9 November 2009

Scramble for Africa : Pembagian wilayah Afrika secara sepihak pada masa kolonialisasi

Posted in Uncategorized pada 17:35 oleh petikdua

Scramble for Africa adalah istilah yang dipakai unutk menggambarkan suasana persaingan dari beberapa bangsa Eropa dalam memperebutkan wilayah-wilayah Afrika dan mengakibatkan hampir seluruh wilayah yang ada di Afrika menjadi kolono dari negara-negara Eropa. Perjuangan ini berawal lambat pada tahun 1870-an, mencapai puncaknya pada tahun 1880-1890 dan mengalami penurunan dan tantangan yang berat pada decade pertama abad XX.

Pada awalnya, wilayah-wilayah yang dicaplok oleh bangsa-bangsa Eropa adalah wilayah-wilayah yang berada di pesisir laut Afrika, mengingat jalur masuk bangsa Eropa saat itu adalah transportasi laut. Perjalanan bangsa-bangsa Eropa ke Afrika bisa dikatakan tidak begitu mudah, karena susahnya beradaptasi di wilayah yang tergolong ekstrem ini, penyakit pun menyerang saat itu, malaria dan penyakit kuning. Namun, ini tidak menyulutkan semangat bangsa Eropa untuk melakukan ekspansi dan terus mengirimkan pasukannya ke wilayah Eropa.

Wilayah utara Afrika pada masa itu telah dikuasai oleh kerajaan Utsmani yang mendapat pengaruh besar dalam proses Arabisasi dan Islamisasi. Wilayah Utara ini bukannya susah dijangkau oleh bangsa-bangsa Eropa, melainkan tidak menjadi perhatian utama bangsa Eropa pada saat itu karena sudah ada yang menduduki duluan. Faktor geopolitik juga sangat berpengaruh terhadap wilayah utara Afrika ini. Letak Gurun Sahara di daerah dekat Aljazair dan Maroko menjadi benteng alam bagi wilayah utara Afrika sehingga memiliki budaya yang cukup berbeda dengan wilayah Afrika lain di selatan, barat, dan timur. Hal ini pula lah yang seringkali membuat wilayah-wilayah utara Afrika ini lebih sering dan senang menggolongkan dirinya pada kelompok Timur-Tengah.

Faktor utama pendorong perjalanan bangsa-bangsa Eropa ke Afrika ini adalah revolusi industry yang tengah terjadi di Eropa saat itu. Revolusi industry yang menandai pesatnya industrialisasi di Eropa yang kemudian berdampak pada banyaknya barang yang diproduksi sekaligus menjadi penanda bahwa dunia telah maju dan modern. Hal ini memang berdampak baik bagi bangsa Eropa pada khususnya dan dunia pada umumnya. Namun, ternyata tidak selamanya berdampak baik. Revolusi industry ini kemudian meninggalkan PR bagi para bangsa Eropa bahwa akan dibawa kemana segala hasil industry mereka. Mereka membutuhkan konsumen untuk mengonsumsi segala hasil produksi mereka dan karena desakan ini lah mereka melakukan pelayaran ke Afrika, selain untuk menyebarkan misi agama juga tentu.

Bangsa Inggris mengakuisisi wilayah koloni nya pada tanjung yang berada di daerah selatan Afrika dan beberapa wilayah pantai di sekitar barat Afrika seperti Sierra Leone yang kemudian didiami oleh beberapa keturunan budak yang tertolong dari perdagangan budak atlantis. Disusul Perancis yang juga mengakuisisi wilayah barat Afrika seperti Senegal pada tahun 1834 dan memproteksi segala jalur perdagangan pada Sungai Senegal dan dua kota pelabuhan yang pada masa sekarang disebut Ghana. Tidak ketinggalan juga Portugal yang mengkalim wilayah seperti Angola dan Mozambique. Untuk wilayah utara yang telah saya bahas sebelumnya, itu berada secara penuh di bawah kekuasaan Kerajaan Ottoman.

Scramble for Africa sedikit banyak merupakan dampak dari konfrensi Berlin (November 1884 – Februari 1885). Konfrensi ini dipelopori oleh Perancis yang ingin untuk memutuskan siapa sebenarnya yang berhak memegang wilayah Kongo yang tengah diperebutkan oleh Inggris, King Leopold, dan Portugal pada saat itu. Pada saat yang bersamaan, tahun 1884, Jerman juga memutuskan untuk membangun pemerintahan protektorat di tiga wilayah Afrika, yaitu Togo, Kamerun, dan Afrika Barat Daya. Ketika Jerman memutuskan untuk turut serta dalam perebutan wilayah di Afrika, Jerman pun membantu Perancis untuk mewujudkan konfrensi ini.

Konfrensi Berlin akhirnya berlangsung dengan dihadiri oleh perwakilan 14 Negara Eropa dan Amerika Serikat. Hal yang paling mendasar dibutuhkannya konfrensi ini adalah pengakuan oleh segenap bangsa Eropa yang terkait bahwa dibutuhkannya sebuah peraturan yang rasional tentang pembagian dan pengambil alihan kekuasaan bangsa Eropa atas Afrika guna meminimalisir konflik internal antar bangsa Eropa yang mungkin saja muncul. Konfrensi ini berakhir dengan kesepakatan:

1. King Leopold II akhirnya mengamankan kepemilikan atas Free Congo State

2. Perancis mendapatkan wlayah French Congo

3. Portugal kehilangan banyak wilayah atas Kongo yang lebih dulu telah dikuasainya

4. Bangsa-bangsa Eropa mengakui adanya protektorat baru di wilayah Afrika yakni Jerman

5. Bangsa-bangsa Eropa mengumumkan perdagangan bebas di sekitar kongo dan navigasi yang bebas bagi siapa saja bangsa Eropa atas Niger dan mengumumkan tujuan-tujuan agung mereka dalam membentuk koloni di Afrika.

6. Terdapat sebuah aturan tambahan yang cukup unik dimana apabila terdapat bangsa Eropa yang mengklaim wilayah yang telah diklaim oleh bangsa Eropa yang lain, maka diantara mereka wajib untuk saling mengingatkan dan tetap menghindari konflik yang mungkin muncul.

Scramble for Afrika ini memang dirasa adem ayem saja pada masa permulaannya, tapi tidak pada tahun 1890-an dan setelahnya, dimana sudah terdapat banyak perlawanan dari masyarakat setempat dan keinginan untuk bebas dan merdeka dari koloni. Hal ini lah yang kemudian memicu pihak Eropa untuk mengirim lebih banyak pasukan masuk ke Eropa. Mengingat revolusi Industri yang telah terjadi di Eropa dan tentu saja kemajuan teknologi senjata apinya, maka perlawanan bangsa setempat masih bisa diredam.

Beberapa perlawanan yang perlu kita ingat diantaranya perlawanan orang-orang Muslim Sudan terhadap bangsa Perancis yang berakhir seiring dengan meninggalnya Rabih al-Zubayr yang merupakan pemimpin mereka di tahun 1900-an, perlawanan umat muslim Mesir terhadap Inggris pada tahun 1890-an, dan terdapat juga konflik internal antara Inggris dan Perancis dalam memperebutkan wilayah utara Sungai Nil. Pertempuran dan perjuangan untuk mengambil alih seluruh wilayah Afrika oleh bangsa Eropa pun terus berlangsung yang dilanjutkan dengan pendudukan wilayah yang telah ditaklukkan. Hampir seluruh wilayah Afrika pada tahun 1890-1900 diduduki oleh koloni bangsa-bangsa Eropa kecuali sebuah negara bebas yang bisa bertahan dengan pemerintahannya lokalnya yang kuat setelah merebut kembali kebebasannya atas Italy yang pernah mendudukinya melalui Battle of ‘Adwa pada tahun 1896 adalah Ethiopia.

Terdapat dua isu yang berpengaruh pada akhir masa Scramble for Africa ini,yaitu:

1. Kekejaman King Leopold II di Leopold Congo Free State. Di sini, pihak koloni dan pengusaha-pengusaha memaksa buruhnya untuk mengolah karet mentah tanpa upah dan bahkan tega membunuh atau memotong mereka yang tidak bisa memenuhi kuota produksi pada saat itu. Akhirnya, dunia internasional mengecam Leopold dan mendorongnya untuk memberikan kekuasaanya yang bersifat privat itu pada pihak Belgia secara umum. Sehingga pada tahun 1908, Leopold Congo Free State menjadi Belgium Congo.

2. Boer War (1899-1902) di Afrika Selatan.

Wilayah Afrika Selatan sendiri sangat terkenal dengan emas yang merupakan hasil utamanya. Pihak Inggris yang pertama kali menduduki dan berlabuh di sini menjadi pihak yang sangat berperan dalam memajukan perindustrian emas di sini. Wilayah ini pun memiliki pemerintahan sendiri yang merupakan perpanjangan dari pihak imperialism Inggris yang selanjutnya akan kita kenal dengan pemerintahan local Afrika Selatan.

Konflik ini kemudian bermula saat pemerintah local melihat besarnya peluang yang bisa dimanfaatkan dari hasil emasnya. Sehingga pemerintah memberikan pajak yang sangat tinggi bagi siapa saja pihak asing yang ingin mengambil emas di Afrika Selatan. Kebijakan ini kemudian berdampak pada melemahnya pemasukan asing terhadap pemerintah imperialism yang kemudian mengakibatkan pemerintahan di Afrika Selatan ini diambil alih oleh Pemerintah imperialism Inggris.

Sejak diambil alih oleh pihak Imperialisme, konflik ini tetap berlangsung dan memuncak kemudian mengakibatkan pecahnya perang pada tahun 1899. Perang yang bersifat gerilya ini terus berlangsung hingga tahun 1902 yang ditandai dengan jatuhnya pemerintahan imperialis Inggris.

Selain isu yang telah saya sebutkan tadi, beberapa fenomena yang menandakan berakhirnya masa Scramble for Africa ini diantaranya, pada tahun 1990, masyarakat Inggris yang merupakan perpecahan dari bangsa Inggris yang pernah menduduki Afrika Selatan pun bergabung dan membentuk Persatuan Afrika Selatan. Selain itu, kesepakatan damai Etente Cordiale pada tahun 1904 antara Inggris dan Perancis yang selama ini selalu saja terjebak dalam konflik-konflik kecil juga berpengaruh terhadap akhir dari masa Scramble for Africa. Kesepakatan damai ini memberi Perancis keleluasaan untuk mengambil alih Maroko yang merupakan perpecahan kerajaan Mesir dan menyerahkan Mesir sepenuhnya pada Inggris. Tahun 1912, Maroko pun dibagi secara damai antara Perancis dan Spanyol. Selain itu, ditahun yang sama, Italy pun menduduki Libya yang merupakan wilayah terakhir sisa kerajaan Ottoman.

Dengan ini, maka berakhirlah masa Scramble for Africa, mengingat seluruh wilayah Afrika telah terbagi masing-masing oleh bangsa-bangsa Eropa.scramble for afrika

1 Komentar »

  1. biru hijau said,

    Bener-bener..
    pantas aja orang-orang di Afrika sampe skarang ga pernah akur..
    sejak belum lahir (merdeka) aja mereka udah dilatih untuk saling membenci..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

huruf kecil

saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus.

ishaksalim

Just another WordPress.com site

jembatan merah

sejarah-budaya-pembangunan

kata.cerita.kita

karena tulisan itu selalu bersuara dengan tintanya, meski kita sudah tiada

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: