11 November 2009

Konflik Menahun Indonesia-Malaysia ; Analisis history, sosial budaya, dan geopolitik

Posted in Uncategorized tagged , , , , pada 17:44 oleh petikdua

Indonesia dan Malaysia adalah negara serumpun dan bertetangga yang tidak pernah luput dari konflik yang selalu menghiasi setiap hubungan diplomatiknya. Sebuah hubungan yang sangat unik karena semestinya, dengan logika kekeluargaan, pihak yang posisinya berdekatan itu semestinya saling mendukung dan membantu.

Jika ditinjau dari segi historis, sejak berdirinya negara Malaysia itu sendiri sesungguhnya telah diwarnai konflik dengan negara tetangga dan serumpunnya, negara kita Indonesia. Seperti yang kita tahu kemerdekaan Malaysia adalah ‘pemberian’ Inggris sebagai penjajahnya. Secara nama, Malaysia yang berasal dari kata Malaya itu tentu saja logikanya jika akan dibuat Negara tentu ya wilayah jajahan Inggris di Semenanjung Malaya. Pertamanya memang seperti itu dan Indonesia tidak mempermasalahkan bedirinya Malyasia itu. Negara Malaysia atau yang lebih tepatnya Federasi Malaysia adalah negara federasi gabungan dari beberapa kerajaan lokal di wilayah Semenanjung Malaysia. Kalimantan Utara yang terdiri dari tiga wilayah yaitu Sabah, Sarawak dan Brunei tidak termasuk ke dalam wilayah Malaysia namun masih tetap berupa koloni Inggris.

Namun ternyata Inggris memepunyai rencana lain tentang Malaysia. Inggris hendak menggabungkan Kalimantan sebelah Utara bersama wilayah Semenanjung Malaya dalam satu Negara bernama Malaysia. Terang saja Soekarno selaku Presiden Indonesia saat itu sangat marah dan tidak terima. Dalam hal ini, bukan Kalimantan Utara yang tidak masuk wilayah Indonesia itu yang menjadi masalah, melainkan keberadaan Negara itu justru akan mengancam kedaulatan Indonesia. Dibayang-bayangi oleh pengalaman pahit dari neoimperialisme dan neokolonialisme yang pernah dirasakan Indonesia, timbul kemudian pikiran yang tidak baik jika ada negara boneka Inggris yang terletak di dekat Indonesia.

Soekarno yang pada saat itu menjabat sebagai Presiden RI tidak sembarangan beranggapan negative terhadap Malaysia negara boneka bentukan Inggris. Fakta memang membuktikan bahwa Indonesia mempunyai pengalaman yang tidak mengenakkan dengan percobaan neokolonialisme. Saat sekutu datang ke Indonesia, yang saat itu Indonesia sudah merdeka, dengan dalih melucuti Jepang ternyata sekutu diboncengi Belanda yang ingin kembali menjajah. Bukan tidak mungkin kelak Malaysia yang terletak di utara Kalimantan itu bisa diboncengi kepentingan Inggris.

Ketidaksetujuan itu pun ternyata juga dirasakan oleh rakyat di sekitar Kalimantan Utara. Peperangan terus saja berlanjut di wilayah itu dengan agenda mempertahankan wilayah. Melihat ketidaktenangan yang terus saja terjadi di wilayah ini, muncul kemudian inisiatif untuk merundingkan bagaimana baiknya kelangsungan wilayah itu antara calon anggota Malaysia, yakni Sabah, Serawak, dan Brunei Darussalam dan Indonesia dengan mediasi pemerintah Filiphina di Manila, 31 Juli 1963.

Perundingan yang dilaksanakan di Manila itu bermuara pada kesepakatan untuk memberi kebebasan pada wilayah Sabah, Serawak, dan Brunei untuk kemudian menetukan sendiri apakah mereka akan bergabung atau tidak dalam sebuah referendum. Namun, belum sempat ketiga wilayah itu memberikan pilihannya, Malaysia lebih dulu menyatakan secara pihak bahwa Sabah dan Serawak masuk menjadi bagian  negaranya. Karena ketidakadilan iniah kemudian Soekarno menjadi tidak simpati dan memutuskan untuk tidak mengakui kedaulatan Malaysia sebagai sebuah negara. Hal ini kemudian memuncak ketika Malaysia diterima menjadi anggota PBB pada tahun 1965. Melihat fenomena tersebut, Indonesia melalui Soekarno pada saat itu memutuskan untuk keluar dari PBB. Namun, suasana dalam negeri juga tengah tegang karena kasus PKI saat itu dan berakhir dengan digantikannya Soekarno oleh Soeharto, sehingga keluarnya Indonesia dari PBB ini pun tidak berlangsung lama. Ketika Soeharto menjadi presiden Republik Indonesia, Indonesia pun kembali masuk menjadi anggota PBB. Meski hanya sebentar, tapi ini cukup memberi gambaran dunia dan public internasional akan sikap Indonesia terhadap Malaysia saat itu.

Namun, tidak hanya dalam bidang politik saja yang mampu memunculkan konflik anatara Malaysia dan Indonesia. Sektor Budaya pun sering kali menjadi saasaran empuk potensi konflik. Kali ini konflik itu kerap kali muncul karena keragaman budaya leluhur. Mengingat Malaysia adalah negara dengan budaya luhur melayu, begitupun Indonesia, khususnya di Indonesia bagian barat. Karena budaya ini dimiliki oleh kedua negara yang berbeda, maka kebudayaan yang berada di wilayah ini disebut budaya daerah abu-abu ; gray area. Budaya yang berada di wilayah ini bisa dimiliki oleh kedua belah pihak, tapi tidak boleh diklaim secara sepihak. Yang kerap terjadi, khususnya akhir-akhir ini adalah seringanya terjadi klaim di satu pihak saja. Tidak hanya itu, seringkali juga Malaysia mengklaim budaya-budaya yang tidak berada di daerah abu-abu atau yang secara sangat jelas budaya yang sangat jelas merupakan milik Indonesia, misalnya saja tari pendet yang baru saja sangat gempar diberitakan di media dan angklung serta batik Indonesia. Belakangan juga didapati bukti bahwa lagu kebangsaan Malaysia yang berjudul ‘Negaraku’ adalah lagu yang musiknya diadopsi dari salah satu lagu lawas Indonesia yang berjudul ‘terang bulan’. Sangat banyak hal-hal yang menjadi pemicu konflik dalam hal budaya ini karena jika kita bicara tentang budaya suatu negara, makas ecara tidak langsung kita tengah berbicara tentang identitas negara tersebut yang jelas berhubungan langsung dengan kedaulatan negara yang bersangkutan.

Sektor wilayah pun sering kali menjadi potensi pemicu konflik antara Malaysia dan Indonesia. Hal ini di picu oleh kasus perebutan pulau Sipadan dan Ligitan yang diperebutkan oleh Indonesia dan Malaysia pada tahun 2006 silam. Hingga kini, kasus ini telah selesai dengan keputusan bahwa Sipadan dan Ligitan merupakan milik Malaysia dengan pertimbangan Malaysia lah yang telah melakukan pembangunan  awal di wilayah tersebut. Tanpa disadari, ternyata jauh sebelum kasus ini naik ke permukaan, sudah sangat abnyak pulau-pulau di Indonesia yang dijual kepada Malaysia dengan harga yang relative cukup sangat murah hanya karena pembodohan atau penyelewengan yang menggelapkan mata nurani pihak yang bersangkutan. Terakhir potensi pemicu konflik yang menghiasi hubungan diplomatic Indonesia dan Malaysia adalah kasus Perairan Ambalat. Malaysia kembali secara sepihak membuat peta wilayah baru yang memasukkan Ambalat kedalam wilayah negaranya, tetapi Indonesia telah jauh lebih dulu meratifikasi wilayah ini sebagai wilayahnya dalam Unclos tahun 1982 silam. Terakhir diketahui bahwa Malaysia baru memusingkan diri untuk berusaha mendapatkan Ambalat semenjak didapatkannya potensi minyak bumi yang cukup menjanjikan untuk kemajuan ekonomi negara yang bersangkutan. Kembali masalah ekonomi dan politik.

Jika kita menganalisis lebih dalam mengenai konflik dewasa ini, memang telah terjadi pergeseran substansi konflik. Kini, aktor internasional tidak lagi dikatakan berperang hanya ketika mereka memegang senjata dan saling bersitegang dan saling membunuh, tetapi proses eksploitasi dan pemanfaatan pun bisa dikatakan berperang. Wajah konflik kini terah berubah. Kini kita berperang secara ekonomi dan politik dengan mengedepankan kegengsian antar potensi negara. Invasi-invasi kini tidak hanya beredar dalam bentuk tentara dan bom, melainkan invasi kini menyerang kita melalui kelaparan, kemiskinan, penyakit, dan pembodohan.

5 Komentar »

  1. ikhsan pramana said,

    ya ampun deh malaysia tu ya……..!!!!!!!!
    pdahal negara tetanggaan……tapi…???kok klakuan ny mlah mau mnindas sih?????
    bukanny saling bekerja sama ,,saling mmbantu agar negarany tmbah maju,,malah ingin mmbuat ap perseteruan ini mnjadi gak prnah padam…..

    • petikdua said,

      itulah Asia Tenggara, kawasan termajemuk di dunia.. Andai Soekarno hingga kini masih ada, entah dia akan melakukan apa. Keluar dari PBB – lagi – mungkin..
      hehe..

  2. eni said,

    seharusnya ini menjadi bahan introspeksi bagi pejabat negara dan seluruh bangsa Indonesiauntuk membekali diri menjadi negara dan manusia yang berkualitas agar tidak lagi dibodohin oleh negara lain……ini sudah 2011 masa mental kita masih seperti jaman kolonial aja…….

  3. eni said,

    HAL-HAL YG HARUS DIBENAHI DI INDONESIA
    1. SIFAT RAKUS ,KORUP, MASA BODOH, MALAS HARUS KITA SINGKIRKAN DARI NEGERI INI ,
    2. BERI KESEMPATAN SELUAS-LUASNYA PADA RAKYAT DALAM MENDAPATKAN PENDIDIKAN YANG MAKSIMAL
    3. BERI KESEMPATAN/KEMUDAHAN PADA PRIBUMI DALAM BERBISNIS BARU NON PRIBUMI…JGN SAEPERTI SAAT INI KATANYA INDONESIA KAYA RAYA TAPI RAKYAT YG KAYA MALAH NON PRIBUMI……
    DENGAN CARA INI INSYAALLAH INDONESIA AKAN JAYA

  4. PUTRADI said,

    KITABNEE BANGSA YG CERDAS V KESEMPATAN UNTUK BERKALIR ITU NDAK ADA


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

huruf kecil

saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus.

ishaksalim

Just another WordPress.com site

jembatan merah

sejarah-budaya-pembangunan

kata.cerita.kita

karena tulisan itu selalu bersuara dengan tintanya, meski kita sudah tiada

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: