multilateral yang difasilitasi oleh Bank Dunia untuk membantu Negara Berkembang didunia dalam menghadapi fenomena Krisis Pangan yang tengah mewabah dunia internasional dewasa ini. Sebenarnya program ini sudah diterapkan di beberapa negara yang mengajukan proposal bantuan, tetapi dalam tulisan kali ini, penulis hanya akan menganalisis efektivitas bantuan ini di Bangladesh dan Ethiopia.
Program bantuan pendanaan multilateral GAFSP terhadap Bangladesh diratifikasi pada 14 Juni 2010 dan diberlakukan dalam program pembangunan pertanian dan pangan jangka panjang untuk Bangladesh yang mulai diberlakukan dalam BCIP untuk periode 2010-2025. Sedangkan program bantuan pendanaan multilateral GAFSP terhadap Ethiopia diratifikasi pada November 2009 dengan kesepakatan untuk dimanfaatkan dalam jangka waktu menengah dengan periode 2011-2015.
Secara umum, program bantuan pendanaan multilateral GAFSP ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan ketahanan pangan masyarakat miskin di beberapa Negara Berkembang melalui kebijakan dan kepemimpinan Negara dan pemerintahnya dalam mengolah solusi untuk permasalahan pangan negaranya. Di Bangladesh, program bantuan ini dialokasikan dalam 12 program kegiatan yang dikembangkan dari tiga sektor bantuan yang diberikan oleh GAFSP. Penentuan kedua belas sektor ini berdasarkan program perencanaan pembangunan nasional Bangladesh, khususnya dalam sektor pertanian dan pangan. Program-program ini kemudian dirumuskan dalam BCIP sebagai kerangka kerja. Sedangkan di Ethiopia, dana bantuan GAFSP dialokasikan dalam sebuah program yang dikenal AGP dengan empat strategi obyektif yang juga dikembangkan dari tiga sektor bantuan yang diberikan GAFSP.
Rumusan program-program kegiatan yang diolah oleh pemerintah setempat berdasarkan bantuan yang diberikan GAFSP akan dipadukan dengan kebutuhan Negara yang bersangkutan. Dalam penelitian ini, Negara yang penulis maksud adalah Bangladesh dan Ethiopia. Hasil analisis ini kemudian akan menggambarkan efektivitas dan maksimalisasi program bantuan pendanaan multilateral ini terhadap negara yang bersangkutan pada khususnya, dan Negara Berkembang pada umumnya.
Untuk Bangladesh, berdasarkan hasil analisis fenomena Krisis Pangan dan sebab-akibat Krisis Pangannya, penulis merumuskan beberapa permasalahan yang membutuhkan tindak lanjut untuk menyelamatkan Negara ini dari permasalahan Krisis Pangan. Beberapa permasalahan yang dimaksud, yaitu (i) Demokratisasi yang tidak maksimal, (ii) Kepadatan Penduduk, (iii) Sumberdaya manusia, (iv) Sistem distribusi pangan, (v) Korupsi, dan (vi) Kepentingan asing. Adapun bantuan pendanaan sebesar US$ 50 juta yang diberikan GAFSP diharapkan dialokasikan dalam tiga sektor besar, yaitu (i) Penggunaan teknologi dalam pertanian, (ii) Pengadopsian teknologi yang bisa menambah keuntungan hasil produksi, dan (iii) manajemen irigasi. Ketiga sektor besar ini diserap oleh Bangladesh dalam kebijakan pengembangan pangan dan pertanian dalam tiga hal, yakni (i) Ketersediaan pangan, (ii) Akses terhadap pangan, dan (iii) Pemanfaatan pangan.
Dalam penjabaran tersebut, program kegiatan yang dikembangkan berdasarkan pengalokasian dana bantuan GAFSP belum bisa menjawab kebutuhan dasar masyarakat Bangladesh akan permasalahan yang tengah membelit kehidupan sehari-harinya. Masyarakat Bangladesh membutuhkan pemerintahan yang transparan dan betul-betul memperjuangkan kesejahteraan rakyat, terkhusus masalah bagaimana rakyat bisa berkecukupan menghasilkan, mendapatkan, dan memanfaatkan potensi yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup. Hal ini disebabkan masyarakat tengah dibelit pemerintahan yang masih sering memanfaatkan celah yang ada untuk kepentingan pribadi, maupun kelompok. Selain itu, sistem politiknya pun masih dibayang-bayangi perebutan kekuasaan yang dikejar oleh pihak-pihak berkepentingan. Korupsi masih merajalela diantara pejabat pemerintahan, dan sistem demokrasi pun tidak difungsikan dengan maksimal.
Korupsi ini juga kadang berdampak pada sistem distribusi pangan Bangladesh. Seringkali bantuan pangan tidak disalurkan secara maksimal pada pihak yang membutuhkan. Selain dari pemerintah dan pihak-pihak bermodal yang menyulitkan akses masyarakat kelas bawah untuk mendapatkan pangan, masyarakat kelas bawah pun kurang memiliki potensi untuk mencari dan berusaha mendapatkan pangan demi kelangsungan hidupnya. Ini disebabkan oleh sumberdaya manusia yang memang perlu pembekalan lebih untuk pengembangan dan pemanfaatan pangan dan pertanian. Dalam BCIP, memang terdapat kebijakan pengembangan untuk akses masyarakat terhadap pangan. Namun, pengembangan yang direncanakan dalam program-program tersebut sangat sedikit yang menyentuh ranah pelatihan dan pengembangan potensi sumberdaya dan pemulihan serta pengefektivitasan sistem distribusi pangan. Lebih banyak untuk masalah administratif dan komputerisasi.
Analisis pembahasan tersebut tidak jauh beda dengan permasalahan yang terjadi di Ethiopia. Sebuah negara dengan penyebab permasalahan Krisis Pangan yang menggunung. Masalah kerentanan penyakit, sistem kelola lahan yang cukup bebas dan bahkan hampir berat sebelah, sistem perdagangan bebas yang mulai diberlakukan sejak tahun 1990an, rendahnya GDP, posisi wilayah yang tergolong landlock, sumberdaya baik manusia maupun alam yang rendah dan tidak terolah, juga korupsi menjadi langganan permasalahan di Ethiopia.
Jika dianalisis dari berbagai permasalahan di atas, permasalahan lebih banyak disebabkan karena potensi negara yang masih rendah dan banyaknya hal yang tidak dikelola dengan baik dan maksimal. Solusi yang dijabarkan dalam program-program bantuan yang salah satunya dari GAFSP dan program-program yang dirumuskan dalam kebijakan Negara memang sangat Ideal. Namun, program-program tersebut seakan tidak menjawab kebutuhan mendasar yang tengah dialami oleh Negaranya, termasuk dengan yang terjadi di Ethiopia. Negara ini dianggap masih memerlukan pembenahan internal terlebih dahulu untuk hal-hal yang paling mendasar, seperti pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam dan manusia, juga pembenahan sistem ekonomi politik yang benar-benar adil dan memihak pada kesejahteraan rakyat.
Selanjutnya, mengenai bantuan asing yang juga menjadi salah satu faktor yang cukup berpengaruh, sepertinya menjadi solusi yang juga membawa permasalahan lanjutan yang sifatnya tidak terlihat. Jika kita menganalisis lebih lanjut dan lebih jeli melihat, setiap bantuan asing yang masuk ke Negara-Negara Berkembang, termasuk bantuan asing ke Bangladesh dan Ethiopia, selain membawa solusi program untuk menyelamatkan negara tujuan dari permasalahan Krisis Pangan, juga membawa dorongan kepada negara yang dibantu untuk membuka pasarnya. Menurut beberapa donor asing, sistem perdagangan yang tertutup menjadi salah satu penyumbang besar bagi kurang berkembangnya perdagangan suatu negara karena sempitnya pasar tempat mereka beraktivitas.
Dorongan untuk membuka pasar tersebut tidak jarang diterima dengan mudah oleh pihak-pihak penerima bantuan. Ada dua hal yang mendorong hal tersebut, pertama karena memang sistem pasar bebas itu menguntungkan dan kedua karena tidak ada pilihan lain dan sudah didesak oleh kebutuhan akan dana bantuan yang diajukan.
Dikebanyakan Negara Berkembang, sistem perdagangan bebas memang membuka peluang keuntungan yang lebih besar bagi para pelaku perdagangan karena semakin luasnya pasar transaksi. Namun, peluang keuntungan ini hanya bisa dirasakan oleh pelaku yang memiliki modal besar dan memang mampu bersaing secara global dalam pasar yang lebih luas. Tidak seperti mereka yang bermodal kecil, misalnya saja petani-petani yang sebagian besar tinggal di pedesaan, jauh dari informasi dan modernisasi perkotaan. Sebagian besar dari mereka hanya memiliki lahan kurang dari 1 ha setiap rumah tangga, bahkan tak jarang hanya menjadi pekerja, dengan menjaga dan mengolah lahan yang sesungguhnya dimiliki oleh pemilik modal di perkotaan. Dimana jika saat panen, seluruh keuntungan produksi diserahkan pada pemilik lahan, dan buruh tani tadi hanya mendapatkan upah kurang dari 1% hasil penjualan dan produksinya. Hal seperti ini banyak terjadi Ethiopia dan Bangladesh, bahkan hampir di seluruh Negara Berkembang di dunia. Namun demikian, sistem perdagangan bebas masih saja menjadi solusi dalam setiap program bantuan asing. Tidak hanya itu, sistem ini juga masih saja diterima oleh Negara-Negara yang menerima bantuan tanpa kepekaannya untuk melakukan persiapan internal dulu dengan membangun sistem ekonomi politik khususnya dalam perumusan kebijakan pangan untuk kesejahteraan rakyat Negara Berkembang.

Halaman berikutnya

huruf kecil

saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus.

ishaksalim

Just another WordPress.com site

jembatan merah

sejarah-budaya-pembangunan

kata.cerita.kita

karena tulisan itu selalu bersuara dengan tintanya, meski kita sudah tiada

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.