8 April 2010

Terorisme Abad 21

Posted in Uncategorized pada 04:21 oleh petikdua

“Terorisme adalah penggunaan kekuasaan tidak sah atau kekersan atas seseorang atau harta untuk mengintimidasi sebuah pemerintahan, penduduk sipil dan elemen-elemennya untuk mencapai tujuan-tujuan social atau politik” (menurut FBI)
“Terorisme mengandung arti sebagai penggunaan atau ancaman tindakan dengan cirri-ciri sebagai berikut: (1) Aksi yang menyebabkan kekerasan serius terhadap seseorang, kerugian berat pada harta benda, membahayakan kehidupan seseorang, bukan kehidupan orang yang melakukan tindakan, menciptakan resiko serius bagi kesehatan atau keselamatan public atau bagian tertentu dari public atau didesain secara serius untuk campur tangan atau mengganggu sistem elektronik; (2) Penggunaan atau ancaman yang didesain untuk memperngaruhi pemerintah atau untuk mengintimidasi public atau bagian tertentu public; (3) Penggunaan atau ancaman dibuat dengan tujuan mencapai tujuan politik, agama, atau ideology; (4) Penggunaan atau ancaman yang masuk dalam subseksi yang melibatkan penggunaan senjata api atau bahan peledak.
Terdapat sangat banyak definisi tentang terorisme yang tersebar dalam ruang informasi global dewasa ini. Perkembangan dunia yang begitu cepat dalam pembangunan dan akses informasi yang semakin memudahkan transformasi informasi antar sesama umat manusia mendukungnya tersebarnya isu Terorisme dengan sangat cepat dan menyebabkan pengkajian tentang terorisme yang kemudian merumuskan berbagai macam definisi tentang terorisme. Dua definisi di atas adalah definisi terorisme yang akan kita gunakan untuk membantu analisis tulisan saya tentang Terorisme Abad 21. Intinya, terorisme adalah sebuah tindakan yang bersifat ancaman, memiliki tujuan baik social maupun politik, dan telah didesain sebelumnya untuk menguntungkan pihak yang melakukan aksi terorisme.
Selama ini, pahaman kita tentang terorisme dibentuk oleh media yang juga dipegang oleh beberapa orang yang memiliki kepentingan. Sadar atau tidak, kita memiliki pahaman yang sangat sempit mengenai terorisme. Setiap kali mendengar istilah terorisme, yang terbersit di kepala kita adalah aksi-aksi para pejuang kemerdekaan di Palestina, konflik-konflik di Timur Tengah, dan parahnya, kerap kali terorisme dihubung-hubungkan oleh Islam.
Terorisme telah kita pahami bersama adalahs ebuah tindakan yang bersifat ancaman terhadap ketenangan umat manusia di bumi ini. Jika kita lebih kritis, kehidupan kita di Abad 21 ini sangat dikelilingi oleh berbagai ancaman dari pihak-pihak yang hendak mengambil keuntungan atas hidup kita. Itu jika ditinjau dari aspek individu. Jika meluas dalam tingkat analisis negara, Hampir seluruh negara di dunia ini, terkhusus negara-negara yang masuk dalam kelompok Negara Dunia Ketiga, Indonesia misalnya, tengah mengalami terror oleh teroris yang tidak pernah mereka sadari mengancam mereka dengan lebih kejam dan berdampak jangka panjang. Terorisme Abad 21.
Jika tahun 2001 adalah tahun dimana isu terorisme dikenal luas oleh masyarakat dunia akibat serangan 11 September di WTC, Amerika yang mereka klaim adalah tindakan terorisme, maka negara-negara dunia ketiga telah lebih dulu dicekoki oleh agenda terorisme negara-negara maju. Ekonomi Pembangunan merupakan agenda utama yang ditawarkan oleh negara-negara maju sebagai solusi atas keterpurukan dan solusi yang tepat yang harus dipakai oleh negara-negara berkembang dalam menghadapi Era Globalisasi yang penuh persaingan. Negara-Negara Berkembang, begitu juga Indonesia, diberikan gambaran-gambaran menakutkan tentang bagaimana dampak yang tidak menyenangkan ketika mereka tidak menganut paham Ekonomi Pembangunan dalam penerapan ekonomi negaranya.
Indonesia misalnya, ketika mengalami krisis ekonomi pada tahun 1997, seiring dengan semakin akutnya krisis ekonomi kapitalisme global, dicekoki tawaran-tawaran yang diibaratkan sebagai obat atas krisis ekonomi ini. Melalui lembaga-lembaga keuangan dunia, dimana kebanyakan asetnya dikuasai oleh kelompok negara-negara Maju, Terorisme atas ekonomi dan ketenangan Indonesia dimulai. IMF menjerumuskan kita dalam perangkap SAP (Structural Adjustment Program). Sama halnya ketika IMF juga menjerumuskan Mexico dalam terror ketergantungan pada tahun 1982.
Secara umum, Program SAP bercirikan pertama, meniadakan hambatan investor asing di sektor industry, perbankan, dan jasa keuangan lainnya.Tidak ada lagi pemihakan terhadap industry lokal, bak lokal, maupun perlindungan terhadap intervensi yang kuat. Kedua, Reorientasi ekonomi difokuskan kea rah ekspor guna memperoleh valuta asing yang dibutuhkan untuk membayar utang dan semakin tergantung pada ekonomi global. Akibatnya mengurangi keswadayaan dan diversifikasi produk lokal. Ketiga, mengurangi upah atau menurunkan kenaikan upah, agar ekspor lebih kompetitif. Ini akan mengurangi pengeluaran pemerintah, termasuk pengeluaran untuk kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan yang dikombinasikan dengan pengurangan upah. Hal ini akan mengurangi inflasi dan menjamin seluruh uang yang akan digunakan ke arah peningkatan produksi untuk ekspor. Keempat, Memotong bea masuk atau tarif, kuota, serta hambatan-hambatan lainnya untuk impor guna mempermudahkan pengintegrasian modal global. Kelima, Melakukan devaluasi terhadap mata uang lokal terhadap mata uang kertas, seperti dollar amerika guna membuat ekspor kompetitif. Kelima, Privatisasi perusahaan-perusahaan negara serta menyediakan kemudahan bagi masuknya modal asing.
Dalam membangun negara dan perekonomian negaranya, dan untuk menyukseskan segala agenda-agenda neoliberalisasi di Indonesia, Indonesia pun ditawari utang dari berbagai lembaga keuangan internasional yang bunganya dari tahun ke tahun terus saja berkembang secara fluktuatif. Ini lah iklim yang hendak dibangun oleh terorisme abad 21 dengan membuat negara-negara berkembang, seperti Indonesia misalnya, terus saja tergantung oleh bantuan luar negeri berupa utang guna menyokong pembangunan negaranya. Akibatnya, negara yang bersangkutan tidak bisa mandiri dan berdiri sendiri karena dikelilingi oleh berbagai kepentingan dari pihak-pihak tempat mereka bergantung. Ancaman ketergantungan inilah yang kemudian menghasilkan sebuah ketidaktenangan akut di negara-negara berkembang dengan utang sebagai teroris utamanya.
Indonesia misalnya, harus menyisihkan 40% anggaran negaranya pada tahun 2005 untuk membayar cicilan dan bunga utang. Sebagai konsekuensinya, alokasi anggaran negara untuk hal-hal vital seperti BBM, pendidikan, dan kesehatan harus dikurangi. Perlu kita ketahun bahwa BBM yang naik sebesar 30% saja, dapat menambah jumlah rakyat miskin sebesar 20 juta jiwa. Indonesia pada tahun 2010 ini memiliki 40 Juta jiwa rakyat miskin dengan total utang luar negeri sebesar 132,779 milyar USD.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

huruf kecil

saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus.

ishaksalim

Just another WordPress.com site

jembatan merah

sejarah-budaya-pembangunan

kata.cerita.kita

karena tulisan itu selalu bersuara dengan tintanya, meski kita sudah tiada

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: