12 Desember 2009

Mimpi Merdeka Bangsa Palestina

Posted in Uncategorized tagged , , , pada 13:10 oleh petikdua

Pada era 1800-an, tidak ada Negara yang bernama Israel. Saat itu, ras Yahudi, yang kemudian menjadi ras mayoritas dari penduduk Israel, hidup tersebar di sejumlah Negara di Benua Eropa. Kemudian, pada akhir era 1890-an, sebuah gerakan bernama Zionis dibentuk oleh Kaum Yahudi peranakan Eropa. Mereka, bangsa Yahudi yang tadinya hidup tersebar-sebar, kemudian mulai berimigrasi ke satu tempat, Palestina. Imigrasi ras Yahudi itu pun terus berlangsung, hingga pada tahun 1914, pada masa Perang Dunia I, diyakini terdapat sekitar 85000 kaum Yahudi yang bermukim di Palestina. Sementara itu, imperium Usmani, sebuah rezim yang berkuasa di Palestina, semakin terdesak karena adanya penjajahan yang dilakukan oleh Inggris.
Pada akhirnya, Imperium Usmani pun runtuh. Palestina selanjutnya jatuh ke tangan Inggris, dengan status sebagai wilayah teritori di bawah mandat kerajaan Inggris. Perlu kita ketahui bersama pula, bahwa jauh-jauh hari sebelum penaklukan Negara Palestina oleh Inggris, Inggris telah mendukung lebih dulu atas pembentukan Negara Yahudi di Palestina. Bahkan dukungan itu jelas dapat kita lihat pada Deklarasi Balfour pada tahun 1917.
Diberikannya sebagian wilayah Palestina oleh Kerajaan Inggris pada bangsa Yahudi yang kemudian mendirikan sebuah Negara Israel memang telah direncanakan sejak jauh hari. Sikap ini merupakan balas budi bagi Dr. Chaim Weizmann, kimiawan yang berlatar belakang yahudi yang berhasil mensintesiskan aseton melalui fermentasi. Aseton diperlukan dalam menghasilkan cordite, bahan pembakar yang diperlukan untuk mendorong peluru-peluru. Jerman memonopoli ramuan aseton kunci, kalsium asetat. Tanpa kalsium asetat, Inggris tak bisa menciptakan aseton dan tanpa aseton takkan ada cordite. Jadi, tanpa cordite, Inggris saat itu mungkin akan kalah dalam Perang Besar.
Saat ditanya, bayaran apa yang diinginkan, Weizmann menjawab, “Hanya ada satu hal yang saya inginkan yakni tanah air buat kaumku (baca: kaum Yahudi).” Berhubung Palestina saat itu berada dalam kekuasaan Negara Inggris, maka Inggris pun memberikan sebagian wilayah Palestina untuk dapat ditinggali secara damai oleh Ras Yahudi sebagai rasa terima kasih pada ilmuan tadi dan penemuaanya. Proses pemberian sebagian wilayah Palestina ini pun selama ini kita kenal dalam Deklarasi Balfour 1917.
Satu hal yang perlu diingat, pada saat itu, ketika Inggris dan PBB mengakui eksistensi sebuah Negara bernama Israel di tanah Palestina, luas wilayah yang disepakati bersama dalam Deklarasi Balfour tidak seluas apa yang saat ini kita lihat sebagai wilayah Israel dalam peta dunia. Jelas disini dapat kita amati bersama bahwa masyarakat Israel mengambil wilayah Palestina perlahan tapi pasti hingga jika kita lihat peta dunia saat ini, sungguh memprihatinkan, wilayah palestina semakin menjadi seperti titik kecil dan wilayah Israel, sangat luas. Sebuah pencaplokan wilayah yang jelas ilegal dan kita, masyarakt dunia, diam saja melihat penindasan yang kasat mata ini. Rakyat Palestina diusir dari rumah mereka sendiri, sangat memprihatinkan.
Selanjutnya, pertumbuhan jumlah kaum Yahudi di tanah Palestina kian meningkat. Meski pada kenyataannya mereka harus berperang dengan penduduk lokal Palestina. Konflik pun meletus, kaum Yahudi harus tetap bertempur melawan kaum local Palestina, demi mewujudkan cita-citanya. Pada gilirannya, Inggris turun tangan untuk menyelasaikan perang yang tengah berkecamuk di Tanah Palestina. Akhirnya pada tahun 1947, Inggris menyerahkan masalah ini ke tangan PBB.
Pada 29 November 1947, Sidang umum yang digelar PBB menyepakati, untuk membagi Palestina menjadi dua wilayah, Palestina dan Israel. Penduduk local Palestina jelas menolak solusi tersebut, dengan anggapan bahwa suatu saat kaum Yahudi akan tetap melakukan ekspansi wilayah dan akhirnya mengusir penduduk lokal dari tanah kelahirannya, Palestina. Perang dan pertempuran antara penduduk local dan kaum Yahudi terus berlanjut. Hingga akhirnya, negara kaum Yahudi, Zionis, yang diimpikan itu pun terbentuk pda 14 mei 1948. Negara yang bernama Israel kemudian berdiri di bawah pimpinan David Ben Gurion.
Pemberian secara sepihak oleh PBB dan Inggris atas tanah Palestina pada bangsa Israel jelas adalah sebuah pelanggaran HAM. Dalam Deklarasi Universal HAM dijelaskan secara pasti bahwa setiap manusia dimuka bumi ini memiliki hak untuk hidup, merdeka, dan mendapatkan kebahagiaan. Jelas dituliskan pada pasal 3, yaitu setiap orang berhak atas penghidupan, kemerdekaan, dan keselamatan seseorang. Pada pasal 15 pun dituliskan bahwa setiap orang berhak atas suatu kewarganegaraan. Selain itu, Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik Bagian I Pasal 1 ayat 1 dituliskan bahwa semua bangsa mempunyai hak atas penentuan nasib sendiri. Berdasarkan hak tersebut mereka bebas menentukan status politik mereka dan mengejar perkembangan ekonomi, social, dan budaya mereka. Berdasarkan berbagai landasan hukum di atas, jika kemudian dipakai dalam menganalisis konflik Israel-Palestina ini, masyarakat Palestina seakan tidak diberi haknya untuk merdeka.
Jangankan diberikan haknya untuk merdeka, untuk melaksanakan hidupnya seperti biasa saja dalam ketenangan seperti mimpi bagi masyarakat Palestina. Setiap saat bisa saja mereka diserang oleh tentara Israel yang selalu berjaga untuk setiap gerakan tidak menyenangkan Palestina. Sepanjang tahun 2008 saja, Amnesty International mencatat ada sekitar 450 bangsa Palestina yang terbunuh dan ribuan lainnya terluka akibat serangan Israel dalam bentuk apa pun. Hampir setengah dari jumlah tadi adalah masyarakat sipil yang seharusnya dilindungi dalam sebuah peperangan. Selain itu, 70 korban meninggal dari 450 tadi adalah anak-anak. Jika digabungkan jumlah korban dengan tahun-tahun sebelumnya, bisa saja mencapai ribuan orang yang telah meninggal.
Selain melakukan penyerangan baik langsung maupun tidak langsung, pelanggaran HAM yang dilakukan Israel pada masyarakat Palestina juga berupa pengisolasian wilayah Palestina. Secara geografis, wilayah Palestina terbagi 2, yakni tepi barat dan jalur gaza. Kedua wilayah ini terletak terpisah dan dikelilingi oleh wilayah Israel. Seringkali tentara Israel melakukan blokade pada wilayah Gaza. Sehingga wilayah ini dan segala penduduknya terisolasi dari segala kegiatan internasional. Secara tidak langsung, blokade yang dilakukan tentara Israel ini membuat kehidupan masyarakat di sekitar Gaza sangat menderita. Bagaimana tidak, masyarakat di Gaza terkenal sangat tergantung oleh bantuan luar negeri. Bahkan ada beberapa kasus masyarakat Palestina yang sedang sekarat dan butuh pengobatan medis di Tepi Barat tidak diizinkan untuk melintas meskipun orang yang bersangkutan meninggal dunia. Sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948, lebih dari 5 juta rakyat Palestina menjadi pengungsi bahkan di tanah kelahiran mereka sendiri. Dan kemerdekaan seperti mimpi bagi rakyat Palestina. Mimpi yang selalu diyakini suatu saat nanti akan menjadi nyata.

1 Komentar »

  1. save palestina.kami juga nulis artikel tentang palestina. judulnya “aku anak palestina” liat aja di sini lngng klik aja
    http://masamudamasakritis.wordpress.com/2010/06/09/aku-anak-palestina/
    jgn lupa tinggalkan komentar juga ya…!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

huruf kecil

saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus.

ishaksalim

Just another WordPress.com site

jembatan merah

sejarah-budaya-pembangunan

kata.cerita.kita

karena tulisan itu selalu bersuara dengan tintanya, meski kita sudah tiada

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: