30 Juni 2013

Cinta Cerita Cita

Posted in Uncategorized tagged , pada 23:26 oleh petikdua

Rintik hujan petang itu seperti tahu saja kalau akan ada diskusi indah malam ini. Di salah satu sudut Kabupaten Gowa, rumahku, saat masjid kompleks sudah berlagu indah dengan doa-doa menuju waktu Maghrib, hujan berhenti. Pesan singkat bertema mengajak dari kawanku Winda yang merupakan salah satu penulis buku yang akan dibedah malam ini di Warkop Al-Dina mendorong semangatku. Saya dan beberapa kawan pejuang cinta akan membedah buku Mozaik Cinta karya A. Zulkarnain dan Winda Junita Ilyas di salah satu titik Jalan Perintis Kemerdekaan. Jarak 15 km lebih dari rumah tidak memberatkan langkah beranjak. Isu BBM yang baru saja naik harga jadi Rp 6.500,- saya alihkan sejenak, pagar rumah kututup, kendaraanku melaju.

***

Mozaik Cinta

Bedah buku yang direncanakan mulai pukul 19.00 WITA molor, tapi saya lebih molor lagi. Saat tiba, parkiran sudah penuh. Hanya ada sekitar 3 mobil, sisanya motor-motor berjejer tidak beraturan sebagai sebuah parkiran. Selain tidak ada tukang parkir, semangat untuk tidak ketinggalan semenit pun bedah buku Mozaik Cinta juga jadi penyebab, kata seorang kawan yang saya tanya tentang motornya yang diparkir begitu saja di area pendakian yang tidak rata menuju pintu Warkop Al-Dina.

Pukul 19.30 WITA acara ini dimulai. Saya tiba sekitar pukul 20.08 WITA. Prolog diskusi sudah kulewatkan. Saya tiba saat Bapak Drs. Edi Sutarto, M. Pd. (selanjutnya saya tulis Pak Edi) tengah memaparkan opini indahnya. Pak Edi menyumbangkan nasihat pernikahan untuk Winda dan Zul dalam sebuah tulisan berjudul “Perjalanan Menuju Pelangi” yang dimuat dalam BAB IV Buku Mozaik Cinta. Direktur Sekolah Islam Athirah ini ternyata juga memiliki jiwa sastra yang indah. Ini tergambar dari diksi indah dan bermakna yang dirangkainya baik dalam tulisan, maupun lisan.

“…saat diminta menulis nasihat pernikahan, aku masuk melalui wilayah metafor.Hal ini tidak sekedar agar berbeda dengan nasihat dari yang lainnya, tapi aku lebih berusaha menghargai kecerdasan keduanya. Wilayah metafor adalah wilayah yang memiliki lapis makna. Jadi, semakin cerdas seseorang, maka akan mendapat makna dari lapis terdalam bila membacanya.”[1]

Saat beropini di depan peserta, Pak Edi sangat semangat. Ada beberapa mahasiswa yang berkelakar, “saat muda, Pak Edi ini kalau bukan aktivis teaterikal, dia pasti orator!”. Kawan-kawan lain yang mendengarnya sontak ketawa kecil. Topik pembicaraan, Cinta, yang seringkali membawa suasana mellow, malam ini punya nuansa lain. Indahnya Cinta tidak hanya diselimuti oleh kelembutan, romantisme, atau kemanjaan semata. Dalam bedah buku Mozaik Cinta kali ini, kita berdiskusi tentang Revolusi Sosial yang berangkat dari Cinta.

Beberapa kali, Pak Edi mengulang frase ‘abad yang berlari’ pada bedah buku kemarin. Demikian hal nya dalam nasihat pernikahan yang ditulisnya dalam buku Mozaik Cinta. Seakan mengingatkan pada pasangan muda Zul dan Winda, juga menegaskan pada pemuda-pemudi pejuang cinta yang mengikuti bedah buku dengan semangat malam itu, bahwa kita tengah hidup dalam ‘abad yang berlari’. Analogi berdiksi indah untuk sebuah masa yang hampir setiap kondisinya dibuat bergegas dan instan. Hasil dari setiap gerak dan perencanaan menjadi indikator kesuksesan. Mempersiapkan diri dan hati-hati pada abad yang berlari ini dapat diatasi salah satunya dengan keterampilan menyeduh teh atau kopi untuk pasangan kita di rumah. Menghadirkan racikan bulan sabit saja sudah dianggap sebuah keindahan untuk cinta kita di rumah tangga, apalagi sepenggal bintang atau purnama. Jeda berkomunikasi jujur dan kooperatif dalam rumah tangga adalah hal yang sangat penting di ‘abad yang berlari’ ini.

Berikutnya giliran Ibu Mutmainnah, S.Pd., M.Pd. yang akan bercerita tentang kesannya pada Cinta dan rumah tangga. Dalam buku Mozaik Cinta, Ibu Mutmainnah mendapat kepercayaan untuk menulis Prolog buku ini oleh Zul dan Winda. Sebagai Ibu dari Winda, amanah ini dianggapnya sangat berat. Pertama, karena dia merasa bukan seorang penulis. Berikutnya, menuangkan nasihat pernikahan, kesan, dan pesan untuk ananda tercintanya dengan lelaki yang akan menjadi pendamping hidup anak kebanggaannya dianggap belum cukup.  “Cinta Ibu tidak hanya selesai dalam berlembar-lembar tulisan dengan kata indah nasihat pernikahan seorang anak,” katanya.

Masih sedikit orang tua yang dengan terbuka menyatakan kurang sepakatnya atas tradisi dan adat pernikahan, khususnya suku Bugis. “Saya juga orang Bugis, Bugis Bone, tapi saya termasuk orang Bugis yang tidak sepakat dengan adat uang panai’[2] yang memberatkan niat ibadah anak kita,” itu argumen Bu Mutmainnah saat beropini di Bedah Buku Mozaik Cinta.

Dalam prolog yang ditulisnya di Mozaik Cinta, Bu Mutmainnah menjelaskan bagaimana pandangannya sebagai ibu, sebagai orang tua, tentang mahar dan uang panai’. Berdasar pada pesan Rasulullah SAW bahwa mahar yang paling baik adalah mahar yang tidak memberatkan, uang panai’ juga bukan sebagai syarat utama siapapun untuk menikahi anaknya. Pernikahan tidak mesti dinilai dari berapa dan bagaimana mahar serta uang panai’ nya. Niat menikah adalah sebuah rencana hidup yang mulia, rencana perjuangan hidup yang perlu diapresiasi dan didukung tidak hanya dengan materi.

Untuk niat menikah, seorang calon menantu membutuhkan VISI hidup. Itulah yang kemudian dijadikan syarat utama bagi Bu Mutmainnah. Apa dan bagaimana visi seorang suami yang kelak akan menjadi imam dalam rumah tangga adalah pondasi terbesar cinta dan revolusi rumah tangga.

Air mata Bu Mutmainnah tidak tertahankan malam itu ketika menggambarkan bagaimana kebanggaannya pada Winda, anaknya, juga pada Zul yang kini pun sudah menjadi anak menantunya. “Tidak ada Ibu yang mau berpisah dan melepaskan anaknya cepat-cepat…” cerita Bu Mutmainnah.

Mengizinkan Zul meminang anaknya Winda bukanlah sebuah keputusan untuk melepaskan Winda. Justru ini adalah sebuah keputusan untuk semakin menguatkan semangat perjuangan hidup anak yang dikenalnya sejak beranjak remaja selalu saja turut serta dalam kegiatan, khususnya yang menyangkut kepekaan sosial. Setelah mendengarkan pemaparan Zul tentang Visi, tujuan hidupnya, Bu Mutmainnah yakin bahwa visi Zul bisa mendukung juga visi anaknya. Dan kemudian, akan saling merangkai dalam sebuah visi rumah tangga yang penuh semangat dan ide kreatif untuk mewujudkan revolusi rumah tangga. Cikal-bakal revolusi sosial yang diusahakan pasangan pejuang cinta ini.

kiri-kanan ; tenri (moderator) - Zul - Winda - Bu Mutmainnah - Pak Edy

kiri-kanan ; tenri (moderator) – Zul – Winda – Bu Mutmainnah – Pak Edy

Sesi ketiga adalah giliran Winda Junita Ilyas, salah satu penulis Mozaik Cinta ini. Tidak seperti kedua panelis sebelumnya, Winda mengisi kesempatan bicara ini dengan cukup singkat dan padat. Mungkin karena kondisi badannya yang tidak maksimal pada malam itu. Winda bahkan menyelimuti dirinya dengan syal unik berbahan wol coklat motif kotak-kotak. Selain itu, handuk kecil dengan ukuran sekira 15 x 15 cm tidak pernah lepas dari genggamannya.

Di sela ceritanya tentang keputusan untuk menikah muda, Zul tiba-tiba mengusap keringat yang sedari tadi terus saja mengalir dari hampir seluruh pori-pori wajahnya. Bukannya kepanasan, tapi memang masih sakit. Tindakan Zul itu kemudian disambut sahutan menyinggung dengan nada menggoda dan bercanda dari peserta forum Bedah Buku. “Halal kan?! Sekarang sudah halal. Bahkan jadi ibadah,” responnya membela diri. Tindakannya itu cukup efektif kembali menghidupkan suasana forum yang sudah semakin larut layaknya malam.

“Kami ingin menghindari fitnah. Selain itu, izin kedua orang tua pun sudah ada. Visi kami pun sudah jelas dan sepaham. Jadi, mau tunggu apa lagi? Kami sepakat untuk menyempurnakannya dalam sebuah mahligai pernikahan dan sama-sama berlari mengejar cinta Allah SWT,” jelas Winda.

Tiba giliran panelis terakhir angkat cerita, A. Zulkarnain. Putusan yang sangat baik bagi pelaksana kegiatan, Rumah Baca Philosophia dan FKBS[3], memilih Zul sebagai panelis terakhir. Intonasi suara Zul ketika berbicara sangat jauh beda dengan panelis lainnya. Dia sangat bersemangat. Bahkan kadang ada beberapa hal yang dikatakannya kurang jelas karena terlalu cepat dan membuat speaker mic tidak menghantarkan suaranya dengan jelas ke forum. Tadinya ada yang pemperkirakan bahwa Pak Edi, panelis pertama, mungkin adalah seorang orator atau aktivis teaterikal ketika muda, kali ini peserta diskusi bedah buku yakin bahwa Zul masih seorang orator.

Zul membedah Mozaik Cinta seolah memberi semangat pada kawan-kawan untuk tetap berjuang membela kebenaran. Singgungan terhadap SBY beberapa kali dikeluarkannya. “Jangan takut, berjuang saja!” dan beberapa motivasi pejuang lainnya diucapkannya selama berdiskusi.

Ada beberapa kisah kawan-kawan Zul, kisah nyata, yang dikutip ceritanya dalam Buku Mozaik Cinta. Dari kutipan cerita-cerita tersebut, selalu ada simpulan pelajaran yang bisa kita petik. Tentang perlunya kita berhati-hati dalam memilih pasangan, perlunya kesiapan dari kedua belah pihak untuk membina sebuah rumah tangga, tentang perlunya komunikasi terbuka antar pihak dalam rumah tangga, dan lainnya.

Jika melihat dan mendengarkan sekilas Bedah Buku dan Launching Mozaik Cinta ini, kadang terpikir buku ini seperti Panduan Menikah dan eksistensi penulis untuk menuliskan kisah cintanya. Jawabnya, tentu tidak. Buku ini kritis. Cukup kritis membedah isu syarat-syarat yang memberatkan kedua belah pihak untuk menyempurnakan cintanya dengan menjalin ibadah pernikahan. Cukup kritis pula menggerakkan hati para orang tua untuk membuka pandangan lebih lebar tentang gerak dan visi anaknya selama ini.

Menurut Winda, salah satu penulis, buku ini memang ditargetkan lebih prioritas bagi para orang tua untuk lebih membuka diri dan pandangan pada visi anaknya yang masih muda dan tentu memiliki jiwa pejuang. Juga mengajak para pembaca untuk memaknai cinta dengan lebih sosial.

“Memilih pasangan hidup adalah sedang memilih teman yang bukan hanya untuk menemani kita makan malam, memilih istri bukan hanya memilih teman untuk sarapan, memilih istri bukan hanya memilih seorang teman tidur, tapi lebih jauh dan lebih agung dari semua itu adalah memilih teman untuk setiap hari, setiap detik datang menyapa dan menghadap Tuhan bersamanya.”[4]

Saat sesi tanya-jawab, cukup lama menunggu peserta yang berani angkat tangan mengajukan diri bertanya. Isunya cukup sensitif, dan kurang lebih peserta forum bedah buku saat itu memang dominan laki-laki. “Jadi curhatki lama-lama ini kalau ada tanya-jawab,” singgung salah satu peserta forum sambil senyum kecil dengan teman-temannya.

Tidak lama, ada yang angkat tangan. Ketika berdiri, ternyata yang bertanya adalah seorang pemuda gondrong berambut gimbal dengan kaos merah. Saya tidak yakin dia masih mahasiswa atau tidak, tapi saya yakin dia pun salah satu aktivis gerakan karena duduk semeja dengan seorang kawan yang sering kutemui jika ada konsolidasi aksi. Hal yang ditanyakannya masih seputar isu sensitif dari pernikahan adat Bugis-Makassar, uang panai’.

Para panelis merespon pertanyaan tersebut dengan semangat. “Bagus dan berani ini pertanyaan kamu, “ puji Zul.

Pak Edi menjelaskan perbedaan mendasar uang panai’ dan mahar. Yang menjadi kewajiban dari umat muslim dan syarat sah dalam pernikahan adalah mahar. Sedang uang panai’ merupakan uang antaran dari keluarga mempelai laki-laki ke keluarga perempuan untuk membiayai pesta pernikahan. Sayangnya, tingginya uang panai yang berhasil ditetapkan dalam prosesi mappettuada’[5] seringkali memberikan prestise tersendiri. Sehingga, lambat laun, standar uang panai’ dianggap menjadi suatu keberhasilan tersendiri dalam keluarga. Ini yang harus dihindari dan dijaga.

Penjelasan ini dikuatkan oleh Bu Mutmainnah. Beliau tidak ingin anak perempuannya seakan diperjualbelikan dengan uang panai’. Dalam sebuah pernikahan, justru yang perlu disiapkan dari calon menantu adalah bagaimana dan apa Visi nya. Seperti yang sudah dipaparkan pada sesi sebelumnya, Bu Mutmainnah kembali menjelaskan bahwa pernikahan itu adalah saat dimana seorang Ibu mengamanahkan anak perempuannya pada seorang laki-laki yang dipercayai mempunyai visi dan iman yang kuat untuk menjadi imam dan membina rumah tangga.

Berikutnya, Winda mengajak peserta forum yang memiliki Buku Mozaik Cinta dan/atau sudah membeli untuk membuka penjelasan pada halaman 69. Di situ ada tulisan Zul yang berjudul “Ujian dan Kontrak Cinta”. Pada bagian akhir, ada sekitar 5 poin kontrak nikah yang dimufakatkan oleh Zul dan Winda, yaitu (1) Siap hidup dalam kondisi apapun, (2) Siap bergaul dengan komunitas dimana kita aktif, (3) Siap membangun tradisi intelektual di rumah tangga, (4) Siap membangun lingkungan agamis dalam rumah tangga (ritual dan nilai-nilai), dan (5) salah satunya dibolehkan pergi kalau ada yang melanggar prinsip nilai, dan tidak ingin memperbaikinya.

Kontrak nikah ini adalah tindak lanjut dari Visi bersama. Zul dan Winda menganggap rumah tangga seperti sebuah negara kecil, dan kontrak nikah ini dibutuhkan untuk mengantisipasi agar tidak ada penindasan satu pihak kepada pihak lain. Kontrak nikah inilah yang kemudian menjadi prinsip gerakan Revolusi Rumah Tangga Zul dan Winda.

Jodoh adalah pertemuan dua jiwa yang sama, misalnya materialis jelas ketemu materialis, begitupun spritualis ketemu dengan spritualis. Karenanya, pemenuhan syarat kualitas jiwa kita sangat dibutuhkan agar dapat bertemu dengan jodoh yang tepat dan se-Visi. Pertemuan dua jiwa yang sama ini sudah menjadi hukum universal dalam hidup.

Menjalin rumah tangga dengan pertemuan dua jiwa yang sama ini membantu meredam konflik dalam rumah tangga. Bagaimana menciptakan revolusi sosial kalau dalam rumah tangga dipenuhi konflik[6].

Dalam bagan arus advokasi terpadu yang di rumuskan Roem Topatimasang dan Mansour Fakih, ada yang disebut lingkar inti gerakan. Lingkar-inti gerakan adalah pihak-pihak yang dianggap menjadi penggagas, pemrakarsa, pendiri, penggerak utama, sekaligus penentu dan pengendali arah kebijakan, tema, atau issu, strategi, dan sasaran kegiatan dari advokasi[7]. Dijelaskan lebih lanjut, yang termasuk dalam lingkar inti gerakan ini harus memiliki kesamaan persepsi, komitmen, dan yang terpenting adalah kesamaan visi kemasyarakatan. Dalam pengertian yang lebih inklusif, kesamaan ideologi politik.

Rumah tangga yang diniatkan Zul dan Winda sebagai basis gerakan Revolusi Sosial masuk dalam lingkar-inti gerakan mereka. Karena itu, memilih pasangan yang masih kapitalis, individualis, juga pragmatis, yang nantinya diharapkan dapat berubah setelah menikah terlalu berisiko, apalagi bagi mereka yang mau melawan. Menikah adalah awal penciptaan gerak yang lebih besar dan luas. Membangun jejaring lebih kuat, bukannya semakin mundur karena disibukkan oleh konflik rumah tangga yang diakibatkan visi yang tidak sepaham.

“Buku Mozaik Cinta ini adalah terjemahan sederhana atas gerakan Rasulullah Muhammad SAW dan berkiblat utuh pada Al-Quran!” tegas Zul saat Bedah Buku. Cinta yang indah dan suci akan menghempaskan pelakunya jauh, jauh ke puncak cinta (Allah SWT). Kutipan ini beberapa kali muncul dalam Buku Mozaik Cinta. Pembaca seakan diingatkan tentang makna dasar dari Cinta Sejati. Karenanya, dalam mencintai, kita wajib mengamalkan ibadah individu dan ibadah sosial secara bersama, sebagaimana dicontohkan oleh nabi dan para pemberontak agung lainnya.

Hakikat dasar manusia adalah materi. Dan setiap materi punya masa untuk hancur, musnah, dan berakhir. Karenanya, cinta kepada sesama manusia akan ada masa untuk berakhir. Dan ketika kita hanya menopangkan cinta pada sesama manusia, akan ada peluang kita untuk sakit hati, atau bahkan tidak percaya lagi dengan cinta ketika dikecewakan.

Dalam buku ini, pembaca diingatkan untuk memuncakkan cinta kita pada Sang Pemilik Cinta, Allah SWT. InsyaAllah, cinta kita tidak akan pernah mati, tidak punya masa untuk berakhir, dan tidak pernah sakit hati karena Dia selalu memberikan yang terbaik bagi umatNya. Pemantapan kualitas jiwa dengan ibadah sosial dan ibadah individu kemudian disempurnakan dengan pernikahan berideologi cinta pada Allah SWT adalah pintu untuk membangun sebuah revolusi rumah tangga. Tunas dari Revolusi Sosial yang mulia.

***

Tidak terasa, Bedah Buku dan Launching Mozaik Cinta malam itu ditutup tepat pukul 22.38 WITA. Sangking semangatnya, sangat sedikit kawan yang pulang sebelum acara usai. Bahkan, semakin banyak yang bersedia menyimak sambil berdiri karena keterbatasan bangku Warkop Al-Dina. Kejutan sederhana dari kawan-kawan untuk Winda jadi penutup rangkaian acara malam itu. Ada sebuah kue tart kecil yang sengaja kami siapkan untuk peringatan ulang tahunnya yang ke-24 pada 26 Juni 2013.

Selamat ulang tahun, Winda. Semoga visi-mu tetap terjaga dan semangatmu bertambah layaknya usia.

Selamat berlari menuju puncak cinta Allah SWT bersama Zul. Bismillah..


[1] A. Zulkarnain dan Winda Junita Ilyas. 2013. Mozaik Cinta; Dari Revolusi Rumah Tangga Menuju Revolusi Sosial. Philosophia Press. Makassar, hal 179

[2] Pada dasarnya adalah istilah untuk Adat Makassar. Di Adat Bugis, uang panai’ sama dengan dui’ menre’. Maknanya, adalah ‘uang antaran’ yang harus diserahkan oleh pihak keluarga calon mempelai laki-laki ke pihak keluarga calon mempelai perempuan untuk membiayai prosesi pesta pernikahan. (Samsuni. http://melayuonline.com/ind/opinion/read/363/budaya-mahar-di-sulawesi-selatan-perlukah-dipertahankan)

[3] Forum Kampung Bahasa Sulawesi

[4] A. Zulkarnain dan Winda Junita Ilyas. 2013. Mozaik Cinta; Dari Revolusi Rumah Tangga Menuju Revolusi Sosial. Philosophia Press. Makassar, hlm. 112

[5] Prosesi pertemuan antar dua keluarga untuk musyawarah menentukan uang panai’ dan mahar yang juga termasuk dalam rangkaian pernikahan.

[6] A. Zulkarnain dan Winda Junita Ilyas. 2013. Mozaik Cinta; Dari Revolusi Rumah Tangga Menuju Revolusi Sosial. Philosophia Press. Makassar, hlm. 113

[7] Roem Topatimasang, Mansour Fakih, dan Toto Rahardjo. 2000. Merubah Kebijakan Publik. Pustaka Pelajar, hlm.47

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

huruf kecil

saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus.

ishaksalim

Just another WordPress.com site

jembatan merah

sejarah-budaya-pembangunan

kata.cerita.kita

karena tulisan itu selalu bersuara dengan tintanya, meski kita sudah tiada

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: