1 Maret 2013

Adaptasi Warga Pesisir Pulau Kei Kecil Menghadapi Perubahan Iklim Global

Posted in Uncategorized tagged , , , pada 22:31 oleh petikdua

Seluruh bumi akan merasakan dampak perubahan iklim. Uni Eropa dan Amerika Serikat termasuk lima penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca. Baik dari segi industri, maupun gaya hidup konsumerisme masyarakat di kota besar itu.

Di Inggris, salah satu negara di Eropa, sebuah band menunjukkan langkah nyata mereka dalam menjaga nilai musik dan kepekaan lingkungan; Radiohead. Radiohead menyewa konsultan lingkungan; Best Foot Forward Ltd, untuk membuat laporan tentang jumlah karbon yang dihasilkan sepanjang tur mereka di Amerika Utara sejak 2003 hingga 2006. Di saat beberapa aktor global yang malu dan selalu mencari cara sembunyi dari kenyataan besarnya sumbangsih karbon mereka, Radiohead hadir dengan keberaniannya mempublikasikan hal tersebut sebagai sentilan kecil. Setiap kegiatan jelas berpotensi untuk menyumbang karbon pada dunia, tinggal bagaimana kita sebagai konsumen bisa tetap kritis dalam menjaga iklim global yang masih dibutuhkan oleh generasi berikutnya.

Pada Juli 2007, perusahaan tersebut menerbitkan  “The Ecological Footprint and Carbón Audit of Radiohead North American Tours, 2003 dan 2006”. Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa total dampak dari kedua turnya mencapai 11.368 ton CO2 dengan area penelitian ekologi seluas 4.557 ha. Sejak itu, Radiohead mengusahakan bermusik dengan meminimalisir karbon yang dihasilkan dengan cara penerangan hemat energi, penggunaan barang-barang daur ulang untuk gelas minum, kertas poster, foto, dan lirik lagu, juga meminimalisir penggunaan barang-barang plastik. Gerakan Radiohead ini hanya sebagian kecil dari upaya mitigasi di Eropa yang masih saja menjadi lima penyumbang terbesar emisi CO2. Sedangkan, beberapa negara berkembang seperti Indonesia tergolong paling rentan terkena dampak bencana dari perubahan iklim, terutama kepulauan kecil di Indonesia bagian timur.

Sebuah lembaga yang didirikan pada tahun 1942 di Oxford, Inggris, telah memiliki jaringan luas di banyak negara. Oxfam adalah  konfederasi International dari tujuh belas organisasi yang bekerja di 92 negara bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan. Di Indonesia, Oxfam bekerja sejak tahun 1957 untuk mendorong pengentasan kemiskinan melalui kegiatan pengembangan kehidupan berkelanjutan. Di wilayah Indonesia Timur, Oxfam banyak bekerja di area rawan bencana dan desa pesisir untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam adaptasi pengelolaan sumberdaya pesisir dan perubahan iklim.

***

Di Kepulauan Kei, wilayah Kabupaten Maluku Tenggara, masyarakat di pesisir barat pulau ini menyaksikan perubahan garis pantai di kampung mereka yang kian tergerus. Pada tahun 1960an, di Desa Wab Ngufar dan Watngil masih terdapat bentangan pasir sekira 30 meter ke arah laut yang ditumbuhi tanaman tandan dan semak belukar. Pada tahun 1970an, garis pantai mencapai barisan pertama permukiman lama, sehingga satu persatu rumah gantung tersebut  mulai berpindah puluhan meter dari pantai dan membentuk permukiman baru. Sekarang, tersisa 4 rumah di permukiman lama tersebut.

Pada suatu pagi di Bulan Oktober, yang merupakan puncak musim kemarau, dan bertepatan saat meti kei, yaitu saat di mana air laut surut di titik terendah setiap tahunnya, seorang nelayan sedang duduk di atas batu karang datar yang berpasir, tepat di batas air surut. Ia mengamati jaring yang telah dipasangnya sambil menunggu air laut di depannya kian surut. Saya mendatanginya. Walaupun rintik hujan mengguyur kepala, kami tetap asyik berbicara. Ia menjelaskan bahwa cara menangkap ikan seperti yang dilakukannya dinamakan tutup meti. Ikan jarang di depan Tanjung Karang Wab, tetapi banyak di Pulau Tarwa, pulau yang ditempuh selama 15 menit dari Tanjung Karang Wab dengan menggunakan katinting (sampan kayu yang bermesin), jelasnya.

Ketika musim barat tiba dan gelombang air laut tinggi, para nelayan tetap akan menangkap ikan. Musim kemarau di Pulau Kei Kecil semakin panjang dan musim hujannya tinggal 3 atau 2 bulan. Perubahan itu terjadi sejak 15 tahun terakhir, menurut pengamatan nelayan tadi.

***

Image

                              Petani Desa Wab sedang menjemur rumput laut

Image

Rumput Laut tetap dijemur meski intrusi air laut masuk dalam pemukiman

Tahun 2007, Yayasan Nen Mas Il memberi bantuan kepada 15 kelompok petani rumput laut. Setahun setelah pembudidayaan berlangsung, harga beli rumput laut mencapai Rp 13.000,-/kg. Harga sempat mencapai Rp 17.000,-/kg, namun hanya bertahan dua minggu, lalu turun menjadi Rp 8.000,-/kg. Pada bulan November 2011, harga rumput laut turun sebesar Rp 6.500,-/kg. Walaupun harga yang fluktuatif, mereka tetap menggantungkan hidupnya pada rumput laut.

Sehingga pada bulan Mei-Juni tahun 2011, harga enbal – panganan dari ubi beracun yang difermentasi menjadi tepung enbal, yang semula seharga Rp. 20.000/bungkus naik menjadi Rp. 50.000/bungkus selama hampir dua bulan. Pangan lokal utama tersebut menjadi langka.

Hujan yang tidak menentu, menimbulkan penyakit pada rumput laut. Seorang petani rumput laut, Pak Abe Jamlean, mengutarakan, “Pada bulan Oktober-November seharusnya musim kemarau,  tapi sekarang cuaca tidak menentu, hujan-panas saling bergantian. Rumput laut di muka kampung diserang penyakit  ice-ice (penyakit dimana batang rumput laut berlendir dan mudah patah), sehingga panen dilakukan lebih cepat saat berumur 20-30 hari. Cuaca yang tidak menentu juga menyulitkan para nelayan tradisional untuk menentukan waktu melautnya.”

Saat musim barat mulai tiba, jumlah orang yang menanam di meti (laut dangkal) berkurang. Hanya petani di ‘laut biru’ (laut dalam) yang bertahan. Itupun hanya untuk penanaman  bibit. Gelombang dan angin yang membuat tali long line putus menjadi alasan bagi warga untuk menggantung batu sebagai pemberat agar rumput laut tenggelam dan bola pelampung sedikit ke dalam untuk menghindari pecahan ombak. Setelah musim barat berlalu, wilayah meti kembali menjadi ramai ditanami rumput laut.

***

Pada musim timur tahun 2011, petani memakai hitungan ‘orang tua-tua’ untuk menanam kacang hijau, akan tetapi hitungannnya meleset. Pada bulan Maret-April, Meki membantu ayahnya menanam kacang hijau seluas satu hektare. Saat menunggu panen pada bulan Mei-Juni yang seharusnya musim panas, malah musim hujan yang datang. Cuaca tidak menentu ini menyebabkan gagal panen. Di Jawa kekeringan, Maluku Tenggara malah turun hujan.

Penduduk Kei menandai datangnya musim barat dengan istilah musim laur, yaitu saat dimana laur (cacing laut) bermunculan pada saat bulan bundar (purnama) pada Bulan Februari. Warga di beberapa desa pesisir barat Pulau Kei Kecil sudah mempersiapkan diri pada kegiatan Timba Laur yang dilaksanakan setiap tahun. Dalam kegiatan ini, warga ditemani cahaya lampu gas berkelompok menimba laur yang muncul di permukaan air laut dengan jaring atau sarung.

Warga Desa Wab sudah menyeberang ke Pulau Tarwa yang berada di depan kampung sejak sore hari. Sebelum ke Pulau Tarwa, speed yang saya tumpangi menuju ke Pulau Warbal, sekitar lima menit dari Pulau Tarwa. Sebelum mendekati Pulau Warbal, air laut terlihat sudah menggenangi pemukiman di pesisir pantai. Beberapa warga pun menggayung sampan di sekitar permukiman. Karena intrusi, beberapa sumur air tawar warga akhirnya tercampur dengan air laut. Menurut bidan yang bertugas di pulau ini, penyakit yang paling banyak diderita oleh penduduk adalah penyakit ISPA.

Pada tengah malam, hujan  deras disertai angin kencang melanda pulau ini. Para nelayan kembali ke daratan. Tidak ada satu pun yang berani melaut. Sampai dini hari, mereka hanya menambat perahu mesin, sembari mengontrolnya sesekali agar tidak hanyut terbawa arus. Cuaca dimana hujan dan angin semakin kencang disebut mereka dengan istilah musim barat nenek moyang, yaitu musim barat yang sangat ekstrem. Pada pagi hari, semua sampan bermesin terbalik. Hanya speed (perahu modern) besar yang mampu bertahan. Beberapa alat tangkap ikan, penggayung, dan ikan hasil tangkapan hanyut. Bahkan beberapa katinting terpaksa diangkut ke darat untuk diservis.  Matahari mulai bersinar, mereka pun merapikan tenda dan barang bawaan untuk kembali ke kampung Wab.

***

Umumnya, masyarakat di Kepulauan Kei memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan. Mereka masih memiliki kapasitas berupa praktik tata guna lahan darat dan laut yang digunakan secara turun-temurun. Misalnya untuk menjaga mata air di Desa Wab, kawasan hutan dikeramatkan agar tetap terjaga. Namun berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), kawasan tersebut dimasukkan ke Areal Penggunaan Lain (APL), yakni kawasan yang tidak dikategorikan jelas tergolong dalam hutan primer atau sekunder. Sehingga, diperlukan upaya sinkronisasi praktik lokal dengan kebijakan kehutanan kabupaten serta RTRW yang belum disahkan.

Mereka juga mempunyai kapasitas untuk bertani di lahan yang miskin unsur hara dengan mengem­bangkan pangan alternatif yang masih tersedia seperti umbi-umbian. Di Kepulauan Kei juga terdapat hutan sagu (meon) dan beberapa hasil hutan yang dimanfaatkan untuk sayur dan obat-obatan alternatif. Untuk energi alternatif, warga khususnya Ibu rumah tangga memanfaatkan kayu bakar yang masih banyak tersedia di bekas lahan dan hutan.

Penduduk Desa Wab memiliki beragam pekerjaan. Selain bekerja di desa sebagai petani rumput laut, petani darat, dan nelayan, mereka juga bekerja mengerjakan proyek pemerintah atau men­jadi tukang bangunan di kota.

Selain itu, ada beberapa program pemerintah yang berjalan di Desa Wab. Diantaranya, Program Penanaman Pohon Bintanggur dan Ketapang untuk memulihkan garis pantai. Pemerintah dan Angkatan Muda Gereja Wab bekerja sama dalam pelaksanaan ini. Yayasan Nen Mas Il juga bekerja sama dengan warga untuk menanam bakau di sepanjang pantai di sekitar pemukiman. Yang tak kalah pentingnya adalah ikatan sosial adat serta budaya maren (gotong royong) yang masih kuat. Misalnya, saat rumah warga di kampung Wab terkena angin puting beliung, mereka beramai-ramai saling membantu.

***

Image

pemukiman warga pesisir Pulau Warbal, Kepulauan Kei

Image

Warga Pesisir Pulau Kei Kecil

Fenomena Perubahan Iklim sama sekali tidak mengenal batas wilayah. Sebab yang mungkin saja hanya berasal dari satu wilayah sempit dapat berdampak global hingga ke belahan dunia lain. Beberapa aktor penyumbang emisi terbesar seperti tidak punya atau tidak mau keluar dari zona nyaman yang sebenarnya menyesakkan Bumi untuk mempertahankan kenyamanannya bagi masyarakat dunia. Adaptasi warga Penduduk Kei Kecil untuk menghadapi perubahan iklim yang mulai dirasakan dampaknya secara ekonomi, sosial, dan budaya patut menjadi tauladan dunia.  Mereka semangat dalam praktik dan menjaga pengetahuan lokalnya sebagai warga pesisir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

huruf kecil

saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus.

ishaksalim

Just another WordPress.com site

jembatan merah

sejarah-budaya-pembangunan

kata.cerita.kita

karena tulisan itu selalu bersuara dengan tintanya, meski kita sudah tiada

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: