29 September 2013

Tinjauan Kritis atas Sketsa Tradisi Pemikiran Realisme dalam Ilmu Hubungan Internasional Menurut Jakson dan Sorensen

Posted in Uncategorized tagged , , , , , pada 22:04 oleh petikdua

Sumber:

Robert Jackson and Georg Sorensen. (2007). Introduction to International Relation: Theories and Approaches. New York: Oxford University Press

Chapter III : “Realism”, page: 59-96

 

Artikel ini adalah critical review penulis tentang bagaimana Robert Jackson[1] dan George Sorensen[2] menjelaskan Realisme dalam Ilmu Hubungan Internasional. Tulisan yang ditinjau terdapat pada BAB III dalam buku berjudul Introduction to International Relation: Theories and Approaches yang disusun bersama oleh Jackson dan Sorensen pada tahun 2007. Buku ini merupakan pengantar yang komprehensif tentang teori, konsep, dan perdebatan yang paling penting dalam Ilmu Hubungan Internasional. Sebagai salah satu pemikiran yang cukup lama bertahan dalam dialog akademik Ilmu Hubungan Internasional, Realisme menjadi sudut pandang yang penting dan berpengaruh dalam menguji, menjelaskan, dan memprediksikan interaksi antar aktor internasional dalam situasi dunia yang terus berkembang. Oleh karena itu, critical review ini pun menjadi penting, untuk tetap menjaga perkembangan pemikiran dalam Ilmu Hubungan Internasional, khususnya pemikiran Realisme. Dalam artikel ini, ada dua fokus peninjauan kritis yang akan ditekankan oleh penulis, yaitu (1) penjelasan Jackson dan Sorensen tentang pemikiran Realisme, dan (2) dasar spesifikasi tradisi pemikiran yang dirumuskan Jackson dan Sorensen dalam menganalisa asumsi dasar Realisme dalam Ilmu Hubungan Internasional.

Sketsa Tradisi Pemikiran Realisme oleh Jackson dan Sorensen

Realisme diyakini sebagai salah satu pemikiran dasar dalam Ilmu Hubungan Internasional, selain Liberalisme. Ada beberapa tahapan dialektika pemikiran dalam Ilmu Hubungan Internasional, dan dari beberapa sumber (Hadi, 2008; Steans and Pettiford, 2009; Jackson and Sorensen, 2007; Jurnal Global Vol.9 No.2, Desember 2007-Mei 2008), bahwa pemikiran Realisme seringkali menempati posisi khusus dan jelas dalam dialektika tersebut.

Sebagai sebuah pemikiran dasar dan sudah bertahan lama, ada beberapa perkembangan dalam teori dan konsep yang juga digunakan untuk perkembangan interaksi internasional yang belum memiliki fomula pasti. Jackson dan Sorensen merumuskan tradisi pemikiran Realisme Ilmu Hubungan Internasional dalam dua kelompok besar; Klasik dan Kontemporer. Menurutnya, pemikiran realisme klasik menekankan analisisnya bahwa aspek normatif dalam Ilmu Hubungan Internasional juga terdapat dengan jelas pada aspek empiris dalam interaksi antar-aktor internasional.

Untuk pemikiran Realisme Klasik, Jackson dan Soren masih memberi pengelompokan antara Pemikiran Realisme Klasik dan Neoklasik. Thucidydes (1972) dengan cerita “Peloponnesian War” dan konsep dunia anarki[3], Machiavelli (1984) “power (the lion) and deception (the fox)” dengan konsep tentang aspek normatif dalam aplikasi kepentingan nasional sebuah negara[4], dan Hobbes (1946) yang mengajak kita mengenal konsep security dilemma[5] dikelompokkan dalam pemikiran Realisme Klasik.

Karakter dasar dari pemikiran Realisme Klasik menurut Jackson dan Sorensen[6], yaitu: (1) Kondisi manusia adalah kondisi yang tidak aman dan berkonflik yang harus diperhatikan dan dihadapi; (2) terdapat kumpulan pengetahuan politik, atau kebijaksanaan, untuk menghadapi masalah keamanan, dan masing-masing pemikir realis klasik ini mencoba untuk mengidentifikasi elemen pokoknya. Sederhananya, karakter tersebut menggambarkan kondisi permanen kehidupan manusia. Sehingga, bagi Jackson dan Sorensen, tidak ada jalan keluar bagi permasalahan politik, termasuk politik internasional.

Pemikiran pesimistik ini kemudian menjadi pemicu Morgenthau (1965) dalam pemikiran Realisme Neoklasiknya. Ada banyak konsep yang bermunculan dalam dinamika pemikiran ini, diantaranya “Politic is a struggle for power[7]”, dan etika politik[8] yang dijabarkan dalam enam prinsip realisme politik hasil kembangan Morgenthau dari teori Thucidydes dan Machiavelli tentang doktrin normatif dalam politik.

Menurut Jackson dan Sorensen, fokus pemikiran klasik dan neoklasik ini terletak pada sikap normatif yang menjadi nilai subjektif antar-aktor, baik negara, maupun negarawannya dalam sistem politik internasional. Sedangkan, untuk tradisi pemikiran Realisme Kontemporer, struktur dan proses merupakan ruang lingkup kajian sistem politik internasionalnya. Struktur yang dimaksudkan disini adalah bagaimana struktur pembagian kekuasaan. Sedangkan, perubahan penerapan sistem dan kontinuitas yang tercipta adalah penjelasan tentang aspek proses dari sistem internasional[9].

Scheling (1980)[10] yang mendeskripsikan interaksi politik internasional dalam dua sikap umum, yakni brutal dan diplomasi, juga Waltz[11] (1979) dengan teorinya tentang sistem politik internasional yang disebut mewakili pemikiran sistem neorealis, adalah pemikir yang dipilih Jackson dan Sorensen untuk mewakili karakter pemikiran Realis Kontemporer. Dalam sistem politik internasional yang ditinjau menurut struktur dan distribusi kekuasaan yang ada, peran negarawan secara tidak langsung didesak dalam kontinuitas yang pasti. Oleh karena itu, sistem dan struktur menjadi aspek yang lebih prioritas dalam pemikiran kontemporer.

Para pemikir Realisme Klasik sadar bahwa ada nilai dasar yang dipertaruhkan dalam politik internasional. Ini dikembangkannya dalam teori politik dan etika dalam Ilmu Hubungan Internasinal. Sedangkan, pemikir Realisme Kontemporer sebagian besar tidak mengindahkan aspek ini dan membatasi fokus analisis mereka hanya pada struktur dan proses sistem politik internasional[12]. Kolaborasi Realisme Klasik, Neoklasik, dan Kontemporer ini membantu Jackson dan Sorensen merumuskan asumsi dasar pemikiran Realisme[13], yaitu: (1) pandangan pesimis atas sifat manusia; (2) keyakinan bahwa hubungan internasional pada dasarnya konfliktual dan pada akhirnya diselesaikan melalui perang; (3) menjunjung tinggi nilai-nilai keamanan nasional dan survivabilitas; (4) skeptisisme dasar bahwa terdapat kemajuan dalam politik internasional seperti yang terjadi dalam kehidupan politik domestik.

Tabel 1. Sketsa Tradisi Pemikiran Jackson dan Sorensen[14]

Pemikiran

Fokus asumsi

Realisme

Realisme Klasik

State leaders and their subjective valuations of International Relations

1. Pandangan pesimis atas sifat manusia

2. Keyakinan bahwa hubungan internasional pada dasarnya konfliktual dan pada akhirnya diselesaikan melalui perang.

3. menjunjung tinggi nilai keamanan dan survival

4. skeptisisme terhadap politik internasional

 

*goals: Power; anarchycal system; national interest; balance of power; stability; realism politic; security dilemma

Realisme Neoklasik

Kontemporer

*Kadang disebut juga Neorealism dalam buku

Structure of the system (distribution of power);

Processes of the system (the continuities and changes of the system)

Realisme dan Neorealisme dalam Ilmu Hubungan Internasional

Dalam dialog akademik Ilmu Hubungan Internasional, ada beberapa buku dasar yang seringkali digunakan beberapa akademisi sebagai referensi untuk mengenal lebih dalam teori-teri Ilmu Hubungan Internasional. Beberapa buku tersebut diantaranya, International Relations Theory, 4rd Edition (Viotti and Kauppi, 2010: 42), International Relations Theories: Discipline and Diversity, 3rd Edition (Dunne, Kurki, and Smith, 2013: 59, 77), “Realism” oleh Tim Dunne dan Brian C. Schmidt dalam Bab VII buku The Globalization of World Politics (Baylis and Smith, 2001: 141), dan dua buku terjemahan, yaitu Hubungan Internasional: Perspektif dan Tema (Steans dan Pettiford, 2009: 41), juga Pengantar Studi Internasional (Jackson dan Sorensen, 2009: 87)

Sketsa tradisi pemikiran Realisme yang ditulis dalam masing-masing buku tersebut akan penulis jadikan pembanding terhadap sketsa tradisi pemikiran Realisme yang dirumuskan oleh Jackson dan Sorensen.

Viotti dan Kauppi menjelaskan secara rasional bahwa ada beberapa pengelompokan pemikiran dalam Realisme. Pertama, cukup masuk akal jika kelompok pemikir Realis Klasik lebih menekankan dampak dari sejarah, hukum internasional, dan tindakan yang diambil oleh pemimpin negara, sedangkan pemikir Neorealis menekankan pembahasan inti Realisme berangkat dari pembagian kekuasaan dalam sistem politik internasional. Tradisi pemikiran yang dikembangkan Viotti dan Kauppi ini berangkat pada keyakinan bahwa sudut pandang suatu metodologi pemikiran bergantung pada asumsinya. Dan asumsi dasar dari pemikiran Realisme Klasik dan Neorealis memang memiliki asumsi yang berbeda.

Tabel 2. Sketsa Tradisi Pemikiran Viotti dan Kauppi[15]

Pemikiran

Fokus asumsi

Realisme

Realisme Klasik

Recognizing the importance of balance of power;

How factors at the domestic or societal level of analysis influence international relations

Power and Power Politic Among States

Realisme Neoklasik

Neorealisme

Distribution of power among states;

Are highly skeptical of the extent to which international norms and international institutions can ameliorate competition among states

Neorealism is a parody of science. Its keyterm like power and polarity are loosely and haphzardly formulated and its scope conditions are left undefined[16]. Dinamika pemikiran Neorealisme yang menurun ini mendorong para pemikir realis untuk kembali membaca pemikiran Realisme Klasik untuk memperjelas akar dan asumsi dasarnya. Karya akademik Max Weber, E. H. Carr, dan Hans Morgenthau menjadi sumber yang memiliki keterikatan analisis konsep yang bisa diaplikasikan dalam pemikiran kontemporer Hubungan Internasional terkini.

Kesamaan sudut pandang Thucidydes (460c-390bce) dan Morgenthau (1904-1979) tentang ‘hidup’ dan ‘politik’ dirumuskan Lebow pada terminologi, (1) Realisme Klasik meninjau komunitas, “..the tension between individuals and communities could be reconciled in part a deeper level of understanding[17].” Dalam terminologi ini, konsep balance of power[18], justice, dan interest[19] menjadi indikator dalam meninjau politik internasional; (2) Perubahan dan transformasi yang bergantung pada sistem politik dunia[20]; (3) Sifat alamiah teori dalam pemikiran Realisme Klasik yang menguji bagaimana sifat dasar dan efektivitas prediktif atas teori yang dikembangkan Thucidydes dan Morgenthau[21] dalam studi kasus politik internasional; (4) Studi kasus Iraq dan Saddam Husein

Perjanjian Westphalia (1648) adalah saat yang sangat berpengaruh dalam perkembangan pemikiran Realisme juga konsep interaksi dalam Ilmu Hubungan Internasional. Pra-Westphalia Treaty, pemikir Realis seperti Thucidydes dan Machiavelli masing-masing bercerita tentang interaksi antar-aktor dalam konsep city-state. Pasca-Westphalia Treaty adalah saat dimana kedaulatan negara sudah diakui dalam sistem politik internasional. Ini adalah awal diakuinya state-centric dalam interaksi antar-aktor internasional.

The three core elements that we identify with Realism – statism, survival, and self help – are present in the work of a classical realist such as Thucidydes and a modern realist such as Hans J. Morgenthau …. these three Ss constitute the corners of the realist triangle.[22]”. Statisme adalah elemen yang mengakui bahwa negara adalah aktor utama dalam interaksi internasional. Berikutnya, survival, adalah elemen yang mengakui bahwa setiap interaksi dalam sistem politik internasional bermuara pada survivabilitas. Aspek ini harus disertakan dalam setiap kepentingan nasional yang diusahakan oleh setiap pemimpin negara dalam interaksi politik internasional. Ketiga, self-help, adalah keyakinan yang menuntut negara untuk mandiri dan berhati-hati dalam interaksi. “In international politics, the structure of the system does not permit friendship, trust, and honour,…”[23]

Tabel 3. Sketsa Tradisi Pemikiran Realisme oleh Dunne dan Schmidt[24]

Pemikiran

Key Thinker

Fokus asumsi

Realisme

Realisme Struktural I

(Human Nature)

Thucidydes, “The Peloponnesian War”  (c. 430-400 bc.);

Morgenthau, “Politics Among Nations” (1948)

International Politics is driven by an endless struggle for power which has its roots in human nature. Justice, law, and society have either no place or are circumscribed.

Realist Triangle; Statism, Survival, Self-help

Realisme Historis/Praksis

Machiavelli, “The Prince” (1532);

Carr, “The Twenty Years Crises 1919-1939” (1939)

Political realism recognizes that principles are subordinated to policies; the ultimate skill of the state leader is to accept, and adapt to, the changing power political configurations in world politics

Realisme Struktural II

(Sistem Internasional

Rosseau, “The State of War” (c. 1750);

Waltz, “Theory of International Politics” (1979)

It is not human nature, but the anarchical system which fosters fear, jealousy, suspicion, and insecurity. Conflict can emerge even if the actors have benign intent towards each other.

Realisme Liberal

Hobbes, “Leviathan” (1651);

Bull, “The Anarchical Society” (1977)

The international anarchy can be cushioned by states who have the capability to deter other states from aggression, and who are able to construct elementary rules for their coexistence

Analisis Kritis Tradisi Pemikiran Realisme dan Neorealisme dalam Ilmu Hubungan Internasional menurut penjelasan Jackson dan Sorensen

Jackson dan Sorensen membuka pembahasannya dengan langsung menegaskan asumsi dasar pemikiran Realisme dalam empat hal[25]. Pembuka seperti ini sangat membantu pembaca, termasuk penulis, dalam mengenali batasan pemikiran Realisme. Sifat pemikiran bahwa Realisme selalu memandang secara skeptis dan pesimis, serta topik  bahasan realisme yang berkisar tentang kepentingan nasional, konflik, dan perang adalah pandangan awal yang langsung dibekalkan Jackson dan Sorensen.

Menurut penulis, Jackson dan Sorensen menggunakan metode Deskriptif dalam menggambarkan bagaimana tradisi pemikiran dan konsep apa saja yang ada dalam pemikiran Realisme. Jackson dan Sorensen langsung mengelompokkan sketsa tradisi pemikiran Realismeya menjadi Realisme Klasik dan Kontemporer. Tokoh dan Konsep kunci yang dibawa oleh masing-masing tokoh yang dikenalkan oleh Jackson dan Sorensen secara deskriptif menjadi jembatan pemaknaan tentang sketsa tradisi pemikiran Realisme yang dirumuskannya. Dampak kemudian, setiap tokoh atau pemikir seakan diidentikkan dengan satu konsep khusus. Misalnya saja, Thucidydes dan konsep anarki, Hobbes dan security dilemma, Waltz dan sistem internasional, Morgenthau dan realisme politik, dan sebagainya.

Bagaimana kemudian kalau security dilemma tidak hanya dibahas oleh Hobbes saja? Hobbes mengangkat konsep security dilemma dalam Leviathan pada tahun 1651, tetapi security dilemma adalah suasana yang sangat dirasakan dalam sistem politik internasional pada masa perang dingin (1947-1991) seperti yang diangkat oleh Bull (1977)[26]. Demikian juga dengan konsep sistem anarki yang sangat diidentikkan dengan Thucidydes yang menggambarkannya dalam Peloponnesian War pada masa sebelum masehi. Padahal, konsep sistem anarki ini sangat sering dibahas lagi oleh pemikir-pemikir Realisme berikutnya seperti Morgenthau (1965), E.H. Carr (1930an), atau Randall Schweller (1994)[27].

Jackson dan Sorensen tidak pernah menjelaskan alasan pengelompokan tradisi pemikiran Realisme mereka baik di bagian pengantar, selama pembahasan materi, maupun penyimpulan. Namun demikian, menurut penulis, sebagai akademisi yang memiliki ketertarikan kajian pada sejarah pemikiran dan Ilmu Hubungan Internasional, mereka berangkat dari pemikiran yang diyakini dan sangat populer sebagai teori pembuka dalam Ilmu Hubungan Internasional; Thucidydes. Sebagai pembuka, maka pemikiran berikutnya diklasifikasikan dengan melihat karakter topik yang sepemikiran dengan pendapat sebelumnya. Lain hal nya dengan Viotti dan Kauppi yang tidak memasukkan Thucidydes dalam tradisi pemikiran Realisme yang dirumuskannya karena dianggap Thucidydes adalah akar dari pemikiran Realisme, bukan cabang-cabang yang menjadi tahapan pemikiran.

Ekspansi NATO ke Eropa Timur adalah kasus yang diangkat Jackson dan Sorensen untuk menguji analisa pemikiran Realism dalam membaca kasus internasional. Selanjutnya, tinjauan kritis akan pemikiran Realisme juga dibahas pada bagian akhir dengan menggunakan teori Masyarakat Internasional dan Teori Emansipatori. Dialog akademik ini berujung pada penegasan pemikiran Realisme yang mengakui adanya perkembangan sistem politik internasional, akan tetapi tetap memberi penekanan pada penggunaan Kekuatan dan Kekuasaan Besar dalam sistem politik internasional.

Simpulan

Karakteristik Realisme yang digambarkan Jackson dan Sorensen kadang memberi peluang pada identifikasi penyempitan pandangan akan konsep dan tokoh dalam Ilmu Hubungan Internasional. Namun demikian, struktur bahasanya yang sederhana cukup memudahkan. Selain itu, penegasannya tentang asumsi dasar Realisme di awal dan akhir artikel adalah ide yang cerdas untuk menjaga imajinasi pembaca selama menjelajah tentang Realisme dan tradisi pemikirannya.

Jackson dan Sorensen merumuskan sketsa tradisi pemikiran Realisme berdasarkan karakter yang sejalan dengan pemikiran awal masing-masing dalam kelompok klasik, neoklasik, dan kontemporer/neorealis. Jelas terlihat bahwa rasionalitas subjektif adalah aspek yang berperan. Sehingga, ini bukan satu-satunya. Ada beberapa sketsa tradisi pemikiran lain berdasarkan rasionalitas subjektif akademisi lainnya dalam dialog akademik Realisme Ilmu Hubungan Internasional.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

___. (Desember 2007-Mei 2008). Jurnal Global Vol.9 No.2 Dinamika Fenomena Hubungan Internasional Pasca-Neoliberal. Depok: Universitas Indonesia

Baylis, John, & Smith, Steve. (2001). The Globalization of World Politic: 2nd Edition An Introduction to International Relation. New York: Oxford University Press

Dunne, Tim, Kurki, Milja, & Smith, Steve. (2013). International Relations Theories: Discipline and Diversity. United Kingdom: Oxford University Press

Hadi, Shaummil. (2008). Third Debate dan Kritik Positivisme dalam Ilmu Hubungan Internasional. Yogyakarta: Jalasutra

Jackson, Robert, & Sorensen, Georg. (2007). Introduction to International Relation: Theories and Approaches. New York: Oxford University Press

Jackson, Robert, & Sorensen, Georg. (2009). Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Steans, Jill, & Pettiford, Lloyd. (2009). Hubungan Internasional: Perspektif dan Tema, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Viotti, Paul R., & Kauppi, Mark V. (2010). International Relations Theory, 4th Edition. New York: Pearson Education

Internet:

http://www.bu.edu/phpbin/africa/profiles/app/details.php?id=62 pada 25 September 2013 pukul 21.20 WIB

http://pure.au.dk/portal/en/persons/georg-soerensen(dfe9f8e4-b2c8-4c97-8f87-20907b1f98bf).html, pada 25 September 2013, pukul 21.18 WIB

 


[1] Robert Jackson pernah mengajar di beberapa kampus di Amerika Utara, Eropa, dan Afrika, selain itu juga pernah menjadi konsultan bagi pemerintahan Inggris, Kanada, dan Denmark. Spesifikasi kajiannya dalam bidang etika internasional, hukum internasional, juga sejarah pemikiran internasional. Akses dari : http://www.bu.edu/phpbin/africa/profiles/app/details.php?id=62 pada 25 September 2013 pukul 21.20 WIB

[2] George Sorensen adalah seorang profesor di Departemen Ilmu Politik dan Pemerintahan, Aarhus University, Denmark. Hingga 2013, Sorensen sudah menulis sekitar 15 buku dan seratusan artikel yang berkaitan tentang kajian sosial dan politik, demokrasi, pembangunan, transformasi negara, dan hubungan internasional. Akses dari: http://pure.au.dk/portal/en/persons/georg-soerensen(dfe9f8e4-b2c8-4c97-8f87-20907b1f98bf).html, pada 25 September 2013, pukul 21.18 WIB

[3] Robert Jackson and Georg Sorensen, Introduction to International Relation: Theories and Approaches. New York, Oxford University Press: 2007, hal. 63

[4] Jackson and Sorensen, 2007, Ibid., hal. 65

[5] Jackson and Sorensen, 2007, Ibid., hal. 66

[6] Robert Jackson dan Georg Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hal. 99; terjemahan dari Jackson and Sorensen, 2007, Ibid., hal. 67

[7] Jackson and Sorensen, 2007, Ibid., hal. 67; yang dikembangkan dari konsep animus dominandi, istilah yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang ‘haus’ kekuasaan (Morgenthau: 1965, hal. 192)

[8] Jackson and Sorensen, 2007, Ibid., hal. 68

[9] Diringkas dari Robert Jackson and Georg Sorensen, 2007, Ibid., hal. 75

[10] Diringkas dari Robert Jackson and Georg Sorensen, 2007, Ibid., hal. 71-74

[11] Diringkas dari Robert Jackson and Georg Sorensen, 2007, Ibid., hal. 74-79

[12] Diringkas dari Robert Jackson and Georg Sorensen, 2007, Ibid., hal. 74

[13] Robert Jackson dan Georg Sorensen, 2009, Op Cit., hal. 88

[14] Diringkas dari Robert Jackson and Georg Sorensen, 2007, Op Cit., hal. 59-94

[15] Diringkas dari Paul R. Viotti dan Mark V. Kauppi, International Relations Theory, 4rd Edition, United States, Pearson Education, Inc.: 2010, hal. 42-45

[16] Richard Ned Lebow, “Classical Realism”, dalam Tim Dunne, Milja Kurki, dan Steve Smith, International Relations Theories: Discipline and Diversity, 3rd edition, United Kingdom, Oxford University Press: 2013, hal. 59

[17] Lebow, dalam Dunne, Kurki, dan Smith, 2013, Ibid., hal. 60

[18] Lebow, dalam Dunne, Kurki, dan Smith, 2013, Ibid., hal. 62-65

[19] Lebow, dalam Dunne, Kurki, dan Smith, 2013, Ibid., hal. 65-67

[20] Lebow, dalam Dunne, Kurki, dan Smith, 2013, Ibid., hal. 67

[21] Lebow, dalam Dunne, Kurki, dan Smith, 2013, Ibid., hal. 71

[22] Tim Dunne and Brian C. Schmidt, Chapter VII, “Realism”, dalam John Baylis and Steve Smith, The Globalization of World Politics, New York, Oxford University Press: 2001. Hal. 143

[23] Dunne and Schmidt, dalam Baylis and Smith, 2001, Ibid., hal. 155

[24] dikembangkan dari Dunne and Schmidt, dalam Baylis and Smith, 2001, Ibid., hal. 149, Tabel 7.1 “A Taxonomy of Realism”

[25] Jackson and Sorense, 2007, Op Cit., hal. 60

[26] Baylis and Smith, 2001, Op Cit., hal. 149

[27] Viotti dan Kauppi, 2010, Op Cit., hal. 44

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

huruf kecil

saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus.

ishaksalim

Just another WordPress.com site

jembatan merah

sejarah-budaya-pembangunan

kata.cerita.kita

karena tulisan itu selalu bersuara dengan tintanya, meski kita sudah tiada

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: