26 Februari 2011

Terorisme Abad ke-21

Posted in Uncategorized tagged , , , , pada 17:38 oleh petikdua

“Terorisme adalah penggunaan kekuasaan tidak sah atau kekerasan atas seseorang atau harta untuk mengintimidasi sebuah pemerintahan, penduduk sipil, dan elemen-elemennya untuk mencapai tujuan-tujuan sosial atau politik.”
(menurut FBI)

“Terorisme mengandung arti sebagai penggunaan atau ancaman tindakan dengan ciri-ciri sebagai berikut: (1) Aksi yang menyebabkan kekerasan serius terhadap seseorang, kerugian berat terhadap harta benda, membahayakan kehidupan seseorang, bukan kehidupan orang yang melakukan tindakan, menciptakan resiko serius bagi kesehatan atau keselamatan publik atau bagian-bagian tertentu dari publik atau didesain secara serius untuk campur tangan atau mengganggu sistem elektronik; (2) Penggunaan atau ancaman yang didesain untuk mempengaruhi pemerintah atau untuk mengintimidasi publik atau bagian tertentu publik; (3) Penggunaan atau ancaman dibuat dengan tujuan mencapai tujuan politik, agama, atau ideologi; (4) Penggunaan atau ancaman yang masuk dalam subseksi yang melibatkan penggunaan senjata api atau bahan peledak.”

Terdapat sangat banyak definisi tentang terorisme yang tersebar dalam ruang informasi global dewasa ini. Perkembangan dunia yang begitu cepat dalam pembangunan dan akses informasi yang semakin memudahkan transformasi informasi antar sesama umat manusia mendukung tersebarnya isu terorisme dengan sangat cepat. Hal ini juga menyebabkan isu terorisme semakin sering dikaji dan kemudian, dirumuskanlah berbagai macam definisi tentang terorisme. Dua definisi di atas adalah definisi yang akan kita gunakan untuk membantu analisis tulisan saya tentang “Terorisme Abad ke-21”. Intinya, terorisme adalah sebuah kegiatan yang bersifat ancaman, memiliki tujuan baik sosial, maupun politik, dan telah didesain sebelumnya untuk menguntungkan pihak yang melakukan aksi terorisme.

Selama ini, pahaman kita tentang terorisme dibentuk oleh media yang juga dipegang oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tersendiri. Sadar atau tidak, kita memiliki pahaman yang sangat sempit mengenai terorisme. Setiap kali mendengar istilah terorisme, setiap kali yang terbersit di kepala kita adalah aksi-aksi para pejuang Palestina, konflik-konflik di Timur Tengah, dan parahnya, kerapkali terorisme dihubung-hubungkan dengan Islam.

Terorisme telah kita pahami bersama adalah sebuah tindakan yang bersifat ancaman terhadap ketenangan umat manusia di bumi ini. Jika kita melihatnya dengan lebih kritis, kehidupan kita di Abad XXI inisangat dikelilingi oleh berbagai ancaman dari pihak-pihak yang hendak mengambil keuntungan dari hidup kita. Itu jika ditinjau dari aspek individu. Jika meluas dalam tingkat analisis negara, hampir seluruh negara di dunia ini, terkhusus negara-negara yang masuk dalam kelompok Negara Dunia Ketiga, Indonesia misalnya, tengah mengalami teror oleh teroris yang tidak pernah mereka sadari tengah mengancam dan menggerogoti mereka dengan lebih kejam dan berdampak jangka panjang. Terorisme Abad XXI.

Tahun 2001 adalah tahun dimana isu terorisme dikenal luas oleh masyarakat dunia akibat serangan 11 September 2001 di gedung WTC AS. Jika tahun ini dianggap sebagian pihak adalah tahun kebangkitan terorime, maka Negara-Negara Dunia Ketiga sebenarnya telah lebih dulu dicekoki oleh agenda-agenda ‘terorisme’ Negara Maju. Ekonomi pembangunan merupakan agenda pertama yang ditawarkan Negara Maju sebagai solusi atas keterpurukan dan solusi yang tepat, yang harus dipakai oleh Negara-Negara Berkembang dalam menghadapi era Globalisasi yang penuh persaingan. Negara-Negara Berkembang, begitu pun Indonesia, diberikan gambaran-gambaran menakutkan tentang bagaimana dampak yang tidak menyenangkan ketika mereka tidak menganut paham Ekonomi Pembangunan dalam penerapan ekonomi negaranya.

Indonesia misalnya, ketika mengalami krisis ekonomi pada tahun 1997/1998, seiring dengan semakin akutnya krisis ekonomi kapitalisme global, dicekoki tawaran-tawaran yang diibaratkan sebagai obat atas krisis ekonomi tersebut. Melalui lembaga-lembaga keuangan dunia,dimana kebanyakan asetnya dikuasai oleh kelompok Negara Maju, terorisme atas ekonomi dan ketenangan Indonesia pun dimulai. IMF menjerumuskan kita dalam perangkap SAP (Structural Adjustment Program). Sama ha nya ketika IMF pun menjerumuskan Mexicodalam teror ketergantungan pada tahun 1982.

Secara umum, program SAP bercirikan (1) Meniadakan hambatan investor asing di sektor industri, perbankan, dan jasa keuangan lainnya. Tidak ada lagi pemihakan baik terhadap industri lokal; (2) Reorientasi ekonomi difokuskan pada sektor ekspor guna memperoleh valuta asing yang dibutuhkan untuk membayar utang dan semakin tergantung pada ekonomi global. Akibatnya, mengurangi ke-swadaya-an dan diversifikasi produk lokal; (3) Mengurangi upah, atau menurunkan kenaikan upah, agar ekspor lebih kompetitif. Ini akan mengurangi pengeluaran pemerintah, termasuk pengeluaran untuk kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan yang dikombinasikan dengan pengurangan upah. Hal ini akan mengurangi inflasi dan menjamin seluruh uang akan digunakan ke arah usaha peningkatan produksi untuk ekspor; (4) Memotong bea masuk atau tarif, kuota, serta hambatan-hambatan lainnya untuk impor guna mempermudah pengintegrasian perekonomian global; (5) Melakukan devaluasi terhadap mata uang lokal, misalnya Rupiah terhadap Dollar AS, guna membuat ekspor lebih kompetitif; (6) Privatisasi perusahaan-perusahaan negara serta menyediakan kemudahan bagi masuknya modal asing.

Dalam membangun negara dan perekonomian negaranya, dan untuk menyukseskan segala agenda-agenda neoliberalisasi di Indonesia, Indonesia pun ditawari utang dari berbagai lembaga keuangan internasional yang bunganya dari tehun ke tahun terus saja berkembang secara fluktuatif. Inilah iklim yang hendak dibangun oleh Terorisme Abad ke-21. Dengan membuat negara-negara berkembang, seperti Indonesia misalnya, terus saja tergantung oleh bantuan luar negeri yang berupa utang guna menyokong pembangunan negaranya. Akibatnya, negara yang bersangkutan tidak bisa mandiri dan berdiri sendiri karena dikelilingi oleh berbagai kepentingan tempat mereka bergantung. Ancaman ketergantungan inilah yang kemudian menghasilkan ketidaktenangan akut di negara-negara berkembang dengan utang sebagai teroris utamanya.

Indonesia misalnya, harus menyisihkan 40% anggaran negaranya pada tahun 2005 untuk membayar cicilan dan bunga utang. Sebagai konsekuensinya, alokasi anggaran negara untuk hal-hal vital seperti BBM, pendidikan, dan kesehatan harus dikurangi. Perlu kita ketahui bahwa BBM yang naik sekitar 30% saja dapat menambha jumlah rakyat miskin sebesar 20 juta jiwa. Indonesia sendiri, pada tahun 2010, memiliki 40 juta jiwa rakyat miskin dengan total utang luar negeri sebesar 132,779 milyar USD.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

huruf kecil

saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus.

ishaksalim

Just another WordPress.com site

jembatan merah

sejarah-budaya-pembangunan

kata.cerita.kita

karena tulisan itu selalu bersuara dengan tintanya, meski kita sudah tiada

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: