29 Maret 2010

Negara Islam (Khilafah Islamiyah) sebagai Salah Satu Aktor Ilmu Hubungan Internasional

Posted in Uncategorized tagged , , pada 16:12 oleh petikdua

Deskripsi Negara Islam; Khilafah Islamiyah
Negara Islam atau yang sering disebut Khilafah Islamiyah adalah sebuah sistem pemerintahan yang berasaskan ideology Islam dan metodologinya tidak keluar dari aturan atau syari’at Islam. Negara Islam tidak berbeda dengan negara-negara yang lain di bumi ini, misalnya Indonesia, Amerika, ataupun Inggris. Negara Islam juga memiliki perangkat kenegaraan yang lengkap. Perangkat kenegaraan tersebut berupa sistem perpolitikan Islam, sistem perekonomian Islam – ekonomi syari’ah – juga sistem peradilan atau sistem hukum Islam. Konstitusi dasar yang digunakan negara Islam adalah Quran dan Al-Hadist.
Dalam sejarah kejayaan Islam dan kejayaan Khilafah di dunia internasional, tercatat bahwa Islam mengalami kejayaannya sekitar abad I – XII Masehi. Pemimpin pertama umat Muslim dalam sistem Khilafah adalah Rasulullah SAW. Pada masa ini, tercatat sangat banyak kemajuan yang dialami umat muslim dengan sistem khilafahnya. Kemajuan tersebut diraih dalam bidang filsafat, sains dan teknologi. Kemajuan ini sebenarnya tidak perlu cukup diragukan, mengingat salah satu fokus utama negara Islam dengan sistem khilafahnya adalah memajukan ketiga hal tadi. Filsafat adalah dasar berkembangnya ilmu pengetahuan baik ilmu terapan seperti ekonomi, sosial politik, dan sastra, maupun ilmu pasti seperti matematika. Sedangkan sains dan teknologi adalah hal-hal dasar yang jika dikembangkan dengan baik maka akan memberi pengaruh positif pada kemajuan wilayah tersebut khususnya bidang industry. Sistem Khilafah tidak berhenti seiring dengan meninggalnya Nabi Muhammad SAW. Sepeninggal nabi, maka khalifah dijabat oleh Abu Bakar, kemudian Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan.
Meski pada abad ke-12 kejayaan Islam sudah semakin menurun, tapi sistem khilafah masih bertahan untuk menjaga tegaknya syari’at Islam. Sistem khilafa ini benar-benar jatuh sekitar tahun 1924. Pada saat itu, pusat pemerintahan Islam terletak di Turki oleh Ottoman Empire yang dipimpin oleh Mustafa Kemal At-Taturk . Belakangan diketahui bahwa dia adalah agen yang sengaja disiapkan oleh orang-orang kafir untuk menggerogoti Islam yang sangat jaya dari dalam.
Dewasa ini, sistem khilafah memang sudah tidak tegak lagi. Negara-negara muslim yang tadinya tergabung dalam satu payung Khilafah Islamiyah kemudian terpecah-pecah menjadi beberapa negara kecil. Ada beberapa sumber yang menyebutkan bahwa negara Islam (Khilafah Islamiyah) terbagi menjadi lebih 50 negara saat ini. Negara-negara pecahan tersebut kemudian terjebak dalam konsep negara-bangsa yang disebarkan oleh orang-orang Barat. Mereka dicekoki agenda-agenda sekularisme, nasionalisme, dan demokratisasi yang membuatnya jauh terpisah dengan konsep khilafah yang menjunjung tinggi Islam (keyakinan – agama) sebagai Ideologi . Tanpa sadar, fokus baru negara-negara muslim dewasa ini ternyata secara tidak langsung membawa agenda ketergantungan antara negara-negara muslim yang masuk ke kelompok negara berkembang dengan negara maju seperti Amerika Serikat ataupun negara-negara Eropa.
Adalah suatu hal yang tidak perlu diragukan lagi jika kita berbicara tentang Islam dan kejayaan Khilafah Islamiyah. Pada masa kejayaannya, peradaban Islam pada saat itu sangat besar dan dihormati serta dihargai oleh bangsa-bangsa lain. Kehebatan akan kekuatannya baik militer maupun nonmiliter sangat disegani oleh dunia internasional. Kebesaran yang sengaja dijatuhkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dan dijaga untuk tidak muncul lagi menjadi sebuah kekuatan yang nyata di dunia internasional. Dunia internasional takut akan bangkitnya lagi kejayaan Islam.
Ketakutan akan dikenalnya peradaban Islam oleh pihak-pihak yang berkepentingan dapat dianalisis di hampir seluruh aspek kehidupan. Literatur-literatur sejarah misalnya. Sangat sedikit literatur yang menceritakan dan bahkan mengakui kejayaan Islam saat itu. Selain itu, banyak juga pemikir Islam yang konsep dan pemikirannya digunakan dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern tapi namanya dirahasiakan ataukah diganti dengan ejaan latin atau barat. Misalnya, Al Hawarismi, salah satu ahli Arab yang menemukan angka 0 yang sangat berguna dalam perkembangan ilmu Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Teknik, dan lain-lain. Selain itu juga ada Ibnu Sina yang berperan dalam pengembangan ilmu kedokteran. Oleh orang barat, namanya diganti jadi Avicenna.
Selain dalam ilmu pengetahuan, dalam unit-unit analisis kajian, kejayaan peradaban Islam tempo dulu pun sering tidak dihiraukan. Dalam ilmu HI misalnya, sejarah adanya interaksi aktor-aktor yang bersifat Internasional itu selalu dimulai dari peradaban Barat yang kemudian dikonsepkan dalam interaksi negara-bangsa. Padahal, jauh sebelum itu, interaksi-interaksi internasional telah terjadi, di masa Khilafah. Konsep Politik Luar Negeri dan bagaimana Khilafah memandang Hubungan Internasional dengan negara-negara atau wilayah-wilayah di luar wilayah khilafah telah teratur dengan jelas. Khilafah Islamiyah juga sangat sedikit disebutkan dalam ilmu Hubungan Internasional sebagai salah satu aktor Ilmu Hubungan Intermnasional. Padahal pengaruh yang ditimbulkan peradaban Islam pada saat itu sangat besar dan nyata.

Deskripsi Konsep dan Teori Negara dalam Ilmu Hubungan Internasional
Inti ilmu Hubungan Internasional berkaitan dengan isu-isu yang berkaitan dengan perkembangan dan perubahan negara-negara berdaulat dalam konteks sistem negara atau masyarakat negara yang lebih besar. Fokus pada negara dan hubungan antar negara tersebut membantu menjelaskan perang dan damai yang merupakan masalah sentral para pemikir HI tradisional. Sedikit beda dengan pemikiran HI tradisional yang sangat menitikberatkan aktor pada negara, ada juga dikenal dengan HI kontemporer yang hirau bukan hanya hubungan dan interaksi antarnegara tapi juga dengan subjek lainnya, yakni interdependensi ekonomi, hak azasi manusia, perusahaan transnasional, organisasi internasional, lingkungan hidup, perbedaan gender, keterbelakangan dan seterusnya .
Sistem negara merupakan sistem hubungan sosial, yaitu sistem hubungan antara kelompok-kelompok manusia . Hubungan Internasional merupakan studi tentang sifat dan konsekuensi dari hubungan tersebut. Negara dianggap adalah sebuah integrasi dari segenap komponen penyusun negara dan merupakan benteng pertahanan oleh mereka yang merasa dilindungi dari negara tersebut. Negara lah yang menyatukan mereka. Ada lima nilai dasar social yang diharapkan dijaga oleh negara, yakni keamanan, kebebasan, ketertiban, keadilan, dan kesejahteraan .
Setiap negara diyakini memiliki kepentingan nasional. Dan negara akan melakukan apa saja unutk mewujudkan kepentingan nasional tersebut. Politik luar negeri setiap negara pun adalah pengejawantahan dari kepentingan nasionalnya masing-masing. Dalam setiap interaksi internasional yang melibatkan dua negara atau lebih, setiap pihak yang terlibat dalam interaksi tersebut secara tidak langsung tentu sedang memperjuangkan kepentingan nasionalnya masing-masing. Mereka saling menyeimbangi dalam setiap interaksi internasional karena setiap negara memiliki ideology sendiri dan dipertahankannya sendiri. Oleh karena itu, metodologi interaksi untuk pola seperti ini adalah perang dan damai yang masing-masing dari hal tersebut tentunya untuk mewujudkan kepentingan nasionalnya.

Analisis Negara Islam – Khilafah Islamiyah – sebagai SalahSatu Aktor dalam Ilmu Hubungan Internasional
Negara adalah sebuah bentuk kedaulatan atas wilayah tertentu yang disebut kemudian sebagai wilayah teritori yang dihuni oleh sekelompok penduduk sebagai warga negaranya dan memiliki tujuan negara yang merupakan kepentingan nasional setiap negara. Ada lima aspek yang diharapkan dapat diwujudkan oleh sebuah negara, yakni kedaulatan, kebebasan, ketertiban, keadilan, dan kesejahteraan. Untuk setiap kbijakannya baik yang bersifat ke dalam negeri maupun keluar negeri, negara selalu menitikberatkan untuk menjaga kelima aspek tadi.
Kedaulatan diwujudkan dalam menjaga teritorinya setiap waktu dari pihak-pihak yang memiliki kemungkinan untuk merebut wilayah kedaulatannya. Kebebasan dan ketertiban diimplementasikan dengan konsep demokrasi dimana setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban dalam kehidupan sehari-hari. Mereka bisa saja bebas untuk meraih apa yang memang sudah menjadi hak mereka, tapi juga harus mengikuti tata tertib sebuah negara untuk mengatur warga negaranya. Tata tertib ini dibuat dalam bentuk hukum atau konstitusi. Sedangkan aspek keadilan dan kesejahteraan seringkali dihubungkan dengan prilaku-prilaku ekonomi. Dalam melakukan kegiatan ekonomi dan dagang, setiuap negara jelas akan mengusahakan untuk menguntungkan dirinya guna mensejahterakan warga negaranya. Proses ini biasanya diwujudkan dalam kebijakan-kebijakan perekonomian seperti pajak, penerapan kuota, bahkan proteksi.
Khilafah adalah sebutan untuk sebuah Negara yang berideologikan Islam. Meski Islam yang selama ini kita kenal hanya sebuah agama oleh segenap umat muslim, tetapi Islam dapat mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Aturan-aturan untuk menertibkan umat diatur secara jelas dan lengkap dalam Quran yang merupakan kitab suci umat muslim.
Setiap negara diwajibkan memiliki seorang pemimpin untuk mengatur jalannya pemerintahan. Pemimpin ini dalam sistem Khilafah dikenal dengan nama Khalifah. Khalifah ini kemudian dibantu oleh pejabat pemerintahan di setiap wilayah yang menjadi bagian dari Daulah Khilafah Islamiyah (Negara Islam). Setiap negara pun diwajibkan memiliki badan militer untuk menjaga keamanan dan pertahanan wilayahnya. Sistem Khilafah pun memiliki Badan Petahanan dan keamanan negara atau Badan Militer. Setiap negara diwajibkan memiliki hukum untuk mengatur dan menertibkan hidup warga negaranya juga memiliki badan peradilan yang bertugas untuk mengekaekusi jika terdapat pelanggaran atas hukum. Hukum yang digunakan Khilafah sebagai landasan gerak adalah Quran dan Hadist. Selain itu Khilafah juga memiliki badan peradilan khusus yang dijamin akan berlaku adil pada setiap warga negara atau dengan kata lain tidak memberi kemudahan dan peringanan hukum bagi warga negara muslim.
Setiap negara diwajibkan memiliki sistem perekonomian yang dapat menyejahterakan masyarakatnya. Sistem Khilafah pun demikian. Sistem Khilafah menggunaan Sistem Ekonomi Syari’ah dalam interaksi perekonomian dan perdagangan sehari-hari untuk memberi keuntungan yang baik pada setiap warga negaranya dengan mengharamkan riba dan pajak yang berlebihan. Selain itu, Sistem Khilafah juga mengamankan hal-hal pokok yang merupakan kebutuhan dasar makhluk hidup agar tidak dikuasai oleh pihak tertentu dan menghindari terjadinya akumulasi kapital yang biasa terjadi dalam sistem ekonomi Kapitalis. Jadi, tidak ada alasan lain untuk tidak mengakui Khilafah Islamiyah sebagai sebuah negara karena sistem ini memenuhi hampir setiap unsur pembentuk dari sebuah negara.
Karena Khilafah Islamiyah telah bisa digolongkan menjadi sebuah negara, maka secara tidak langsung Khilafah juga dapat digolongkan menjadi salah satu aktor dalam kajian Ilmu Hubungan Internasional. Khilafah juga adalah sebuah negara yang memiliki kepentingan nasional. Kepentingan nasional dari sebuah Khilafah Islamiyah yaitu untuk mewujudkan penegakan syari’at Islam dalam setiap tata hidup manusia dan mengusahakan penyebaran Islam sebagai sebuah agama yang dianut oleh setiap manusia. Namun, sedikit berbeda dengan konsep negara pada umumnya. Negara pada umumnya memiliki kepentingan nasional yang nantinya jika kepentingan nasionalnya tersebut terwujud, maka yang merasakan manfaatnya adalah negara dan warga negara yang bersangkutan. Konsep Khilafah memang juga memiliki kepentingan nasional yang akan berusaha diwujudkan melalui politik luar negeri Negara Islam tersebut, tapi dampak jika kepentingan nasional tersebut terwujud dapat dirasakan oleh hampir seluruh umat manusia di bumi ini.
Dalam kitab Mitsaqul Ummah dijelaskan bahwa pelaksanaan politik luar negeri Khilafah Islamiyah dibagi dalam dua bentuk utama. Pertama, aktivitas-aktivitas secara proaktif dilaksanakan dengan aktor HI lainnya untuk mewujudkan kepentingan nasional Khilafah Islamiyah dalam bentuk dakwah. Kedua, jika aktivitas-aktivitas pertama telah dilakukan secara maksimal dan kepentingan nasional Khilafah belum terwujud, maka dilakukanlah aktivitas politik dan diplomasi. Pada saat menjadi Khalifah, Rasulullah sempat mengirim sahabat-sahabatnya untuk mengajarkan Islam ke Nejd. Ini merupakan contoh dari strategi dakwah. Adapun surat-surat ataupun utusan-utusan yang dikirim Rasulullah kepada negara-negara seperti Romawi, Persia, dan Habsyah merupakan bentuk diplomasi. Rasulullah juga melakukan berbagai perjanjian dengan wilayah sekitar, seperti dengan penduduk Ailah di perbatasan Syam, dan ini merupakan bentuk aktivitas politik .
Dalam konsep Khilafah , terdapat empat macam aturan hubungan antara negara-negara lain dengan negara Khalifah, yakni:
1. Dengan negara-negara di dunia Islam yang belum bergabung secara sah dengan Khilafah. Untuk dengan golongan ini, Negara Khilafah tidak memberikan penggolongan tertentu. Malahan pada beberapa kasus, Negara Khilafah seakan-akan menganggap bahwa wilayah ini secara tidak langsung juga menjadi bagian dari Negara Khilafah.
2. Dengan negara-negara kafir yang memiliki perjanjian. Golongan ini disebut Kafir Mu’ahid. Perjanjian yang disepakati bisa berupa erjanjian dagang dan ekonomi, bertetangga baik, sains dan teknologi, atau hubungan diplomatik (penempatan duta besar/konsulat).
3. Dengan negara-negara kafir yang tidak terikat perjanjian apa pun. Negara kafir seperti ini dinamakan kafir harbi hukman. Terhadap mereka, negara-negara Khilafah bersikap waspada dan tidak dibolehkan menjalin hubungan diplomatik. Penduduknya dibolehkan untuk masuk ke dalam wilayah Negara Khilafah, tapi harus membawa semacam visa atau paspor khusus untuk melengkapi identitasnya dalam Negara khilafah.
4. Dengan negara-negara kafir yang melakukan konfrontasi atau penyerangan secara terang-terangan pada negara-negara muslim atau Negara Khilafah. Kelompok seperti ini disebut kafir harbi fi’lan. Terhadap mereka, Negara Islam bersikap seperti dalam kondisi peperangan. Setiap penduduknya tidak dibolehkan masuk ke dalam wilayah Negara Khilafah karena dianggap musuh negara.
Pada beberapa literatur yang membahas tentang Negara Khilafah dan penyebaran ideology Islam, disebutkan bahwa Islam dalam politik luar negerinya seringkali melakukan kekerasan. Dianggap bahwa Islam seringkali melakukan perang untuk menaklukkan sebuah wilayah agar tunduk dengan syari’at Islam. Anggapan ini jelas adalah anggapan yang salah dan terlalu dini dari orang-orang yang belum terlalu memahamui Negara khilafah. Perang memang adalah salah satu metode interaksi yang digunakan para Khalifah unutk mewujudkan kepentingan nasional sebuah negara islam, yakni penegakan sistem Khilafah di dunia. Namun, sebelum menyerang suatu wilayah dengan tujuan untuk membebaskannya ke peradaban islam yang lebih baik, setiap Khalifah selalu mengirim utusan baik rang maupun surat-surat yang merupakan metode dilomasi unutk mengajak pihak tersebut untuk sama-sama menegakkan hukum Islam (Khilafah). Ketika surat-surat tersebut direspon negatif oleh pihak yang bersangkutan, maka disinalah baru dibutuhkannya perang yang biasa disebut orang-orang yang berperang dengan istilah Jihad fi Sabilillah (Berjuang di jalan Allah).

Simpulan
Khilafah Islamiyah adalah sebuah sistem atau negara yang berlandaskan pada ideology Islam. Khilafah Islamiyah seringkali disebut dengan Negara Islam atau negara Khilafah. Seperti halnya negara-negara lain di dunia, Negara Khilafah juga memiliki kepentingan nasional yang akan selalu diperjuangkan untuk diwujudkan. Untuk mewujudkan kepentingan nasional tersebut, Negara Khilafah melakukan politik luar negeri dalam bentuk dakwah dan jihad. Namun, bedanya jika kepentingan Negara Khilafah ini terwujud, manfaatnya dapat dirasakan oleh segenap umat manusia karena sistem Khilafah tidak pernah mendiskriminasikan umat-umat lain selain umat Islam selama umat tersebut adalah warga negara Negara Khilafah dan menjunjung tinggi syari’at sebagai tata hidup sehari-hari masyarakat. Khilafah Islamiyah adalah sebuah negara yang juga berinteraksi dalam dunia internasional. Oleh karena itu, Khilafah Islamiyah pun adalah salah satu aktor dari kajian Ilmu Hubungan Internasional.

6 Komentar »

  1. men999 said,

    BENAR KAH..>???

    JIKA BENAR KENAPA KOK SELALU NEGARA ISLAM DI MUSUHI DIANGGAP SEBAGAI NEGARA TERORIS

    http://firtstest.wordpress.com/

    • petikdua said,

      @men999 – benar apanya nih?
      kalau apa yang saya tulis yah emang menurut saya begitu.
      saya hanya ingin mengatakan dan mengajak teman-teman menganalisis lebih lanjut klau negara islam (khilafah islamiyah) pun termasuk salah satu aktor dalam interaksi dunia ini.
      kalau negara islam yang selalu dicitrakan sebagai teroris, itu kan masalah media saja.
      bagaimana media membesar-besarkan apa yang memang ingin dibesarkan.
      itulah gunanya media-media independen seperti kita.
      untuk tetap bersuara netral. semoga.

      syukran 4 sharing,^

  2. andree said,

    assalamu’alaikum
    kayaknya tulasan antum perlu banyak perobahan kata-kata nih..sepertinya kata “nasionalisme” tidak ada dalam khilafah atau kata berupa “kepentingan Nasional Khilafah” emang Khilafah negara nasional apa?
    demikian dari saya

    • petikdua said,

      waalaikumsalam warahmatullah..

      afwan, br sempat balas komennya..
      syukran atas sarannya..
      Nasionalisme memang tidak pernah disebutkan dalam ke-Khilafah-an, ataupun kepentingan nasional..
      istilah itu ibarat diksi sj,supaya pembaca bs menganalogikan dengan mudah apa yang menjadi maksud pembahasan..

  3. saharpova said,

    hanya buat sharing…

    Dalam kekhalifahan, tidak ada konsep nasionalisme, karena negara Islam tidak terbentuk dari struktur dasar yang disebut nation. negara Islam terbentuk atas dasar ikatan ideologi yang mendasar, yaitu agama. sangat berbeda dengan konsep nasionalisme yg terbangun atas dasar ikatan emosional yang kuat sebagai konsekuensi interaksi yang intens antara anggota masyarakat di suatu lokasi.

    Halaman2 awal buku Hans J. Morgenthau menggambarkan bagaimana nasionalisme itu terbentuk di masa lalu sebagai akibat dari “ambisi” sekelompok penguasa di Eropa yang merasa sudah cukup kuat untuk melawan hegemoni Gereja Roma, sehingga mereka memberontak dan menuntut pemerintahan sendiri lepas dari ikatan dan intervensi gereja.

    itulah mengapa kemudian dia mengatakan (kira-kira kutipannya seperti ini, mudah2an tidak merubah substansi) bahwa nasionalisme menjadi pembatas bagi ikatan-ikatan antar manusia yang sebelumnya terbentuk atas dasar solidaritas dan nilai-nilai yang universal seperti agama dan nilai-nilai kemanusiaan.

    bagi Islam, nasionalisme lah sumber permasalahan yang membuatnya terpecah. kasusnya akan sama dengan penganut paham komunisme.

    Faktanya, bahwa orang Malaysia dan Indonesia bisa saling mencaci dan mencuri hak atas nama naionalisme dan melupakan kalau mereka adalah saudara se-iman. hal yang sama terjadi di berbagai belahan dunia dgn perang dan konflik yang terjadi akibat saling klaim lebih berhak atas dasar nasionalisme dan melupakan kesamaan mereka yang jauh lebih universal.

    sementara bagi penganut komunisme, nasionalisme menjadi salah satu tantangan dan hambatan terbesar bagi terwujudnya masyarakat internasional yang komunal.

    Ingat juga, bahwa klaim nasionalisme itulah yang memperkuat alasan sebuah negara berkonflik hari ini, sebuah kemunduran peradaban menurut saya, ketika di masa lalu orang berperang demi ideologi yang kepercayaan rasionalnya untuk mewujudkan cita-cita ideologinya.

    sekedar refleksi bagi pemerintah Indonesia yg selalu menuntut semangat nasionalisme pemudanya. saya kira sudah saatnya anak muda negeri ini mencerna kritis konsep “nasionalisme”. ketika pemerintah anda menuntut anda untuk menjadi “nasionalis”, apakah mereka melakukannya dengan cara yang benar? dengan menjual negara anda kepada pemodal asing tanpa menyisakan untuk dapur rakyatnya? sementara mereka bisa melakukan lebih dengan memberikan perlindungan terhadapnya.

    nasionalisme, sejak dulu selalu menjadi jargon efektif dalam menyatukan sekelompok manusia “dungu” agar mereka menjadi legitimasi dan berada di garis depan mendukung setiap langkah pemerintah. apapun itu??

    Btw,tulisan yg asyik…

    • petikdua said,

      syukran masukannya.

      nasionalisme memang tidak pernah ada dalam sistem Khilafah, karena ikatan yang terbentuk adalah berdasarkan ideologis, bukan kekuasaan/kedaulatan yang selalu menjadi hal utama dalam negara, sebagaimana yang diyakini oleh mereka yang berpaham realis.

      Di sini saya hanya melihat Khilafah sebagai salah satu aktor dalam Ilmu HI. Maksudnya, ketika sistem ini juga melakukan interaksi dengan sistem lain diluar sistem ke-Khilahan, maka secara tidak langsung sistem ini pun melakukan interaksi internasional dengan membawa kepentingan masing-masing dalam proses diplomasi dan atau negosiasi diantara kedua pihak.

      but,
      thanks anyway for the comment..
      so constructive…
      ^^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

huruf kecil

saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus.

ishaksalim

Just another WordPress.com site

jembatan merah

sejarah-budaya-pembangunan

kata.cerita.kita

karena tulisan itu selalu bersuara dengan tintanya, meski kita sudah tiada

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: