15 April 2010

Pangan dan Kedaulatan Pangan

Posted in Uncategorized tagged , , pada 03:03 oleh petikdua

Pangan adalah salah satu kebutuhan primer umat manusia dalam melanjutkan hidupnya di dunia. Dikatakan kebutuhan primer karena jika hal tersebut tidak dipenuhi, maka akan sangat berpengaruh pada keberlangsungan kehidupan manusia yang bersangkutan. Oleh karena itu, negara sebagai pelindung setiap warga negaranya perlu memperjuangkan dan mengusahakan agar kebutuhan pangan dari setiap masyarakatnya terpenuhi dengan baik.
Indonesia, sebagai salah satu negara agraris, termasuk salah satu negara dengan keragaman hayati yang cukup kaya di dunia. Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya Sumber Daya Alam yang tentu saja jika diolah dengan baik dapat menunjang kesejahteraan masyarakatnya. Bahkan seringkali kelakar mengatakan bahwa jika tongkat dan kayu saja ditanam akan menjadi sebuah tanaman yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup umat manusia.
Sebagai negara agraris, maka kegiatan masyarakat Indonesia seringkali dihiasi oleh kegiatan pertanian dan perkebunan. Yang menjadi focus utama dalam kegiatan ini adalah pemenuhan kebutuhan dasar manusia, yakni pangan. Adapun jika terdapat kelebihan dalam pangan yang diproduksi dari ladang yang digarap masyarakat, dianggap sebagai bonus yang dapat di jual guna menghasilkan keuntungan. Jadi, kegiatan pertanian di ladang tidak bertujuan intensifikasi produksi pertanian seperti konsep revolusi hijau saat ini, tetapi sekadar pemenuhan kebutuhan hidup umat manusia.
Dengan menggarap ladang untuk pemenuhan kebutuhan sendiri, maka terciptalah kemandirian pangan di setiap manusia. Dikatakan kemandirian pangan karena mereka mengusahakan pangan untuk dikonsumsi sendiri. Meskipun terkesan tradisional dan tidak praktis, tapi konsep ini mengajarkan masyarakat untuk tidak malas dan selalu bekerja.
Kemandirian pangan sebagai dampak positif sikap dasar masyarakat pertanian kemudian akan bermuara pada kemandirian ekonomi dan peningkatan perekonomian rakyat Indonesia. Dengan memproduksi pangan sendiri, bahkan jika produksi pangan tersebut berlebih dapat diperdagangkan juga, diyakini akan menjauhkan ketergantungan yang selama ini menjadi fenomena bangsa kita yang sebenarnya kaya raya.
Indonesia pada masa Orde Lama sebenarnya menganut dan mengimplementasikan pahaman ini. Pembangunan bangsa pertama kali difokuskan untuk mewujudkan kemandirian bangsa. Tahapan awal yang ditempuh guna kemandirian bangsa tersebut adalah kemandirian dalam bidang pangan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya sekolah-sekolah khusus berkurikulum pengembangan pertanian yang dibangun di Indonesia. Pendidikan pertanian ini kemudian menghasilkan para akademisi dan praktisi dalam bidang pertanian yang secara bersama-sama diharap dapat mewujudkan dan menjaga kemandirian pangan dan kemandirian bangsa. Selain menghasilkan akademisi dan praktisi dalam bidang pertanian, pendidikan berbasis kurikulum pertanian pun menghasilkan masyarakat yang mengerti akan pangan.
Namun, keadaan ini ternyata tidak berlangsung lama. Ketika Indonesia memasuki rezim Orde Baru, Indonesia memilih untuk membangun bangsa ini dari segi infrastruktur dan pembangunan ekonomi. Kebijakan bersifat liberalisasi mulai ditegakkan seiring dengan masuknya pahaman Neoliberalisme dan Kapitalisme dalam pemerintahan Indonesia. Sikap yang sangat memperhatikan pasar dan peluang ekonomi ini membuat kedudukan pertanian yang tadinya menjadi focus utama bangsa semakin terpinggirkan. Bahkan semangat awal pertanian yang tadinya diusahakan untuk pemenuhan kebutuhan diri sendiri saja juga dirembesi pahaman-pahaman liberal kapitalis. Pemerintah mengubah orientasi pemenuhan kebutuhan tadi menjadi orientasi produksi yang dikenal dalam Revolusi Hijau.
Metodologi pertanian Indonesia yang masih tradisional tidak mampu mewujudkan produktivitas pertanian yang maksimal. Pertanian ini perlu didukung oleh teknologi dan bibit-bibit serta pupuk-pupuk organic yang telah dimodifikasi dan diuji sedemikian rupa agar dapat menghasilkan produksi pangan lebih banyak dari biasanya dalam jangka waktu yang lebih cepat dari biasanya. Terwujudlah kemudian liberalisasi pertanian yang berorientasi pasar.
Namun, ternyata bibit dan pupuk hasil olahan genetika yang digunakan petani untuk memaksimalkan produsi pertaniannya memberi dampak buruk bagi lingkungan dan merugikan petani yang bersangkutan. Obat-obatan genetika tadi ternyata memiliki efek samping yang memaksa petani untuk menggunakan pestisida yang juga diproduksi oleh korporasi yang memproduksi bibit dan pupuk hasil olahan genetika. Petani disin bukan lagi berperan sebagai produsen pangan dunia, melainkan telah menjadi konsumen dari bibit dan pupuk genetika olahan korporasi pertanian yang harganya kian melonjak. Akibatnya, terwujudlah suatu lingkaran yang menjebak petani dalam ketergantungan dengan korporasi pertanian dan berujung pada kemiskinan petani.
Jangan kan untuk meningkatkan perekonomian rakyat, untuk memenuhi kebutuhan sendiri saja petani sudah mengalami kesulitan. Percuma menjadi sebuah negara yang memiliki kekayaan alam melimpah, jika tidak bisa mengolah kekayaan alamnya untuk memenuhi kebutuhan diri. Oleh karena itu, kedaulatan pangan memang sangat penting guna mewujudkan peningkatan perekonomian rakyat Indonesia, sehingga tidak ada lagi ketergantungan terhadap pihak korporasi yang hanya mengedapankan keuntungan.

2 Komentar »

  1. koropedang said,

    semoga petani-petani indonesia menjadi petani yang berdaya. Tidak sellau jadi objek kapitalisme belaka.thanks atas tulisannya.
    salam knal dari saya Devianty di lengkong-Bandung
    http://koropedang.wordpress.com

    • petikdua said,

      Amin..
      sistem intensifikasi pertanian dan liberalisasi memang sangat memojokkan petani khususnya diIndonesia..
      pangan itu kebutuhan primer setiap masyarakat..
      sebaiknya tidak untuk diindustrialisasikan..

      salam kenal,^


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

huruf kecil

saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus.

ishaksalim

Just another WordPress.com site

jembatan merah

sejarah-budaya-pembangunan

kata.cerita.kita

karena tulisan itu selalu bersuara dengan tintanya, meski kita sudah tiada

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: